Menulis Non Fiksi?
Hm, tadinya enggan banget. Ogah banget.
Awalnyan mindset saya tentang menulis itu ya fiksi.
Cerpen, novelet, atau novel.
Bahkan saya berburu contoh-contoh naskah film dan skenario film.
Selalu ada yang menarik di dunia literasi
Tapi kemudian ada tantangan untuk menulis non fiksi
Hm, bagaimana ini?
Yo wis dicoba.
Awalnya satu ide bisa berkembang menjadi banyak ide.
Kenapa?
Karena ketika mencari bahan-bahan rujukan atau referensi atau bahan pustaka
ada banyak hal yang saya temukan dan pingin saya ulas menjadi sebuah tulisan.
Hehehehehehe, jadi bingung.
Gimana nggak bingung?
Idenya jadi bias, nggak bisa fokus
Oke, akhirnya saya coba untuk mencari bahan pustaka di internet.
Alamaaaaaaaaaaakkkk....
Jadi makin bias.
Begitu banyaknya bahan-bahan pustaka yang saya dapatkan.
Oke!
Waktunya untuk membuat klasifikasi.
Tadaaaaaaa!!!!
Jadilah beberapa topic, akhirnya maruk saya kumat.
Semuanya pengin diulas, semuanya pengin ditulis.
Sudah?
Sekarang waktunya bikin outline dan sasaran pembaca.
Hm, ada yang menari-nari di benak.
Antara menulis fiksi dangan bahasa yang lincah dan mengalir indah, dan non fiksi yang mengedepankan ilmu pengetahuan, realita, opini dan research.
Akhirnya...............................
Wow!
Menulis non Fiksi itu menyenangkan!
Tantangannya lebih terasa dibandingkan dengan menulis fiksi.
Bedanya?
Fiksi kita bisa bermain-main dengan khayalan kita.
Tapi Non Fiksi nggak bisaaaaaaaaaa......
Harus real, harus sesuai hasil research, harus mempertimbangkan berbagai opini
Dan yang paling penting, memberi khazanah ilmu pengetahuan atau yang sering disebut pencerahan.
Gitu ya?
Walhasil, banyak bab-bab tambahan yang harus di insert.....
Ups!
Saya menikmatinya.
Tunggu hasilnya ya!
Yuk ah!
Menulis lagi
Minggu, 02 Februari 2014
Jumat, 31 Januari 2014
Menulis yuk!
Menulis?
Iya.
Menulis itu ternyata mempunya magnet yang misterius lho. Setidaknya itu bagiku.
Dulu,
waktu masih sekolah, bahkan sampai kuliah, meski semua kuliahku berakhir dengan DO. :'(
paling empet alias nggak suka dengan pelajaran Bahasa Indonesia. Apalagi Tata Bahasa. Aiiihhh... Lumayan sih, ada pelajaran Sastra waktu di SMP, jadi agak sedikit membuka minat. Tapi...
Hehehe ada tapinya juga.
Kalau sudah yang namanya mengarang. Temanya ditentukan, jumlah kalimatnya ditentukan, apalagi harus membuat kerangka karangan. Kayanya lebih memilih disuruh nyangkul di kebun deh. Empeeeet bwanget.
Thanks to socmed.
Akhirnya aku jadi suka menulis.
Awalnya hanya chating lewat yahoo messenger, kemudian tergabung dalam berbagi forum. Aku suka banget sama diskusi. Nah! Setelah tergabung dalam berbagai forum itu, mau tak mau aku harus ikut-ikutan menulis kan? Kemudian forum-forum itu menggiringku pada beberapa blog.
Next step! Aku tertarik untuk membuat blog.
Awalnya aku menulis segala keluh kesah dalam pekerjaan di blog-ku. Karena kebetulan aku menjadi satu korban konspirasi di tempatku bekerja dulu. Eh, ternyata berkeluh kesah itu membuatku bosan yang sebosan-bosannya.
Gantoooooos,
Kututup blog itu dan membuat blog baru. Ya blog ini.
Aku jadi suka berbagi apapun yang ada di dalam pikiranku di blog ini.
Nah! Di pesbuk, aku berteman dengan orang yang sosoknya kecil, tapi karyanya bwesaaar. Namanya mas Redy Kuswanto. Ida desainer pakaian batik eksklusif di Yogya, pengelona Museum Anak Kolong Tangga, Redaktur majalah anak Kelereng, penulis Budaya di beberapa media, juga tutor sebuah kelas online penulisan novel. Wow! Dialah yang memprovokasiku untuk menulis, membuat cerpen, sampai akhirnya menerbitkan sebuah buku kumpulan cerpan.
Hahahahahahahahahahahahahaha
Ajaib! Aku jadi suka menulis.
Buntutnya, aku bergabung dengan beberapa group penulis dan menulis di pesbuk itu. Berteman dengan beberapa penulis yang mengagumkan. Iseng-iseng ikut kompetisi menulis. Meski sampai sekarang belum juga ada yang jadi nominator, apalagi menang.
Tapi ada hal lain, yang aku rasakan saat aku menulis. Seperti mengobrak-abrik isi otak sendiri, dan aku sangat menikmatinya.
Beberapa puisi dan cerpenku disambut baik di beberapa group yang kuikuti. Terus ada yang provokasi untuk kirim naskah ke media. Sudah sih, tapi belum ada yang bisa tembus.
Akhirnya, aku keranjingan menulis.
Menulis itu menghilangkan stres lho. Asli! Sumpah! Beneran! Nggak bo'ong!
Menulis lagi aaahhh...
Iya.
Menulis itu ternyata mempunya magnet yang misterius lho. Setidaknya itu bagiku.
Dulu,
waktu masih sekolah, bahkan sampai kuliah, meski semua kuliahku berakhir dengan DO. :'(
paling empet alias nggak suka dengan pelajaran Bahasa Indonesia. Apalagi Tata Bahasa. Aiiihhh... Lumayan sih, ada pelajaran Sastra waktu di SMP, jadi agak sedikit membuka minat. Tapi...
Hehehe ada tapinya juga.
Kalau sudah yang namanya mengarang. Temanya ditentukan, jumlah kalimatnya ditentukan, apalagi harus membuat kerangka karangan. Kayanya lebih memilih disuruh nyangkul di kebun deh. Empeeeet bwanget.
Thanks to socmed.
Akhirnya aku jadi suka menulis.
Awalnya hanya chating lewat yahoo messenger, kemudian tergabung dalam berbagi forum. Aku suka banget sama diskusi. Nah! Setelah tergabung dalam berbagai forum itu, mau tak mau aku harus ikut-ikutan menulis kan? Kemudian forum-forum itu menggiringku pada beberapa blog.
Next step! Aku tertarik untuk membuat blog.
Awalnya aku menulis segala keluh kesah dalam pekerjaan di blog-ku. Karena kebetulan aku menjadi satu korban konspirasi di tempatku bekerja dulu. Eh, ternyata berkeluh kesah itu membuatku bosan yang sebosan-bosannya.
Gantoooooos,
Kututup blog itu dan membuat blog baru. Ya blog ini.
Aku jadi suka berbagi apapun yang ada di dalam pikiranku di blog ini.
Nah! Di pesbuk, aku berteman dengan orang yang sosoknya kecil, tapi karyanya bwesaaar. Namanya mas Redy Kuswanto. Ida desainer pakaian batik eksklusif di Yogya, pengelona Museum Anak Kolong Tangga, Redaktur majalah anak Kelereng, penulis Budaya di beberapa media, juga tutor sebuah kelas online penulisan novel. Wow! Dialah yang memprovokasiku untuk menulis, membuat cerpen, sampai akhirnya menerbitkan sebuah buku kumpulan cerpan.
Hahahahahahahahahahahahahaha
Ajaib! Aku jadi suka menulis.
Buntutnya, aku bergabung dengan beberapa group penulis dan menulis di pesbuk itu. Berteman dengan beberapa penulis yang mengagumkan. Iseng-iseng ikut kompetisi menulis. Meski sampai sekarang belum juga ada yang jadi nominator, apalagi menang.
Tapi ada hal lain, yang aku rasakan saat aku menulis. Seperti mengobrak-abrik isi otak sendiri, dan aku sangat menikmatinya.
Beberapa puisi dan cerpenku disambut baik di beberapa group yang kuikuti. Terus ada yang provokasi untuk kirim naskah ke media. Sudah sih, tapi belum ada yang bisa tembus.
Akhirnya, aku keranjingan menulis.
Menulis itu menghilangkan stres lho. Asli! Sumpah! Beneran! Nggak bo'ong!
Menulis lagi aaahhh...
Selasa, 28 Januari 2014
Surat Untuk Stiletto Book
Dear Stiletto
Selamat pagi Stiletto.
Pandanglah di ufuk timur, sobat.
Kau tahu, mentari membias
warna-warna indahknya di tetes embun yang menggayuti ujung daun bambu. Indah
bukan? Seindah harapku saat kueja namamu. Seindah tungkai-tungkai halus yang
tergambar menjulang lewat puncak-puncak pesonamu. Kau telah pesonakanku, sobat.
Stiletto.
Pagi telah beranjak. Sinar mentari
mulai terasa hangat di punggung. Mencairkan beku angin malam yeng mebuatku
enggan beranjak di awal pagi tadi. Dan kubuka lembar demi lembar kekaguman yang
pernah kau semai di pikiranku. Aku ingin mengenalmu. Boleh kan? Karena aku menyukai bias-bias warna
yang sering menghiasi halaman-halaman facebook-mu. Indah sobat. Menarik, sangat
menarik. Sampul-sampul novel itu mengguratkan pesona yang melambungan anganku.
Angan untuk turut mengisi lembar demi lembar yang akan kau balut dengan
warna-warna indah itu.
Mungkinkah?
Karena mataku menatap selarik
kalimat yang membuat leherku tegak, dahiku mengkerut dan memaksa mataku untuk
menyipit. “Penerbit Buku Perempuan.”
Ah, Stiletto.
Kalimat itu secara mencabik-cabik
harapku. Kenapa harus perempuan? Huh! Stiletto diskrimitatif, Stiletto
pilih-pilih, Stiletto tidak fair! Maaf ya, sobat. Aku jadi merutuk, aku kecewa,
aku dongkol, aku jengkel. Kau surutkan kembali hasratku merangkai kata tentang
keelokan bidadari. Bidadari perkasa yang telah melahirkanku, bidadari anggun yang
kuharap menjadi permaisuri bagiku, juga bidadari mungil yang kuharap mewarnai
hari-hariku. Bidadari yang tak akan pernah usai kisahnya. Bidadari yang tak akan
pernah lelah menebar pesonanya. Bidadari yang selalu menebar wangi dengan
selendang warna-warninya, dengan tungkai-tungkai indahnya, menghias larik-larik
cakrawala bersama titian indahnya pelangi.
Ah, tidak. Aku harus mengejarmu,
meminta konfirmasi atas kalimatmu itu.
“Kami megutamakan penulis wanita.
Tapi bisa juga penulis pria, asal kontennya sangat perempuan dari sudut pandang kami.”
Betul kan? Aku masih bisa berharap untuk
merangkai kata tentang bidadari itu. Bidadari yang perkasa, bidadari yang
anggun, bidadari yang meliuk-liuk dalam terpaan angin namun tetap kokoh
berdiri, bidadari centil yang yang mudah jatuh dalam bujuk rayu, bidadari yang
sibuk menggali jatidiri. Ah, begitu banyak bidadari yang kukagumi, yang ingin
kulukis dengan kalimatku. Untukmu sobat.
Stiletto. Siang mulai menyengat
sobat.
Mataku menangkap bidadari-bidadari
yang sedang mewarnai hari, melukis keindahan, menorehkan kisah-kisah hidupnya
masing-masing. Biarkan aku mendekat. Boleh kan? Akan kusadur kisah-kisah mereka dalam
benakku. Biarkan kugali sisi-sisi inspiratif dalam jejak-jejak langkah mereka.
Ini bukan dosa, kan?
Stiletto.
Warna malam datang perlahan. Temani
aku terjaga, kawan. Biar kuselesaikan dulu kisah tentang Serenada Dewi yang
sedang mengejar bintangnya. Cerita yang anggun, kawan. Tapi ini ditulis oleh
novelis pria ya? Oke. Aku tahu. Baiklah,
Stillo. Ah, aku jadi ikut-ikutan memanggilmu Stillo. Boleh kan?
Kamu mau kopi? Bisar kuseduh
secangkir untukmu. Sementara biar kuisi pikiranku tentang kiprah bidadari yang
terrekam dalam ingatanku. He he he, kau begitu cantik dengan secangkir kopi di
tanganmu, kawan. Duduklah! Biarkan kuselesaikan rangkaian kalimatku yang
bersajak indah. Tentang bidadari-bidadari yang menyapa di kedalaman sanubariku.
Kuharap, suara jari jemariku yang menari di petak-petak kecil di depan layar
komputerku ini tak mengusikmu. Berisik memang. Tapi bukankah kau sudah terbiasa
dengan itu, kawan? Baiklah, aku lanjutkan sambil menunggu malam mendaki
puncaknya.
Stillo.
Kau mengantuk ya. Baiklah,
beristirahatlah. Aku tahu, malam sudah mulai menuruni puncaknya. Baringkan saja
seluruh penatmu. Kumpulkan kembali staminamu. Esok pagi, masih banyak
kabar-kabar dan cerita-cerita indah tentang bidadari. Kau tahu kan? Bahwa tak hanya
perempuan yang menyukai buku-buku dari dapur publishermu. Ada banyak kaum-kaum perkasa yang juga
menyukai buku-bukumu.
Baiklah Stillo.
Rapatkan selimutmu, kawan. Agar hawa
dingin tak menyusup ke dalam tulangmu. Yang membuatmu enggan beradu dengan sang
fajar. Jari-jariku masih betah bercumbu dengan kotak-kotak mungil di depan
layar komputerku. Kuyakin, suatu saat nanti, akan ada rangkaian kata indahku
tentang bidadari, yang akan kau kemas dengan indah sampul-sampul anggunmu.
Selamat malam kawan. Selamat
merangkai mimpi indah.
Semoga esok hari kita bisa
bergandengan tangan. Pemandangan anggun yang sangat aku harapkan. www.stilettobook.com
With Love
Aang M. M. Syafii
aang.ememes@gmail.com
With Love
Aang M. M. Syafii
aang.ememes@gmail.com
Senin, 20 Januari 2014
Catatan Januari 2014
Januari = Hujan sehari-hari?
Mungkin benar, mungkim juga tidak.
Khusus Januari 2014 ini, jargon itu benar adanya.
Hujan yang tak henti-henti hampir di seluruh wilayah tanah air, membuat berita tentang banjir marak menghiasi media. Baik media elektronik, maupun media cetak.
Dalam bahasa Jawa, ada pepatah mengatakan, Kriwikan dadi grojogan. Sedangkan dalam bahasa Indonesia, kita mengenal pepatah, Kecil jadi kawan, besar jadi lawan.
Tapi? Ada tapinya juga lho.
Fenomena sekarang, banyak yang menyalahkan banjir kepada pemimpin daerah? **tepok-tepok jidat deh.
Harusnya, justru melaihat kepada masa kepemimpinan sebelumnya. Bagaimana dia mengelola alam yang akan menolong kita dari bencana?
Kalau di Bali, Umat Hindu mengenal adanya Tri Hita Karana. Jadi, keseimbangan alam masuk dalam tatanan dan ajaran agama yang dipegang teguh umat Hindu. Buktinya? Pernahkah kita mendengar berita bencana terjadi di Bali? Nyaris tak pernah kan? Karena mereka menjadikan alam sebagai partner hidup. Sahabat dan sumber daya yang harus dipelihara. Tapi tidak sekedar slogan, mereka merealisasikannya.
Nggak jauh-jauh deh.
Tak jauh dari kampung halamanku, dulu ada perkebunan karet. Tepatnya di wilayah kecamatan Mijen. Tapi sekarang, perkebunan tersebut sudah menjadi kawasan elit BSB, Bukit Semarang Baru.
Nah! Akibatnya. Hampir mustahil bagi kota-kota di bawahnya - Semarang, Kaliwungu-Kendal- untuk lepas dari cengkeraman banjir saat musim hujan tiba.
Jadi..........................
Bagaimana alam terhadap kita, itu tergantung bagaimana kita terhadap alam bukan?
Kita bersahabat dan menjaga kelestariannya, maka alam akan menjadi sahabat dan melindungi kita.
Kita semene-mena, sombong dan arogan terhadap alam, ya lihat saja pembalasan Sang alam kepada kita.
He.he..he..he..maaf, catatan ini tidak bermaksud menggurui lho. Tapi mengajak kita kembali mengingat pelajaran di Sekolah Dasar dulu. Bahwa, penebangan hutan, hutan gundul dan teman-temannya, bisa menyebabkan banjir, erosi dan tanah longsor. Begitu kan yang kita pelajari dulu?
Ah, tapi itu kan dulu.
Sekarang kita-kita sudah pinter, mahir, dan berkuasa. Jadi boleh dong melupakan pelajaran itu?
Hehehehehehe, memangnya kita lahir langsung berlari ya? Nggak inget kalau kita merangkak, dan belajar tertatih-tatih sampai dengan bisa berlari.
***sayup sayup terdengar lagu lama
" atau alam mulai enggan, bersahabat dengan kita........"
Kita yang yang memusuhi alam atau alam yang memusuhi kita? Hayoooo, jawabnya ada di nurani kita masing-masing kok.
Salaaaaammmm...
"lestari alamku, lestari desaku..........................." semoga.
Mungkin benar, mungkim juga tidak.
Khusus Januari 2014 ini, jargon itu benar adanya.
Hujan yang tak henti-henti hampir di seluruh wilayah tanah air, membuat berita tentang banjir marak menghiasi media. Baik media elektronik, maupun media cetak.
Dalam bahasa Jawa, ada pepatah mengatakan, Kriwikan dadi grojogan. Sedangkan dalam bahasa Indonesia, kita mengenal pepatah, Kecil jadi kawan, besar jadi lawan.
Tapi? Ada tapinya juga lho.
Fenomena sekarang, banyak yang menyalahkan banjir kepada pemimpin daerah? **tepok-tepok jidat deh.
Harusnya, justru melaihat kepada masa kepemimpinan sebelumnya. Bagaimana dia mengelola alam yang akan menolong kita dari bencana?
Kalau di Bali, Umat Hindu mengenal adanya Tri Hita Karana. Jadi, keseimbangan alam masuk dalam tatanan dan ajaran agama yang dipegang teguh umat Hindu. Buktinya? Pernahkah kita mendengar berita bencana terjadi di Bali? Nyaris tak pernah kan? Karena mereka menjadikan alam sebagai partner hidup. Sahabat dan sumber daya yang harus dipelihara. Tapi tidak sekedar slogan, mereka merealisasikannya.
Nggak jauh-jauh deh.
Tak jauh dari kampung halamanku, dulu ada perkebunan karet. Tepatnya di wilayah kecamatan Mijen. Tapi sekarang, perkebunan tersebut sudah menjadi kawasan elit BSB, Bukit Semarang Baru.
Nah! Akibatnya. Hampir mustahil bagi kota-kota di bawahnya - Semarang, Kaliwungu-Kendal- untuk lepas dari cengkeraman banjir saat musim hujan tiba.
Jadi..........................
Bagaimana alam terhadap kita, itu tergantung bagaimana kita terhadap alam bukan?
Kita bersahabat dan menjaga kelestariannya, maka alam akan menjadi sahabat dan melindungi kita.
Kita semene-mena, sombong dan arogan terhadap alam, ya lihat saja pembalasan Sang alam kepada kita.
He.he..he..he..maaf, catatan ini tidak bermaksud menggurui lho. Tapi mengajak kita kembali mengingat pelajaran di Sekolah Dasar dulu. Bahwa, penebangan hutan, hutan gundul dan teman-temannya, bisa menyebabkan banjir, erosi dan tanah longsor. Begitu kan yang kita pelajari dulu?
Ah, tapi itu kan dulu.
Sekarang kita-kita sudah pinter, mahir, dan berkuasa. Jadi boleh dong melupakan pelajaran itu?
Hehehehehehe, memangnya kita lahir langsung berlari ya? Nggak inget kalau kita merangkak, dan belajar tertatih-tatih sampai dengan bisa berlari.
***sayup sayup terdengar lagu lama
" atau alam mulai enggan, bersahabat dengan kita........"
Kita yang yang memusuhi alam atau alam yang memusuhi kita? Hayoooo, jawabnya ada di nurani kita masing-masing kok.
Salaaaaammmm...
"lestari alamku, lestari desaku..........................." semoga.
Jumat, 13 September 2013
Indonesia Tanah Air Beta
Bukan anti televisi, tapi aku memang kurang suka nonton televisi.
Terlebih program-program televisi yang ada masih belum mengakomodir keinginanku akan program-program televisi yang edukatif dan memacu pola pikir produktif, inovatif dan kreatif.
Yang banyak justru kuis-kuis yang mendorong pola pikir pemalas
Sinetron yang justru memicu pola pikir konsumtif dan apatis
Program program untuk kaum muda yang tidak jelas juntrungannya
Pokoknya televisi itu lebih banyak madharatnya dibanding manfaatnya.
Eh, secara tak sengaja aku nonton tivi yang merupakan akar pertelevisian Indonesia yang justru sudah semakin dilupakan (atau tepatnya memang dibuat terlupakan oleh kaum kapitalis liberalis), yaitu TVRI.
Secara kebetulan juga aku melihat ada sosok yang menjadi idolaku sejak dulu, Slamet Rahardjo dan Arswendo Atmowiloto di program "Tanah Air Beta"
Satu yang aku garis bawahi dari program tersebut adalah bahwa, secara format Rakyat Indonesia sudah merdeka. Merdeka dari penjajahan Belanda.
Tetapi justru masuk ke dalam cengkeraman penjajahan bangsa sendiri.
Pada satu moment peringatan Hari Kemerdekaan RI (entah tahunnya berapa) hadirlah tamu kehormatan pengukir sejarah dunia, yaitu Mahatma Gandhi.
Gandhi mengatakan sesuatu kepada Soekarno, ada penjajahan yang harus lebih diwaspadai, yaitu penjajahan dari dalam bangsa sendiri. Sekarang. nyata nggak apa yang dibilang Gandhi?
Topik melebar menjadi wacana tentang pemimpin bangsa yang ideal.
Sebenarnya sederhana saja. Peminpin bangsa adalah peminpin yang bisa mewujudkan cita-cita bangsa ini untuk merdeka, yaitu merdeka dari ketakutan alias mendapat jaminan rasa aman. Merdeka dari kesengsaraan alias sejahtera, merdeka dari kebodohan alias semua mendapatkan kemudahan akses atas pendidikan, barulah kita turut berperan dalam percaturan dunia. Ah, bukakah cita-cita itu sudah kita pelajari sejak SD karena ada di Pembukaan UUD 45. Mungkin karena rentang waktu yang panjang sehingga para pemimpin kita banyak yang sudah lupa.
Logikanya, konon katanya, bumi Pertiwi ini kaya raya, sumber alamnya melimpah ruah yang tak akan habis dipakai untuk kesejahteraan putra putri pertiwi. Tapi nyatanya?
Satu lagi. Kita, bangsa ini, atau entah siapa yang mempelopori, sudah lupa akan jati diri kita sendiri.
Ingat kah bahwa kita adalah negara agraris, negara maritim? Tapi justru tulang punggung dan ujung tombaknya terabaikan. Hidup dalam kemelaratan. Siapa? Ya petani dan nelayan kita? Lupa ya?
Nah, secara spiritual, akan jadi apa manusia yang melupakan jati dirinya?
Lalu akan jadi apa pula bangsa yang lupa akan jati dirinya?
Maaf, saya hanya bisa prihatin dan mengelus dada.
Terima kasih TVRI, Slamet Rahardjo, Arswendo Atmowiloto yang sudah memberikan siraman sejuk dalam wacana pikiranku.
Terlebih program-program televisi yang ada masih belum mengakomodir keinginanku akan program-program televisi yang edukatif dan memacu pola pikir produktif, inovatif dan kreatif.
Yang banyak justru kuis-kuis yang mendorong pola pikir pemalas
Sinetron yang justru memicu pola pikir konsumtif dan apatis
Program program untuk kaum muda yang tidak jelas juntrungannya
Pokoknya televisi itu lebih banyak madharatnya dibanding manfaatnya.
Eh, secara tak sengaja aku nonton tivi yang merupakan akar pertelevisian Indonesia yang justru sudah semakin dilupakan (atau tepatnya memang dibuat terlupakan oleh kaum kapitalis liberalis), yaitu TVRI.
Secara kebetulan juga aku melihat ada sosok yang menjadi idolaku sejak dulu, Slamet Rahardjo dan Arswendo Atmowiloto di program "Tanah Air Beta"
Satu yang aku garis bawahi dari program tersebut adalah bahwa, secara format Rakyat Indonesia sudah merdeka. Merdeka dari penjajahan Belanda.
Tetapi justru masuk ke dalam cengkeraman penjajahan bangsa sendiri.
Pada satu moment peringatan Hari Kemerdekaan RI (entah tahunnya berapa) hadirlah tamu kehormatan pengukir sejarah dunia, yaitu Mahatma Gandhi.
Gandhi mengatakan sesuatu kepada Soekarno, ada penjajahan yang harus lebih diwaspadai, yaitu penjajahan dari dalam bangsa sendiri. Sekarang. nyata nggak apa yang dibilang Gandhi?
Topik melebar menjadi wacana tentang pemimpin bangsa yang ideal.
Sebenarnya sederhana saja. Peminpin bangsa adalah peminpin yang bisa mewujudkan cita-cita bangsa ini untuk merdeka, yaitu merdeka dari ketakutan alias mendapat jaminan rasa aman. Merdeka dari kesengsaraan alias sejahtera, merdeka dari kebodohan alias semua mendapatkan kemudahan akses atas pendidikan, barulah kita turut berperan dalam percaturan dunia. Ah, bukakah cita-cita itu sudah kita pelajari sejak SD karena ada di Pembukaan UUD 45. Mungkin karena rentang waktu yang panjang sehingga para pemimpin kita banyak yang sudah lupa.
Logikanya, konon katanya, bumi Pertiwi ini kaya raya, sumber alamnya melimpah ruah yang tak akan habis dipakai untuk kesejahteraan putra putri pertiwi. Tapi nyatanya?
Satu lagi. Kita, bangsa ini, atau entah siapa yang mempelopori, sudah lupa akan jati diri kita sendiri.
Ingat kah bahwa kita adalah negara agraris, negara maritim? Tapi justru tulang punggung dan ujung tombaknya terabaikan. Hidup dalam kemelaratan. Siapa? Ya petani dan nelayan kita? Lupa ya?
Nah, secara spiritual, akan jadi apa manusia yang melupakan jati dirinya?
Lalu akan jadi apa pula bangsa yang lupa akan jati dirinya?
Maaf, saya hanya bisa prihatin dan mengelus dada.
Terima kasih TVRI, Slamet Rahardjo, Arswendo Atmowiloto yang sudah memberikan siraman sejuk dalam wacana pikiranku.
Kamis, 05 September 2013
Indonesia Mengajar. Haaaaaa????................
Tahu kan, tentang program Indonesia Mengajar?
Itu lho sekumpulan orang-orang hebat negeri ini yang bersuka rela keluar masuk pelosok negeri untuk membantu mencerdaskan generasi yang menjadi embrio negeri tercinta -konon katanya-.
Nah, suatu malem nih, aku disemes oleh orang yang sudah menjadi bagian dari inspirasi dan motivasiku begini : "Alhamdulillah, hebatnya mas Aang ikut dalam Indonesia Mengajar, tadi saya ngajar anak-anak PKL SMK bikin Cerpen"
Haaaaaaaa? Guweeeeeh? Ikutan dalam Indonesia mengajar? Bersama-sama orang-orang hebat itu?
Aaaahhhh, mimpi kaleeeeeeeeeeeeee..............
(-Alhamdulillah nih jari ngga kepleset ngetik Endonesa, apalagi Endonenong....maap...maap....maap Ibu Pertiwiku, itu bukan tentangmu kok, kalau aku menulis itu tentu tentang para pembesar negeri yang harusnya membahagiakanmu, tapi nyatanya mereka malah membuatmu nelangsa.)
Tapi ternyata beliau menyambung semesannya, : " oh, bukan itu.maksud saya mas Aang juga mengajar anak-anak penerus bangsa kok, gak kalah hebat dengan mereka."
Wow......tersandung deh, ups, salah! Tersanjung maksudnya....
Gimana tidak? Aku, yang mengajar di sekolah kecil, di tempat terpencil, di kampung terkucil, dan muridnya juga rakyat kecil, dinilainya sudah berperan dalam memajukan generasi? Alhamdulillah.
Hmmm, aku adalah guru hononer di sebuah MTs Swasta, mengajar TIK, Tehnologi Informasi dan Komunikasi. Satu mata pelajaran yang konon katanya dihilangkan dari Kurikulum SMP tahun 2013. Alamaaaaakkkk.........
TIK diajarkan sejak dini aja kita masih ketinggalan jauh di bidang IT kok, dari India misalnya, Vietnam, bahkan Si Jiran. gimana kalau dihilangkan. Generasi kita harus kembali ke jaman Singosari? Weleh weleeeeehhhh...
Ah tapi tak akan menyurutkanku untuk mengajar anak-anak di kampung terpencilku ini. Alhamdulillah, meski di dusun, tempatku mengajar sudah punya Lab. Komputer, jadi aku masih tetep bisa mengenalkan IT kepada mereka.
Semangat ya caaaaaaaahhhhhhhhhhhhhh....
Ayoooo ke Labkom!
Yang main game ntar tak jewer sampe kupingnya panjang kaya kelinci ya.
Itu lho sekumpulan orang-orang hebat negeri ini yang bersuka rela keluar masuk pelosok negeri untuk membantu mencerdaskan generasi yang menjadi embrio negeri tercinta -konon katanya-.
Nah, suatu malem nih, aku disemes oleh orang yang sudah menjadi bagian dari inspirasi dan motivasiku begini : "Alhamdulillah, hebatnya mas Aang ikut dalam Indonesia Mengajar, tadi saya ngajar anak-anak PKL SMK bikin Cerpen"
Haaaaaaaa? Guweeeeeh? Ikutan dalam Indonesia mengajar? Bersama-sama orang-orang hebat itu?
Aaaahhhh, mimpi kaleeeeeeeeeeeeee..............
(-Alhamdulillah nih jari ngga kepleset ngetik Endonesa, apalagi Endonenong....maap...maap....maap Ibu Pertiwiku, itu bukan tentangmu kok, kalau aku menulis itu tentu tentang para pembesar negeri yang harusnya membahagiakanmu, tapi nyatanya mereka malah membuatmu nelangsa.)
Tapi ternyata beliau menyambung semesannya, : " oh, bukan itu.maksud saya mas Aang juga mengajar anak-anak penerus bangsa kok, gak kalah hebat dengan mereka."
Wow......tersandung deh, ups, salah! Tersanjung maksudnya....
Gimana tidak? Aku, yang mengajar di sekolah kecil, di tempat terpencil, di kampung terkucil, dan muridnya juga rakyat kecil, dinilainya sudah berperan dalam memajukan generasi? Alhamdulillah.
Hmmm, aku adalah guru hononer di sebuah MTs Swasta, mengajar TIK, Tehnologi Informasi dan Komunikasi. Satu mata pelajaran yang konon katanya dihilangkan dari Kurikulum SMP tahun 2013. Alamaaaaakkkk.........
TIK diajarkan sejak dini aja kita masih ketinggalan jauh di bidang IT kok, dari India misalnya, Vietnam, bahkan Si Jiran. gimana kalau dihilangkan. Generasi kita harus kembali ke jaman Singosari? Weleh weleeeeehhhh...
Ah tapi tak akan menyurutkanku untuk mengajar anak-anak di kampung terpencilku ini. Alhamdulillah, meski di dusun, tempatku mengajar sudah punya Lab. Komputer, jadi aku masih tetep bisa mengenalkan IT kepada mereka.
Semangat ya caaaaaaaahhhhhhhhhhhhhh....
Ayoooo ke Labkom!
Yang main game ntar tak jewer sampe kupingnya panjang kaya kelinci ya.
Sabtu, 13 Juli 2013
Siapakah Kita?
Satu per satu mereka pergi meninggalkanmu,
Tinggal aku, dengan langkah berat akupun harus tinggalkanmu.
Bapak, mohon pamit, semoga engkau damai bersamaNya....
Aku beranjank setelah selesai Al Mulk terbaca lirih dari lisanku.
Langkahku perlahan.
Bapak...
Kau ingatkan aku akan sesuatu atas apa yang telah kulihat pada jasadmu hari ini.
Ketika ruh terlepas dari raga
Melepas bajupun kita tak mampu, sehingga orang lain yang harus melepasnya
Mandipun kita tak mampu, sehingga orang lain yang harus memandikannya
Berwudlupun kita tak mampu, sehaingga orang lain yang harus mewudlukannya
Berpakaianpun (meski hanya berkain kafan) kita tak mampu, sehingga orang lain harus melakukannya untuk ita.
Berdoapun ita tak mampu, sehingga orang lainlah yang berdoa untuk kita.
Berjalan apalagi, sehingga orang lain harus menggotong kita menuju peristirahatan terakhir.
Bahkan! Menguburkan diri sendiripun kita tak mampu pula.
Sehingga!! Orang lain yang harus menguburkan kita.
Jadi, panstaskan kita semena-mena terhadap orang lain?
Pantaskah kita merasa berkuasa atas orang lain?
Pantaskah kita angkuh dan sombong pada orang lain?
Pantaskah kita menaruh benci pada orang lain?
Sedangkan
Kita tak pernah tahu, siapa yag akan melakukan itu semua untuk kita
memandikan, mengkafani, mengantar, menguburkan dan berdoa untuk kita.
Bisa jadi ia adalah orang yang paling kita benci
Orang yang pernah kita aniaya atau bahkan orang yang kita hinakan.
Saat itu
Sudah tak bisa lagi sesal dan maaf kita ucapkan.
Astaghfirullah
Tinggal aku, dengan langkah berat akupun harus tinggalkanmu.
Bapak, mohon pamit, semoga engkau damai bersamaNya....
Aku beranjank setelah selesai Al Mulk terbaca lirih dari lisanku.
Langkahku perlahan.
Bapak...
Kau ingatkan aku akan sesuatu atas apa yang telah kulihat pada jasadmu hari ini.
Ketika ruh terlepas dari raga
Melepas bajupun kita tak mampu, sehingga orang lain yang harus melepasnya
Mandipun kita tak mampu, sehingga orang lain yang harus memandikannya
Berwudlupun kita tak mampu, sehaingga orang lain yang harus mewudlukannya
Berpakaianpun (meski hanya berkain kafan) kita tak mampu, sehingga orang lain harus melakukannya untuk ita.
Berdoapun ita tak mampu, sehingga orang lainlah yang berdoa untuk kita.
Berjalan apalagi, sehingga orang lain harus menggotong kita menuju peristirahatan terakhir.
Bahkan! Menguburkan diri sendiripun kita tak mampu pula.
Sehingga!! Orang lain yang harus menguburkan kita.
Jadi, panstaskan kita semena-mena terhadap orang lain?
Pantaskah kita merasa berkuasa atas orang lain?
Pantaskah kita angkuh dan sombong pada orang lain?
Pantaskah kita menaruh benci pada orang lain?
Sedangkan
Kita tak pernah tahu, siapa yag akan melakukan itu semua untuk kita
memandikan, mengkafani, mengantar, menguburkan dan berdoa untuk kita.
Bisa jadi ia adalah orang yang paling kita benci
Orang yang pernah kita aniaya atau bahkan orang yang kita hinakan.
Saat itu
Sudah tak bisa lagi sesal dan maaf kita ucapkan.
Astaghfirullah
"...AJARI KAMI..." --- Kang Dwin
Assalamu'alaykum...
"...AJARI KAMI..."
Malam ini, menyaksikan sebuah acara di stasiun TV dengan tema KONTROVERSI RUU ORMAS.
Didalam acara debat ini...3 orang tua berdebat sengit dengan emosi tinggi dengan 3 orang tua lainnya dan para penontonnya adalah para mahasiswa....ya para pemuda.
Disaat para orang tua berdebat dan berbicara bersamaan dengan emosi sehingga tidak ada satupun yg mau saling mendengar karena kedua telinga mereka tertutup oleh nafsunya lisan untuk mengalahkan lawannya. Dan disaat itu............terdengar tepuk tangan yang meriah dari para mahasiswa/wi atas pertunjukan yang hanya akan MENGERASKAN HATI...
Perbedaan pendapat merupakan hal yg wajar karena memang ALLAH telah berikan otak bagi diri setiap manusia....terdapat milyaran otak didunia ini yang masih hidup dan lebih dari trilyunan jumlah otak yang telah ALLAH ciptakan...
" Jikalau Tuhan-mu menghendaki, tentu DIA menjadikan manusia umat yang satu, tetapi manusia senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu..."
[Qur'an Surat. Hûd (11) ayat 118-119]
Tidak heran karena masing2 memiliki otak atau CPU (istilah ilmu komputer) sehingga setiap diri manusia akan memiliki pendapat masing2 yang berbeda.
Bayangkan bila ALLAH ciptakan hanya satu otak untuk digunakan bersama oleh seluruh manusia dimuka bumi...
Sungguh acara debat yang diselenggarakan tidak akan mendapatkan SOLUSI TERBAIK kecuali rasa benci diantara saudara akibat perdebatan. Apalagi pihak media yang harusnya menjadi penyelaras bahkan malah memberi semangat agar perdebatan makin meriah...
Wahai orang tua...
...kami masih muda dan butuh ilmu bijak darimu...
......ajari kami kebijakan...
..........ajari kami persaudaraan dan kasih sayang...
......sebagaimana orang tua terdahulu mengajari beliau-beliau saat menjadi anak-anak...
.....Sehingga kami dapat membangun peradaban negri yang baik, yang akan kami wariskan kepada anak-cucu kami...
....Karena negri ini tidak akan maju diatas keahlian berdebat melainkan diatas kerjasama untuk kerja keras...
... kami tidak butuh ilmu BERDEBAT...
......kami butuh ilmu cara BERBAGI NASIHAT...
.........Karena BERDEBAT MEMATIKAN HATI KAMI...
.............Karena BERDEBAT adalah cara orang yang memiliki NAFSU YANG LEBIH BESAR daripada ILMUNYA...
Wahai orang tua...
...ajari kami.....sebuah KASIH SAYANG....
sebagaimana ALLAH telah mengajari...
"Dan orang-orang yang BERIMAN adalah yang saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk BERKASIH SAYANG" [Qur'an Surat Al Balad (90) ayat 17]
Semoga bermanfaat...
Wassalamu'alaykum...
Kang Dwin
"...AJARI KAMI..."
Malam ini, menyaksikan sebuah acara di stasiun TV dengan tema KONTROVERSI RUU ORMAS.
Didalam acara debat ini...3 orang tua berdebat sengit dengan emosi tinggi dengan 3 orang tua lainnya dan para penontonnya adalah para mahasiswa....ya para pemuda.
Disaat para orang tua berdebat dan berbicara bersamaan dengan emosi sehingga tidak ada satupun yg mau saling mendengar karena kedua telinga mereka tertutup oleh nafsunya lisan untuk mengalahkan lawannya. Dan disaat itu............terdengar tepuk tangan yang meriah dari para mahasiswa/wi atas pertunjukan yang hanya akan MENGERASKAN HATI...
Perbedaan pendapat merupakan hal yg wajar karena memang ALLAH telah berikan otak bagi diri setiap manusia....terdapat milyaran otak didunia ini yang masih hidup dan lebih dari trilyunan jumlah otak yang telah ALLAH ciptakan...
" Jikalau Tuhan-mu menghendaki, tentu DIA menjadikan manusia umat yang satu, tetapi manusia senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu..."
[Qur'an Surat. Hûd (11) ayat 118-119]
Tidak heran karena masing2 memiliki otak atau CPU (istilah ilmu komputer) sehingga setiap diri manusia akan memiliki pendapat masing2 yang berbeda.
Bayangkan bila ALLAH ciptakan hanya satu otak untuk digunakan bersama oleh seluruh manusia dimuka bumi...
Sungguh acara debat yang diselenggarakan tidak akan mendapatkan SOLUSI TERBAIK kecuali rasa benci diantara saudara akibat perdebatan. Apalagi pihak media yang harusnya menjadi penyelaras bahkan malah memberi semangat agar perdebatan makin meriah...
Wahai orang tua...
...kami masih muda dan butuh ilmu bijak darimu...
......ajari kami kebijakan...
..........ajari kami persaudaraan dan kasih sayang...
......sebagaimana orang tua terdahulu mengajari beliau-beliau saat menjadi anak-anak...
.....Sehingga kami dapat membangun peradaban negri yang baik, yang akan kami wariskan kepada anak-cucu kami...
....Karena negri ini tidak akan maju diatas keahlian berdebat melainkan diatas kerjasama untuk kerja keras...
... kami tidak butuh ilmu BERDEBAT...
......kami butuh ilmu cara BERBAGI NASIHAT...
.........Karena BERDEBAT MEMATIKAN HATI KAMI...
.............Karena BERDEBAT adalah cara orang yang memiliki NAFSU YANG LEBIH BESAR daripada ILMUNYA...
Wahai orang tua...
...ajari kami.....sebuah KASIH SAYANG....
sebagaimana ALLAH telah mengajari...
"Dan orang-orang yang BERIMAN adalah yang saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk BERKASIH SAYANG" [Qur'an Surat Al Balad (90) ayat 17]
Semoga bermanfaat...
Wassalamu'alaykum...
Kang Dwin
"...PENYAKIT ANEH...SELALU PUSING JELANG RAMADHAN..." - Kang Dwin
Assalamu'alaykum...
"...PENYAKIT ANEH...SELALU PUSING JELANG RAMADHAN..."
Negri kami pusing... pusing setelah kenaikan BBM, kemudian pusing setiap menjelang RAMADHAN tiba.
Kenaikan Bahan Bakar Minyak tidak terjadi setiap tahun, tapi RAMADHAN yang hadir setiap tahun malah membuat pusing...penyakit aneh....
Tapi hebatnya rakyat Indonesia....
Naik harga karena BBM...naik harga karena RAMADHAN...naik harga karena IEDUL FITRI
Tetap rakyat masih bisa bertahan hidup...karena RIZKI datang dari ALLAH...bukan dari PEMERINTAH...
Saat pemerintah menjamin bahwa harga kebutuhan pangan akan naik "sedikit" karena dijamin supplai dipenuhi, ternyata dipasar kenaikan ada yang mencapai hampir 100%....!!!
Kalau kenaikan Bahan Bakar Minyak akan mendongkrak HARGA KEBUTUHAN HIDUP.......itu wajar karena semua distribusi ekonomi menggunakan kendaraan berbahan bakar...
Tapi kenaikan harga jelang RAMADHAN adalah TIDAK WAJAR...
RAMADHAN itu latihan....salah satunya menahan diri dari lapar dan haus dari Shubuh hingga Maghrib...
...Berlatih prihatin sebagaimana fakir miskin yang tidak selalu memiliki makanan setiap harinya...
...masih lebih ringan ..karena fakir miskin terkadang TIDAK MAKAN BEBERAPA HARI...sementara kita hanya TIDAK MAKAN DISIANG HARI...
Kelirunya kita dibulan RAMADHAN.....
....kulkas kita penuh dengan makanan yang lebih lengkap dari hari biasanya...
.....jenis menu makanan lebih lengkap dari menu biasanya...
........Kita berbuka puasa dengan makanan yang super lengkap dan banyak...
PADAHAL...
....melalui bulan RAMADHAN, kita seharusnya berlatih merasakan bagaimana menjadi FAKIR MISKIN ...bukan orang2 yang serba berlebihan dengan makanan...
Kalau masyarakat muslim sanggup bersikap seperti ini,...
...bukan belanja stock banyak makanan dikulkas yang diutamakan, tapi bagaimana menambah STOCK ILMU jelang RAMADHAN...
RAMADHAN...
...harusnya kita BANYAK BERSEDEKAH..bukan BANYAK BELANJA...
Sehingga para penjualpun tidak bisa MENAIKAN HARGA BARANG...karena umat muslim banyak yang SIBUK SHAUM... bukan SIBUK MASAK....
Saudaraku...
Sangat disayangkan kalau setiap RAMADHAN, kita tergolong seperti pesan Rasulullah dibawah ini...
"Banyak orang yang puasa dan tidak mendapatkan apa-apa melainkan hanya rasa lapar dan haus saja". [Hadits Riwayat Bukhari]
"...SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH RAMADHAN 1434 H,
...SEMOGA ALLAH KARUNIAKAN KEKUATAN UNTUK MENINGKAT MENJADI PRIBADI TAQWA..."
Semoga bermanfaat..
Wassalamu'alaykum
Kang Dwin
"...PENYAKIT ANEH...SELALU PUSING JELANG RAMADHAN..."
Negri kami pusing... pusing setelah kenaikan BBM, kemudian pusing setiap menjelang RAMADHAN tiba.
Kenaikan Bahan Bakar Minyak tidak terjadi setiap tahun, tapi RAMADHAN yang hadir setiap tahun malah membuat pusing...penyakit aneh....
Tapi hebatnya rakyat Indonesia....
Naik harga karena BBM...naik harga karena RAMADHAN...naik harga karena IEDUL FITRI
Tetap rakyat masih bisa bertahan hidup...karena RIZKI datang dari ALLAH...bukan dari PEMERINTAH...
Saat pemerintah menjamin bahwa harga kebutuhan pangan akan naik "sedikit" karena dijamin supplai dipenuhi, ternyata dipasar kenaikan ada yang mencapai hampir 100%....!!!
Kalau kenaikan Bahan Bakar Minyak akan mendongkrak HARGA KEBUTUHAN HIDUP.......itu wajar karena semua distribusi ekonomi menggunakan kendaraan berbahan bakar...
Tapi kenaikan harga jelang RAMADHAN adalah TIDAK WAJAR...
RAMADHAN itu latihan....salah satunya menahan diri dari lapar dan haus dari Shubuh hingga Maghrib...
...Berlatih prihatin sebagaimana fakir miskin yang tidak selalu memiliki makanan setiap harinya...
...masih lebih ringan ..karena fakir miskin terkadang TIDAK MAKAN BEBERAPA HARI...sementara kita hanya TIDAK MAKAN DISIANG HARI...
Kelirunya kita dibulan RAMADHAN.....
....kulkas kita penuh dengan makanan yang lebih lengkap dari hari biasanya...
.....jenis menu makanan lebih lengkap dari menu biasanya...
........Kita berbuka puasa dengan makanan yang super lengkap dan banyak...
PADAHAL...
....melalui bulan RAMADHAN, kita seharusnya berlatih merasakan bagaimana menjadi FAKIR MISKIN ...bukan orang2 yang serba berlebihan dengan makanan...
Kalau masyarakat muslim sanggup bersikap seperti ini,...
...bukan belanja stock banyak makanan dikulkas yang diutamakan, tapi bagaimana menambah STOCK ILMU jelang RAMADHAN...
RAMADHAN...
...harusnya kita BANYAK BERSEDEKAH..bukan BANYAK BELANJA...
Sehingga para penjualpun tidak bisa MENAIKAN HARGA BARANG...karena umat muslim banyak yang SIBUK SHAUM... bukan SIBUK MASAK....
Saudaraku...
Sangat disayangkan kalau setiap RAMADHAN, kita tergolong seperti pesan Rasulullah dibawah ini...
"Banyak orang yang puasa dan tidak mendapatkan apa-apa melainkan hanya rasa lapar dan haus saja". [Hadits Riwayat Bukhari]
"...SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH RAMADHAN 1434 H,
...SEMOGA ALLAH KARUNIAKAN KEKUATAN UNTUK MENINGKAT MENJADI PRIBADI TAQWA..."
Semoga bermanfaat..
Wassalamu'alaykum
Kang Dwin
"...KELIRUNYA KITA DI BULAN RAMADHAN..." - Kang Dwin
Assalamu'alaykum...
"...KELIRUNYA KITA DI BULAN RAMADHAN..."
Kita selalu berfikir bahwa 'ibadah Ramadhan adalah 'ibadah bersama dengan diakhiri saling memaafkan diantara sesama muslim.
Padahal untuk memaafkan sesama, ISLAM sudah menegaskan bukan dikhususkan hanya di bulan Ramadhan/Syawal tetapi SETIAP SAAT seperti diperintahkan dalam Qur'an Surat Ali Imran (3) ayat 134.
Sementara do'a yang benar yang diucapkan pada 1 Syawal (Iedul Fitri) adalah 'TAQOBBALALLAAHU MINNA WA MINKA" yang berarti “Semoga ALLAH menerima amal kami dan amal Anda.” bukan memiliki arti MOHON MAAF LAHIR BATIN...
Tetapi...banyak dikalangan ummat Islam mengucapkan MINAL AIDIN WAL FAIZIN (artinya "sebagai orang kembali dan beruntung")...tapi mengira artinya adalah "mohon maaf lahir batin"....
Keramas pun menjelang RAMADHAN menjadi ritual wajib yang sebenarnya ritual warisan agama hindu, padahal seharusnya mempersiapkan diri dengan ilmu rukun shaum Ramadhan lebih utama. Dan Shaum sebelum RAMADHAN/bulan Sya'ban merupakan yang dicontohkan Rasulullah.
Jadi 'ibadah Ramadhan bukanlah 'IBADAH JEMAAH untuk saling bermaafan diawalnya, melainkan 'IBADAH PRIBADI mukmin untuk menaikan tingkatan dari MUKMIN menjadi TAQWA...
...Dan hanya ALLAH yang akan memberi penilaian karena 'Ibadah Shaum adalah puasa para mukmin yang dipersembahkan hanya untuk ALLAH semata....
"...MARHABBAN YAA RAMADHAN..."
(...Selamat Datang Bulan Suci Ramadhan...)
...Semoga menggapai derajat TAQWA...
Semoga bermanfaat,
Wassalamu'alaykum
Kang Dwin
"...KELIRUNYA KITA DI BULAN RAMADHAN..."
Kita selalu berfikir bahwa 'ibadah Ramadhan adalah 'ibadah bersama dengan diakhiri saling memaafkan diantara sesama muslim.
Padahal untuk memaafkan sesama, ISLAM sudah menegaskan bukan dikhususkan hanya di bulan Ramadhan/Syawal tetapi SETIAP SAAT seperti diperintahkan dalam Qur'an Surat Ali Imran (3) ayat 134.
Sementara do'a yang benar yang diucapkan pada 1 Syawal (Iedul Fitri) adalah 'TAQOBBALALLAAHU MINNA WA MINKA" yang berarti “Semoga ALLAH menerima amal kami dan amal Anda.” bukan memiliki arti MOHON MAAF LAHIR BATIN...
Tetapi...banyak dikalangan ummat Islam mengucapkan MINAL AIDIN WAL FAIZIN (artinya "sebagai orang kembali dan beruntung")...tapi mengira artinya adalah "mohon maaf lahir batin"....
Keramas pun menjelang RAMADHAN menjadi ritual wajib yang sebenarnya ritual warisan agama hindu, padahal seharusnya mempersiapkan diri dengan ilmu rukun shaum Ramadhan lebih utama. Dan Shaum sebelum RAMADHAN/bulan Sya'ban merupakan yang dicontohkan Rasulullah.
Jadi 'ibadah Ramadhan bukanlah 'IBADAH JEMAAH untuk saling bermaafan diawalnya, melainkan 'IBADAH PRIBADI mukmin untuk menaikan tingkatan dari MUKMIN menjadi TAQWA...
...Dan hanya ALLAH yang akan memberi penilaian karena 'Ibadah Shaum adalah puasa para mukmin yang dipersembahkan hanya untuk ALLAH semata....
"...MARHABBAN YAA RAMADHAN..."
(...Selamat Datang Bulan Suci Ramadhan...)
...Semoga menggapai derajat TAQWA...
Semoga bermanfaat,
Wassalamu'alaykum
Kang Dwin
" ...BUKAN BERDEBAT, TAPI PERBAIKILAH..." - Kang Dwin
Assalamu'alaykum...
" ...BUKAN BERDEBAT, TAPI PERBAIKILAH..."
Walaupun Pemerintah telah mengumumkan keputusan bahwa 1 Ramadhan 1434 Hijriah akan jatuh pada hari Rabu tgl 10 Juli 2013, tapi masih saja media TV mempertontonkan acara PERBEDAAN antar golongan dalam menentukan 1 Ramadhan...
Alangkah indah bila pihak media tidak TERUS MENGULAS TENTANG PERBEDAAN yang dapat membingungkan masayarakat awam..
Bukankah keputusan pemerintah sudah diumumkan....?
Berkerjasamalah mencari solusi agar tercipta kedamaian...
Banyak hal aneh pada kesepakatan manusia...salah satunya Singapur yang dapat dilihat jelas dari kota Batam...tapi waktu diantara keduanya memiliki perbedaan 1 jam....tapi mengapa tidak pernah dibahas untuk berdebat..?
Bahkan harusnya MEDIA-PEMERINTAH-MASYARAKAT bekerjasama mencerdaskan dan memperbaiki keadaan masyarakat yang menyambut bulan suci RAMADHAN hanya berfikir seputar mempersiapkan makanan istimewa....
...yang seharusnya mempersiapkan dengan ilmu sehingga RAMADHAN menghasilkan masyarakat yang baik...
“Hai sekalian manusia, makanlah yang HALAL dan BAIK dari apa yang terdapat di bumi.” [Qur'an Al-Baqarah ayat 168]
Tapi bagaimana mungkin menjadi masyarakat yang baik bila...setiap saat yang difikirkan hanya MAKANAN dibandingkan ILMU...
Bahkan berita media malam ini disalah satu stasiun TV...dikarenakan harga cabe merah melonjak lebih dari 100%, maka para pembeli memilih cabe busuk untuk dikonsumsi dan ternyata penjualpun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini hingga memberi harga sangat CABE BUSUK sebesar Rp 20.000/kg... !!!!!
Bagaimana dapat menjadi pribadi sehat bila makanan rusak yang dikonsumsi...
Bagaimana dapat berakhlak baik bila makanan pun tidak baik...
Saudaraku...
Sudah saatnya kita selalu memilih hanya yang TERBAIK yang masuk kedalam perut kita, bukan hanya sekedar KENYANG...
Karena Sayidina Ali bin Abi Thalib berpesan :
"Barangsiapa yang hidupnya hanya memikirkan isi perut, maka derajatnya dihadapan ALLAH seperti apa yang dikeluarkan dari perutnya..."
Semoga bermanfaat.
Wassalamu'alaykum...
Kang Dwin
" ...BUKAN BERDEBAT, TAPI PERBAIKILAH..."
Walaupun Pemerintah telah mengumumkan keputusan bahwa 1 Ramadhan 1434 Hijriah akan jatuh pada hari Rabu tgl 10 Juli 2013, tapi masih saja media TV mempertontonkan acara PERBEDAAN antar golongan dalam menentukan 1 Ramadhan...
Alangkah indah bila pihak media tidak TERUS MENGULAS TENTANG PERBEDAAN yang dapat membingungkan masayarakat awam..
Bukankah keputusan pemerintah sudah diumumkan....?
Berkerjasamalah mencari solusi agar tercipta kedamaian...
Banyak hal aneh pada kesepakatan manusia...salah satunya Singapur yang dapat dilihat jelas dari kota Batam...tapi waktu diantara keduanya memiliki perbedaan 1 jam....tapi mengapa tidak pernah dibahas untuk berdebat..?
Bahkan harusnya MEDIA-PEMERINTAH-MASYARAKAT bekerjasama mencerdaskan dan memperbaiki keadaan masyarakat yang menyambut bulan suci RAMADHAN hanya berfikir seputar mempersiapkan makanan istimewa....
...yang seharusnya mempersiapkan dengan ilmu sehingga RAMADHAN menghasilkan masyarakat yang baik...
“Hai sekalian manusia, makanlah yang HALAL dan BAIK dari apa yang terdapat di bumi.” [Qur'an Al-Baqarah ayat 168]
Tapi bagaimana mungkin menjadi masyarakat yang baik bila...setiap saat yang difikirkan hanya MAKANAN dibandingkan ILMU...
Bahkan berita media malam ini disalah satu stasiun TV...dikarenakan harga cabe merah melonjak lebih dari 100%, maka para pembeli memilih cabe busuk untuk dikonsumsi dan ternyata penjualpun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini hingga memberi harga sangat CABE BUSUK sebesar Rp 20.000/kg... !!!!!
Bagaimana dapat menjadi pribadi sehat bila makanan rusak yang dikonsumsi...
Bagaimana dapat berakhlak baik bila makanan pun tidak baik...
Saudaraku...
Sudah saatnya kita selalu memilih hanya yang TERBAIK yang masuk kedalam perut kita, bukan hanya sekedar KENYANG...
Karena Sayidina Ali bin Abi Thalib berpesan :
"Barangsiapa yang hidupnya hanya memikirkan isi perut, maka derajatnya dihadapan ALLAH seperti apa yang dikeluarkan dari perutnya..."
Semoga bermanfaat.
Wassalamu'alaykum...
Kang Dwin
Ramadhan Bulan Penuh Berkah. Untuk Siapa?
Kita semua tahu, bahwa bulan
Ramadhan (dibaca Romadhon ya, bukan Ramadan) adalah bulan yang penuh
berkah. Kenapa? Karena di bulan Ramadhan ini...
1. Bulan obral di mana Allah akan mengijabah doa-doa kita
2. Bulan obral di mana Allah mengampuni dosa-dosa kita
3. Bulan obral di mana Allah melipat gandakan pahala ibadah kita
Obral untuk siapa?
Masih inget kan, pelajaran yang kita terima dari ustadz kita (itu buat yang pernah ngaji lho)
Bahwa...
1. Waktu antara Maghrib dan Isya adalah waktu yang mustajabah untuk memanjatkan doa
2. Rasulullah melarang orang banyak bicara setelah sholat Isya
3. Sepertiga malam terkahir adalah waktu terbaik untuk mohon ampunan dan bermunajah kepadaNya.
Lalu kenapa?
Setelah berbuka (bahkan sambil berbuka) kita masih terpesona oleh layar televisi yang menebar mudzarat dengan cerita-cerita yang penuh dengan intrik dan kemaksiatan. Cerita-cerita yang mengajarkan kedengkian dan nafsu keduniawian.Atau asyik bercekakak cekikik dengan banyolan-banyolan vulgar yang menyajikan ketololan dan kenaifan yang justru tak seharusnya dilakukan umat muslim. Bukannya segera ambil air wudhu, dirikan sholat maghrib dan perbanyak doa.
Selepas Isya, masih penasaran dengan cerita-cerita sinetron (yang konon kabarnya sinetron religi) yang masih dengan cerita yang itu-itu saja. Kedengkian, permusuhan, keserakahan, muslihat yang sedang diajarkan oleh entah siapa melalui layar televisi. (Lagi-lagi televisi). Bukannya shalat tarwih, tadarus dan telaah Al Qur'an yang kita yakini sebagai pedoman hidup. Yang kelak akan memberi syafaat dengan menaungi pembacanya di Padang Makhsyar
Waktu sahur, sambil menikmati hidangan sahur, kita terlena dengan hiburan yang dipenuhi dengan canda tawa vulgar, konyol tanpa manfaat. Bukankah kesempatan untuk melengkapi ibadah sahur dengan Qiyamullail, sholat malam, dan perbanyak istighfar memohon ampunannya. Astaghfirullah.
Ingat!! Rasulullah yang sudah memegang kunci surga, dan Allah menjaminnya untuk masuk surga saja masih beristighfar ratusan kali dalam sehari semalam. Kita? Istighfarnya masih darling. Kalau sadar dan eling. Astaghfirullah.
Kok lagi-agi televisi?
Iya, karena televisi adalah media dan sarana hiburan yang paling mudah diakses oleh seluruh bangsa, murah tanpa keluar biaya dan bisa dinikmati di mana saja. Tapi justru televisi sudah menjadi perpanjangan tangan syetan di bulan Ramdhan ini.
Lho, katanya syetan sudah dibelenggu?
Betul, Syetan memang sudah dibelenggu. Tapi ternyata nafsu manusia itu sudah lebih berbahaya daripada syetan. Karena syetan hanya sebagai penggoda, sedangkan nafsu dan diri manusialah yang menjadi eksekutornya.
Jadi?
Ramadhan itu bulan yang penuh berkah, untuk siapa?
Pertanyaan yang hanya bisa dijawah dengan nurani kita. Bukan dengan lisan kita. Apalgi diperdebatkan.
Dan, berodalah, semoga bulan ini bukan Ramadhan terakhir dalam hidup kita.
Agar bisa memperbaiki amalan Ramadhan kita di tahun depan. Insya Allah.
1. Bulan obral di mana Allah akan mengijabah doa-doa kita
2. Bulan obral di mana Allah mengampuni dosa-dosa kita
3. Bulan obral di mana Allah melipat gandakan pahala ibadah kita
Obral untuk siapa?
Masih inget kan, pelajaran yang kita terima dari ustadz kita (itu buat yang pernah ngaji lho)
Bahwa...
1. Waktu antara Maghrib dan Isya adalah waktu yang mustajabah untuk memanjatkan doa
2. Rasulullah melarang orang banyak bicara setelah sholat Isya
3. Sepertiga malam terkahir adalah waktu terbaik untuk mohon ampunan dan bermunajah kepadaNya.
Lalu kenapa?
Setelah berbuka (bahkan sambil berbuka) kita masih terpesona oleh layar televisi yang menebar mudzarat dengan cerita-cerita yang penuh dengan intrik dan kemaksiatan. Cerita-cerita yang mengajarkan kedengkian dan nafsu keduniawian.Atau asyik bercekakak cekikik dengan banyolan-banyolan vulgar yang menyajikan ketololan dan kenaifan yang justru tak seharusnya dilakukan umat muslim. Bukannya segera ambil air wudhu, dirikan sholat maghrib dan perbanyak doa.
Selepas Isya, masih penasaran dengan cerita-cerita sinetron (yang konon kabarnya sinetron religi) yang masih dengan cerita yang itu-itu saja. Kedengkian, permusuhan, keserakahan, muslihat yang sedang diajarkan oleh entah siapa melalui layar televisi. (Lagi-lagi televisi). Bukannya shalat tarwih, tadarus dan telaah Al Qur'an yang kita yakini sebagai pedoman hidup. Yang kelak akan memberi syafaat dengan menaungi pembacanya di Padang Makhsyar
Waktu sahur, sambil menikmati hidangan sahur, kita terlena dengan hiburan yang dipenuhi dengan canda tawa vulgar, konyol tanpa manfaat. Bukankah kesempatan untuk melengkapi ibadah sahur dengan Qiyamullail, sholat malam, dan perbanyak istighfar memohon ampunannya. Astaghfirullah.
Ingat!! Rasulullah yang sudah memegang kunci surga, dan Allah menjaminnya untuk masuk surga saja masih beristighfar ratusan kali dalam sehari semalam. Kita? Istighfarnya masih darling. Kalau sadar dan eling. Astaghfirullah.
Kok lagi-agi televisi?
Iya, karena televisi adalah media dan sarana hiburan yang paling mudah diakses oleh seluruh bangsa, murah tanpa keluar biaya dan bisa dinikmati di mana saja. Tapi justru televisi sudah menjadi perpanjangan tangan syetan di bulan Ramdhan ini.
Lho, katanya syetan sudah dibelenggu?
Betul, Syetan memang sudah dibelenggu. Tapi ternyata nafsu manusia itu sudah lebih berbahaya daripada syetan. Karena syetan hanya sebagai penggoda, sedangkan nafsu dan diri manusialah yang menjadi eksekutornya.
Jadi?
Ramadhan itu bulan yang penuh berkah, untuk siapa?
Pertanyaan yang hanya bisa dijawah dengan nurani kita. Bukan dengan lisan kita. Apalgi diperdebatkan.
Dan, berodalah, semoga bulan ini bukan Ramadhan terakhir dalam hidup kita.
Agar bisa memperbaiki amalan Ramadhan kita di tahun depan. Insya Allah.
Senin, 08 Juli 2013
Catatan Jelang Romadhon
Jelang Romadhon setahun yang lalu.
Bapak, aku kembali ke hadapanmu.
Kembali memohon kau turut pikulkan beban yang terasa begitu berat di
sanubariku. Memohon kau usap luka yang kembali tergores. Karna kutahu, di renta
usiamu, kau tetap kokoh buatku. Entahlah Pak, Nurani ini begitu kaku. Tak bisa
menerima apapun yang tak bisa kutempatkan di sana.
Bapak.
Aku kembali ke pelukanmu. Sebagai lilin yang tinggal pangkal tak lagi utuh.
Tlah habis memberi terang bagi gelap sekelilingnya. Kerna itulah yang pernah kau
ajarkan padaku. Kerna tempat bersandar hanya padaNya yang hakiki. Hingga aku
terhanyut dalam arus hidup yang tak pernah kutahu arahnya. Hidup memang misteri
bukan? Kerna tak pernah kutahu dari mana
awal, dan di mana akhir, dari sebuah episode cerita hidup yang harus
kulakonkan.
Bapak.
Aku kembali membawakanmu sejumput harap. Tentang Romadhon yang ingin kujalani
sebulan penuh bersamamu. Setelah belasan tahun Romadhonku kujalani dalam
pengambaran panjangku. Hanya itu yang kumau. Karena tak mampu kuberikan duniawi
untuk Romadon dan Lebaranmu, Bapak.
Bapak.
Aku gembira, aku bahagia, entah bagaimana aku harus mensyukurinya. Allah
mengabulkan harapku kan?
Hingga Romadhon tahun kemarin bisa kujalani bersamamu. Utuh, sebulan penuh. Dan
menjadi Romadhon yang paling istimewa untukku. Romadhon terindah dan Romadhon paling berharga seumur hidupku.
Romadhon paling cemerlang dalam sejarah yang tertulis tentangku.
Bapak.
Kutahu kau letih. Tak seharusnya kupinta kau pikulkan bebanku di pundakmu.
Maafkan anakmu yang tak tahu diri ya. Sebenarnya, aku masih berharap bisa
kembali menjalani Romadhon ini bersamamu. Sampai Idul Fitri nanti, juga
hari-hari sesudahnya. Karena masih banyak yang ingin kutahu darimu, Guru
Hebatku.
Bapak,
ternyata Allah lebih menginginkanmu daripada kami. Sudah waktunya kau kembali
ke haribaanNya. Kami ikhlas Bapak, saat dalam teduh, hening dan damai kau pamit
kepada kami. Halus, hening, dan teduh. Tanpa sedu sedan dan isak dari kami. Kami
ikhlas. Kami ridho. Terlebih setelah kami diberikan kesempatan olehNya untuk
mengantarmu dengan Tahlil yang kami bisikkan di telingamu (dan kami yakin kau
ucap pula di batinmu). Juga Yaasin, Ar-Roman, Al-Mulk, Al-Waqi’ah dan Ar-Ro’du
yang mengalun merdu dari lisan-lisan kami. Ibuku yang juga istri terkasihmu.
Anak-anak dan menantumu. Juga cucumu.
Bapak,
Allah telah memilihkan waktu yang terbaik untukmu. Selepas pertengahan bulan
Sya’ban. Dia memanggilmu sebagaimana Dia memanggil para Syuhada. Saat
puasa-puasa sunnah tak lagi diperkenankan. Dia memanggilmu denga penuh
kehormatan.
Bapak,
meski Romadhon ini tak lagi bisa kujalani bersamamu. Ada rasa bahagia yang membuncah dari
sanubariku yang tak bisa kuceritakan. DIAlah yang bisa mengerti arti
kebahagiaan itu. Salam bakti dari kami.
Sabtu, 22 Desember 2012
WIJAYA KUSUMA
Malam itu ada yang agak ganjil di halaman rumahku.
Di sudut halaman, perbatasan pekarangan dengan tetangga, kulihat ada warna putih yang sangat mencolok.
Terbawa oleh rasa penasaran, aku mendekat.
Subhanallah, ternyata kembang Wijaya Kusuma sedang mekar.
Kembang Wijaya kusuma hanya mekar sekali, dan waktunya tengah malam.
Ini bukan mitos lho, but the fact.
Mitosnya adalah, siapa saja yang melihat kembang tersebut mekar dengan sempurna
Insya Allah segala keinginannya bakal kesampaian.
Nah, terbawa oleh mitos tersebut aku sengaja menunggu,
pengin lihat kembang itu mekar secara sempurna, yang katanya bisa selebar piring makan.
Sambil menunggu, kadang aku masuk rumah, kadang ngobrol ama tetangga.
Tapi....ada tapinya lho. Lihat arloji ternyata masih jam 21:00 malam
Waaaahhhh masih lama dong.
Tiba-tiba gerimis datang. Tapi tak apa
Tak menyurutkan semangatku untuk menunggu.
Setiap perkembangan dari mekarnya sang kembang aku ambil gambarnya
Hinga akhirnya sampai jam 23:30.
Hampir tengah malam
Tetangga kanan kiri udah sepi. Apalgi gerimis
Akupun duduk-duduk di warungku sambul menunggu setengah jaman.
Daaaaaannnnn....
Aku terhenyak. Bangun dan segera menuju kembang tersebut.
Wow....baunya semerbak wangi sekali.
Teng.......
Teringat, bahwa kembang wijaya kusuma akan mengeluarkan bau wangi setelah mekar.
Lhaaahhhhh.....segera kulihat arlojiku.
Jam 01:20
Astaghfirullah, ternyata aku tadi ketiduran.
Yahhhh....nggak lihat mekar sempurnanya wijaya kusuma deh.
Paginya, kembang itu sudah kuncup lagi, menunggu watu untuk kering.
Nggak papa, masih ada kesempatan lain
Di sudut halaman, perbatasan pekarangan dengan tetangga, kulihat ada warna putih yang sangat mencolok.
Terbawa oleh rasa penasaran, aku mendekat.
Subhanallah, ternyata kembang Wijaya Kusuma sedang mekar.
Kembang Wijaya kusuma hanya mekar sekali, dan waktunya tengah malam.
Ini bukan mitos lho, but the fact.
Mitosnya adalah, siapa saja yang melihat kembang tersebut mekar dengan sempurna
Insya Allah segala keinginannya bakal kesampaian.
Nah, terbawa oleh mitos tersebut aku sengaja menunggu,
pengin lihat kembang itu mekar secara sempurna, yang katanya bisa selebar piring makan.
Sambil menunggu, kadang aku masuk rumah, kadang ngobrol ama tetangga.
Tapi....ada tapinya lho. Lihat arloji ternyata masih jam 21:00 malam
Waaaahhhh masih lama dong.
Tiba-tiba gerimis datang. Tapi tak apa
Tak menyurutkan semangatku untuk menunggu.
Setiap perkembangan dari mekarnya sang kembang aku ambil gambarnya
Hinga akhirnya sampai jam 23:30.
Hampir tengah malam
Tetangga kanan kiri udah sepi. Apalgi gerimis
Akupun duduk-duduk di warungku sambul menunggu setengah jaman.
Daaaaaannnnn....
Aku terhenyak. Bangun dan segera menuju kembang tersebut.
Wow....baunya semerbak wangi sekali.
Teng.......
Teringat, bahwa kembang wijaya kusuma akan mengeluarkan bau wangi setelah mekar.
Lhaaahhhhh.....segera kulihat arlojiku.
Jam 01:20
Astaghfirullah, ternyata aku tadi ketiduran.
Yahhhh....nggak lihat mekar sempurnanya wijaya kusuma deh.
Paginya, kembang itu sudah kuncup lagi, menunggu watu untuk kering.
Nggak papa, masih ada kesempatan lain
TAHUN BARU
Hmmmmm....mendekati penghujung bulan Desember 2012.
Wah...tentu udah mateng ya persiapan tahun baruannya.
Semoga tahun depan benar-benar lebih baik kualitasnya daripada tahun ini ya
Bicara soal tahun baru,
belum lama ini kita juga merayakan tahun baru Hijriyah kan?
Atau yang lebih banyak dikenal dengan sebutan 1 Suro.
Hmmmmm.....inget kan?
Di berbagai daerah memiliki tradisi dan ritual yang unik dan berbeda-beda.
Di kampungku ada tradisi yang terpelihara sejak aku kecil hingga saat ini
Yaitu BARIDAN
Baridan adalah kendurian yang unik dan menarik dibanding kenduri-kenduri lainnya.
Karena ada beberapa aturan tak tertulis yang harus ditaati warga.
Warga yang rumahnya menghadap ke utara dan selatan, wajib menyediakan ketupat dan lepet.
Sedangkan rumah yang menghadap ke timur dan barat wajib membuat nasi liwet dengan perlengkapannya.
Nasi liwet itu harus ditanak di KENDIL, berhubung jaman sekarang sudah jarang kendil, akhirnya pancipun diperbolehkan.
Nasi liwet itu harus dibawa ke tempat kendurian bersama dengan kendil atau pancinya.
Biasanya di atas nasi sudah dilengkapi dengan urap, bacem tempe, tahu, goreng ikan asin, atau telur dadar.
Tempat kendurinya juga unik. Bukan di musholla atau rumah kepala kampung.
Tapi dipilih di persimpangan jalan. Diutamakan di perempatan jalan.
Kalau tak ada perempaatan, di pertigaan juga bisa.
Di situ akan digelar memanjang susunan daun pisang.
Segala macam makanan akan dituang di atas daun pisang tersebut.
Nasi liwet yang dibawa dengan kendil juga akan dituang di atas daun pisang tersebut.
Peserta Baridan adalah seluruh keluarga dari warga kampung.
Bapak, Ibu, Kakek, Nenek, dan Anak-anak semua berkumpul jadi satu.
Setelah doa-doa dari pak Kyai selesai, tibalah acara makan malam bersama.
Kita bebas mengambil makanan apa saja yang kita suka.
Acara akan ditutup dengan Sholawat Nabi sambil membungkus makanan-makanan yang tersisa
dengan daun pisang untuk dibawa pulang warga.
Pada acara Baridan tahun ini, aku duduk manis tanpa banyak gerak karena sudah mendapatkan menu spesial yang sudah aku incar dari rumah. Nasi liwet, urap daun pepaya dan goreng ikan asin.
Wah...tentu udah mateng ya persiapan tahun baruannya.
Semoga tahun depan benar-benar lebih baik kualitasnya daripada tahun ini ya
Bicara soal tahun baru,
belum lama ini kita juga merayakan tahun baru Hijriyah kan?
Atau yang lebih banyak dikenal dengan sebutan 1 Suro.
Hmmmmm.....inget kan?
Di berbagai daerah memiliki tradisi dan ritual yang unik dan berbeda-beda.
Di kampungku ada tradisi yang terpelihara sejak aku kecil hingga saat ini
Yaitu BARIDAN
Baridan adalah kendurian yang unik dan menarik dibanding kenduri-kenduri lainnya.
Karena ada beberapa aturan tak tertulis yang harus ditaati warga.
Warga yang rumahnya menghadap ke utara dan selatan, wajib menyediakan ketupat dan lepet.
Sedangkan rumah yang menghadap ke timur dan barat wajib membuat nasi liwet dengan perlengkapannya.
Nasi liwet itu harus ditanak di KENDIL, berhubung jaman sekarang sudah jarang kendil, akhirnya pancipun diperbolehkan.
Nasi liwet itu harus dibawa ke tempat kendurian bersama dengan kendil atau pancinya.
Biasanya di atas nasi sudah dilengkapi dengan urap, bacem tempe, tahu, goreng ikan asin, atau telur dadar.
Tempat kendurinya juga unik. Bukan di musholla atau rumah kepala kampung.
Tapi dipilih di persimpangan jalan. Diutamakan di perempatan jalan.
Kalau tak ada perempaatan, di pertigaan juga bisa.
Di situ akan digelar memanjang susunan daun pisang.
Segala macam makanan akan dituang di atas daun pisang tersebut.
Nasi liwet yang dibawa dengan kendil juga akan dituang di atas daun pisang tersebut.
Peserta Baridan adalah seluruh keluarga dari warga kampung.
Bapak, Ibu, Kakek, Nenek, dan Anak-anak semua berkumpul jadi satu.
Setelah doa-doa dari pak Kyai selesai, tibalah acara makan malam bersama.
Kita bebas mengambil makanan apa saja yang kita suka.
Acara akan ditutup dengan Sholawat Nabi sambil membungkus makanan-makanan yang tersisa
dengan daun pisang untuk dibawa pulang warga.
Pada acara Baridan tahun ini, aku duduk manis tanpa banyak gerak karena sudah mendapatkan menu spesial yang sudah aku incar dari rumah. Nasi liwet, urap daun pepaya dan goreng ikan asin.
Jumat, 02 November 2012
MINYAK PEMANGGIL GENDRUWO
Hmmmmm....
Minggu malam lageeeeee...........
Dapet jadwal ronda lageeeeeeeee......
Ah, kan udah kesepakatan. Gak boleh ngeluh, tauuuuuukkkk....
Tapi malam ini dingin banget.
Abis keliling ambil jimpitan, balik pos ronda.
Eh apa tuh?
Kaya ada sesuatu di atas tiang pos ronda.
Hmmmm kantong plastik.
Isinya apaan ya? Kok mencurigakan sih
Buka ah....
Haaaaaaaaaaaaaaaa, isinya jambu, monyet
Eh bukan ding, jambu monyet bukan jambu, monyet
(He..he..he..jangan nyepelin tanda baca ya. Tuh beda koma aja dah beda maksudnya)
Mendadak ada ide buat bakar kacang mede
maka kubikinlah api unggun.
Tiga, empat, lima, entah berapa kacang mede yang aku masukkan ke dalam unggunan api
Bau harumnya membahana
Mengundang peronda dari RT lain untuk bergabung.
"Eh..malem-malem nggak baik bakar kacang mede mas
itu bau minyaknya menyebar ke mana-mana
bisa mendatangkan genderuwo lho"
Deg!!
Emang sih, bau harumnya meneyebar
Kukeluarkan sebiji dari dalam api.
terlihat minyak yang mendidih di seluruh permukaan kulit kacang mede
Tapi
pemanggil genderuwo...
Aaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhh
mau dong ketemu gendeuwo
siapa tahu bisa berteman baik
Minggu malam lageeeeee...........
Dapet jadwal ronda lageeeeeeeee......
Ah, kan udah kesepakatan. Gak boleh ngeluh, tauuuuuukkkk....
Tapi malam ini dingin banget.
Abis keliling ambil jimpitan, balik pos ronda.
Eh apa tuh?
Kaya ada sesuatu di atas tiang pos ronda.
Hmmmm kantong plastik.
Isinya apaan ya? Kok mencurigakan sih
Buka ah....
Haaaaaaaaaaaaaaaa, isinya jambu, monyet
Eh bukan ding, jambu monyet bukan jambu, monyet
(He..he..he..jangan nyepelin tanda baca ya. Tuh beda koma aja dah beda maksudnya)
Mendadak ada ide buat bakar kacang mede
maka kubikinlah api unggun.
Tiga, empat, lima, entah berapa kacang mede yang aku masukkan ke dalam unggunan api
Bau harumnya membahana
Mengundang peronda dari RT lain untuk bergabung.
"Eh..malem-malem nggak baik bakar kacang mede mas
itu bau minyaknya menyebar ke mana-mana
bisa mendatangkan genderuwo lho"
Deg!!
Emang sih, bau harumnya meneyebar
Kukeluarkan sebiji dari dalam api.
terlihat minyak yang mendidih di seluruh permukaan kulit kacang mede
Tapi
pemanggil genderuwo...
Aaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhh
mau dong ketemu gendeuwo
siapa tahu bisa berteman baik
TUKANG JAGAL...... (iiiiihhhhh seyyyyeeeeemmm)
Pagi itu......
Gema takbir masih sayup sayup terdengar
Kebun belakang rumah mendadak dibersihkan
rapi
Dan..
aku melihat teman baikku akhir-akhir ini diseret dengan tali
dia memberontak, tapi makin kuat pula tarikan orang yang menyeretnya
Aliran kecil pelan-pelan berlenggak lenggok di pipiku
tak tega rasanya melihat si embek dibawa ke tempat pemotongan
aku bergegas masuk rumah.
Tapi panggilan itupun tak kuasa kutolak.
"Mas, tolong telikung kaki belakangnya.
Setelah roboh, mas pegang kepalanya kuat-kuat ya"
Aku hanya bisa menurut, tak mampu menolah.
Kupegang kuat kedua kaki belakang si embek dan kutelikung
Robohlah dia menghadap kiblat.
Aku berpindah tempat
Memegang kepala embek kuat-kuat
Dan.....
Wessssss.............
Darah mengucur deras dari lehernya
"Selamat jalan ke haribaan surga ya kawan
Berbahagialah karena kamu menjadi embek terpilih.
Doakanlah kemuliaan bagi orang yang telah merawatku sejak kecil"
Aku tak kuasa menahan jebolnya bendungan di kelopak mataku.
Ternyata belum selesai.
Masih ada tugas lagi
Aku masih harus menyayat-nyayat si embek
memisahkan antara kulit dan dagingnya.
Sementara kutinggal Shalat Jumat
Daging dipotong-potong oleh sekawanan ibu-ibu
Alhamdulillah, jadi 26 kantong
yang harus aku bantu bagi-bagikan siang itu
Ah.......Idul Adha tahun ini punya warna tersendiri buatku.
Gema takbir masih sayup sayup terdengar
Kebun belakang rumah mendadak dibersihkan
rapi
Dan..
aku melihat teman baikku akhir-akhir ini diseret dengan tali
dia memberontak, tapi makin kuat pula tarikan orang yang menyeretnya
Aliran kecil pelan-pelan berlenggak lenggok di pipiku
tak tega rasanya melihat si embek dibawa ke tempat pemotongan
aku bergegas masuk rumah.
Tapi panggilan itupun tak kuasa kutolak.
"Mas, tolong telikung kaki belakangnya.
Setelah roboh, mas pegang kepalanya kuat-kuat ya"
Aku hanya bisa menurut, tak mampu menolah.
Kupegang kuat kedua kaki belakang si embek dan kutelikung
Robohlah dia menghadap kiblat.
Aku berpindah tempat
Memegang kepala embek kuat-kuat
Dan.....
Wessssss.............
Darah mengucur deras dari lehernya
"Selamat jalan ke haribaan surga ya kawan
Berbahagialah karena kamu menjadi embek terpilih.
Doakanlah kemuliaan bagi orang yang telah merawatku sejak kecil"
Aku tak kuasa menahan jebolnya bendungan di kelopak mataku.
Ternyata belum selesai.
Masih ada tugas lagi
Aku masih harus menyayat-nyayat si embek
memisahkan antara kulit dan dagingnya.
Sementara kutinggal Shalat Jumat
Daging dipotong-potong oleh sekawanan ibu-ibu
Alhamdulillah, jadi 26 kantong
yang harus aku bantu bagi-bagikan siang itu
Ah.......Idul Adha tahun ini punya warna tersendiri buatku.
"METOKKE"
Ehm.....
(Agak) telat dikit gak papa ya.
Masih bulan DzulHijjah yang notabene bulan Haji kan?
Kita juga belum lama kok merayakan Hari Raya Haji, alias Hari Raya Qurban, yaitu 'Idul Adha.
Nah ada satu ritual budaya yang masih lestari sejak aku kecil dulu hingga kini
Ritual di Kampung Halamanku tentunya. Ayo ceritakan ritual yang ada di Kampung Halamanmu.
Ritual ini kami lakukan setiap usai Shalat 'Id.
Baik itu 'Idul Fitri maupun 'Idul Adha.
Namanya METOKKE.
Kata dasarnya adalah METU, yang artinya KELUAR
Disebut metokke, karena kami mengeluarkan sedekah makanan.
Tahu dong. Hari Raya tentunya menu makanannya special dibanding hari-hari biasa kan.
Umumnya kami membawa baki atau nampan berisi hidangan makanan Hari Raya di rumah kami masing-masing. Kami berkumpul di Mushalla terdekat, biasanya dilakukan untuk lingkungan RT atau RW. Ke sanalah kami membawa baki-baki atau nampan-nampam berisi menu hidangan special itu.
Sesampai di Mushallah kami letakkan berjejer rapi di serambi Mushalla. Maka tak heran kalau sepanjang serambi Mushalla dipenuhi baki-baki atau nampan-namapan berisi lontong, ketupat, lepet, sambal goreng, opor atau gulai.
Setelah doa bersama yang dipimpin oleh Pak Kyai, kami bersantap bersama. Eh, kami tidak menyantap hidangan yang kami bawa dari rumah lho. Kami bertukar makanan. Aku tidak makan makanan yang kubawa. Dan aku bebas menikmati makanan siapa saja yang terhidang di situ.
Maka jangan heran kalau dalam satu piring bisa berisi menu makanan dari 4 atau lima orang.
Selain bersantap kita bertukar makanan yang tersisa untuk dibawa pulang. Pagi itu aku mendapat ketupat, lepet dan dan opor dari beberapa orang. Padahal yang aku bawa dari rumah hanya lontong, sambal goreng dan gulai telur. Tentunya ketupat, gulai telur dan sambal goreng yang kubawa sudah berpindah entah ke baki siapa.
Yang jelas pagi itu ritual selesai dan kami pulang dengan penuh suka cita.
(Agak) telat dikit gak papa ya.
Masih bulan DzulHijjah yang notabene bulan Haji kan?
Kita juga belum lama kok merayakan Hari Raya Haji, alias Hari Raya Qurban, yaitu 'Idul Adha.
Nah ada satu ritual budaya yang masih lestari sejak aku kecil dulu hingga kini
Ritual di Kampung Halamanku tentunya. Ayo ceritakan ritual yang ada di Kampung Halamanmu.
Ritual ini kami lakukan setiap usai Shalat 'Id.
Baik itu 'Idul Fitri maupun 'Idul Adha.
Namanya METOKKE.
Kata dasarnya adalah METU, yang artinya KELUAR
Disebut metokke, karena kami mengeluarkan sedekah makanan.
Tahu dong. Hari Raya tentunya menu makanannya special dibanding hari-hari biasa kan.
Umumnya kami membawa baki atau nampan berisi hidangan makanan Hari Raya di rumah kami masing-masing. Kami berkumpul di Mushalla terdekat, biasanya dilakukan untuk lingkungan RT atau RW. Ke sanalah kami membawa baki-baki atau nampan-nampam berisi menu hidangan special itu.
Sesampai di Mushallah kami letakkan berjejer rapi di serambi Mushalla. Maka tak heran kalau sepanjang serambi Mushalla dipenuhi baki-baki atau nampan-namapan berisi lontong, ketupat, lepet, sambal goreng, opor atau gulai.
Setelah doa bersama yang dipimpin oleh Pak Kyai, kami bersantap bersama. Eh, kami tidak menyantap hidangan yang kami bawa dari rumah lho. Kami bertukar makanan. Aku tidak makan makanan yang kubawa. Dan aku bebas menikmati makanan siapa saja yang terhidang di situ.
Maka jangan heran kalau dalam satu piring bisa berisi menu makanan dari 4 atau lima orang.
Selain bersantap kita bertukar makanan yang tersisa untuk dibawa pulang. Pagi itu aku mendapat ketupat, lepet dan dan opor dari beberapa orang. Padahal yang aku bawa dari rumah hanya lontong, sambal goreng dan gulai telur. Tentunya ketupat, gulai telur dan sambal goreng yang kubawa sudah berpindah entah ke baki siapa.
Yang jelas pagi itu ritual selesai dan kami pulang dengan penuh suka cita.
Minggu, 14 Oktober 2012
SAMBATAN VS KERJABAKTI
"Sambatan"
Hmmm....kata itu lama sekali tak aku dengar, hingga akhirnya, tertangkap kembali di gendang terlinga.
Berasal dari kata "SAMBAT" artinya meminta tolong.
Realisasinya?
Adalah gotong royong mengganti atap rumah si penyambat.
Ah betapa ritual ini lama sekali aku rindukan.
Makan pagi berramai-ramai, melingkar dalam satu tampah besar
dengan lauk yang khas
Urap sayuran, ikan asin teri, tempe dan tahu bacem, plus ingkung
Ingkung, atau lebih dikenal dengan sebutan "BEKAKAK"
Itu ritual yang mengawali prosesi sambatan.
Diakhiri dengan membungkus nasi lengkap dengan sayur dan lauknya
dibungkus daun, sebanyak peserta sambatan
untuk dibawa pulang saat istirahat nanti
ditambah bawaan dari penyambat
biasanya berupa bahan mentah, mie instant, telur, dan beras
yang ditempatkan dalam TOMPO
TOMPO adalah bakul kecil
dulunya terbuat dari bambu, tapi sekarang terbuat dari plastik.
Selesai ritual kenduri kecil sambatanpun dimulai
Semuanya seperti otomatis
masing-masing peserta mengambil peran
tanpa banyak komando
Diseling cerita-cerita dan candaan lucu khas bapak-bapak
Kucermati, ternyata bapak-bapak kalau sudah kumpulpun
tak kalah dengan ibu-ibu, NGERUMPI
Tapi rumpian kami, para kaum Adam, jelas berbeda.
Obrolan dari harga pupuk, jenis bambu, musim pete dan durian,
sampai pada sandal yang tertukar di mushalla
semua mengalir dengan segar.
Sampai terdenger kumandang adzan...
waktu istirahat tiba, kamipun pulang, untuk kemudian kembali lagimenyelesaikan SAMBATAN
jam dua nanti.
Pagi-pagi sudah ada pengumuman di muhsalla belakang rumah
kepada seluruh warga RW diharap partisipasinya untu kerja bakti.
Ah
lama juga tak ikut kerjabakti.
Dan jadilah kerjabakti yang pertama kali
setelah belasan tahun lamanya
ada rindu yang menggelegak
kepada ciri dan budaya adiluhung bangsa tercinta
GOTONG ROYONG
Jadilah kerja bakti di hari Minggu pagi
sebagian mengupas dinding semen mushalla
(untuk diganti dinding keramik)
sebagian lagi memindahkan gardu dari hutan jati ke perbatasan kampung kami
dan aku tergabung dalam rombongan pertama
mengelupas dinding mushalla
Ditingkah obrolan dan candaan
yang (mungkin) terdengar bagai hiruk pikuk
pekerjaan hari itu terselesaikan tanpa terasa
Jadi?
Masih lestarikah budaya GOTONG ROYONG
di tempat tinggal kalian?
Apapun bentuknya?
Hmmm....kata itu lama sekali tak aku dengar, hingga akhirnya, tertangkap kembali di gendang terlinga.
Berasal dari kata "SAMBAT" artinya meminta tolong.
Realisasinya?
Adalah gotong royong mengganti atap rumah si penyambat.
Ah betapa ritual ini lama sekali aku rindukan.
Makan pagi berramai-ramai, melingkar dalam satu tampah besar
dengan lauk yang khas
Urap sayuran, ikan asin teri, tempe dan tahu bacem, plus ingkung
Ingkung, atau lebih dikenal dengan sebutan "BEKAKAK"
Itu ritual yang mengawali prosesi sambatan.
Diakhiri dengan membungkus nasi lengkap dengan sayur dan lauknya
dibungkus daun, sebanyak peserta sambatan
untuk dibawa pulang saat istirahat nanti
ditambah bawaan dari penyambat
biasanya berupa bahan mentah, mie instant, telur, dan beras
yang ditempatkan dalam TOMPO
TOMPO adalah bakul kecil
dulunya terbuat dari bambu, tapi sekarang terbuat dari plastik.
Selesai ritual kenduri kecil sambatanpun dimulai
Semuanya seperti otomatis
masing-masing peserta mengambil peran
tanpa banyak komando
Diseling cerita-cerita dan candaan lucu khas bapak-bapak
Kucermati, ternyata bapak-bapak kalau sudah kumpulpun
tak kalah dengan ibu-ibu, NGERUMPI
Tapi rumpian kami, para kaum Adam, jelas berbeda.
Obrolan dari harga pupuk, jenis bambu, musim pete dan durian,
sampai pada sandal yang tertukar di mushalla
semua mengalir dengan segar.
Sampai terdenger kumandang adzan...
waktu istirahat tiba, kamipun pulang, untuk kemudian kembali lagimenyelesaikan SAMBATAN
jam dua nanti.
******
Pagi-pagi sudah ada pengumuman di muhsalla belakang rumah
kepada seluruh warga RW diharap partisipasinya untu kerja bakti.
Ah
lama juga tak ikut kerjabakti.
Dan jadilah kerjabakti yang pertama kali
setelah belasan tahun lamanya
ada rindu yang menggelegak
kepada ciri dan budaya adiluhung bangsa tercinta
GOTONG ROYONG
Jadilah kerja bakti di hari Minggu pagi
sebagian mengupas dinding semen mushalla
(untuk diganti dinding keramik)
sebagian lagi memindahkan gardu dari hutan jati ke perbatasan kampung kami
dan aku tergabung dalam rombongan pertama
mengelupas dinding mushalla
Ditingkah obrolan dan candaan
yang (mungkin) terdengar bagai hiruk pikuk
pekerjaan hari itu terselesaikan tanpa terasa
Jadi?
Masih lestarikah budaya GOTONG ROYONG
di tempat tinggal kalian?
Apapun bentuknya?
Rabu, 10 Oktober 2012
RONDA YUK!
Ronda?
Asing nggak sih?
Pernah nggak?
Atau mungkin di lingkungan tempat tinggal kamu sudah tak ada ronda.
Ronda itu menjaga keamanan di lingkungan tempat tinggal kita
dilakukan secara bergiliran sesama warga.
Dan hari minggu adalah giliranku.
Percaya nggak?
Kalau aku juga baru sekali-kalinya itu seumur hidupku ber-ronda.
Jam sembilan malam aku berangkat dari rumah menuju pos ronda.
Ternyata aku masih sendiri, 2 orang yang dapet jadwal bersamaku belum datang
Setelah mereka datang, kami berbagi tugas.
Seorang jaga pos ronda, seorang keliling lingkungan RT dan aku kebagian mengambil jimpitan.
Jimpitan?
Apa pula itu?
Jimpitan adalah sejumlah uang (dulunya beras) yang telah disepakati bersama
yang tiap malam harus disediakan oleh warga
dan akan di ambil oleh petugas ronda.
Kesepakatan kami, jumlah jimpitan adalah Rp. 200 (Dua Ratus Rupiah)
yang mau kasih lebih juga boleh kok.
Jam 10 malem aku tiba kembali di pos ronda
itung jimpitan dulu ya...
totalnya ada 5.500 (Lima Ribu Lima Ratus Rupiah)
Karena malam itu adalah malam pertama ronda dan pengambilan jimpitan
ada 6 KK yang belum memasang jimpitan di rumahnya.
Jam 11 malem, kami kedatangan tamu
peronda dari RT lain yang masih satu RW.
dia bercerita kalau beberapa hari lalu ada warga di RTnya yang kehilangan mesin pompa air
habis cerita dan ngobrol sana sini, kami sepakat untuk berkeliling bersama.
Kembali ke pos
sambil menunggu waktu berakhirnya ronda
beraneka ragam cerita dituturkan para peronda
dan anehnya, seperti sudahdisepakati
cerita yang kudengar adalah cerita-cerita serem
yang konon merupakan pengalaman mereka sendiri lho
Ah aku jadi inget cerita serem waktu kecilku
melihat hantu kepala, dan tidur dipeluk makhluk aneh.
Mau diceritai nggak?
Lain kali aja ya
Menjelang tengah malam
gerimis datang
obrolan masih berlanjut sampai akhir ronda
kamipun pulang
dan aku dipercaya membawa uang jimpitan
untuk diserahkan ke bendahara RT esok harinya
Hmmm..... pengalaman pertama ronda yang excited.
Kamu punya pengalaman ronda juga?
Ceritain dong
Asing nggak sih?
Pernah nggak?
Atau mungkin di lingkungan tempat tinggal kamu sudah tak ada ronda.
Ronda itu menjaga keamanan di lingkungan tempat tinggal kita
dilakukan secara bergiliran sesama warga.
Dan hari minggu adalah giliranku.
Percaya nggak?
Kalau aku juga baru sekali-kalinya itu seumur hidupku ber-ronda.
Jam sembilan malam aku berangkat dari rumah menuju pos ronda.
Ternyata aku masih sendiri, 2 orang yang dapet jadwal bersamaku belum datang
Setelah mereka datang, kami berbagi tugas.
Seorang jaga pos ronda, seorang keliling lingkungan RT dan aku kebagian mengambil jimpitan.
Jimpitan?
Apa pula itu?
Jimpitan adalah sejumlah uang (dulunya beras) yang telah disepakati bersama
yang tiap malam harus disediakan oleh warga
dan akan di ambil oleh petugas ronda.
Kesepakatan kami, jumlah jimpitan adalah Rp. 200 (Dua Ratus Rupiah)
yang mau kasih lebih juga boleh kok.
Jam 10 malem aku tiba kembali di pos ronda
itung jimpitan dulu ya...
totalnya ada 5.500 (Lima Ribu Lima Ratus Rupiah)
Karena malam itu adalah malam pertama ronda dan pengambilan jimpitan
ada 6 KK yang belum memasang jimpitan di rumahnya.
Jam 11 malem, kami kedatangan tamu
peronda dari RT lain yang masih satu RW.
dia bercerita kalau beberapa hari lalu ada warga di RTnya yang kehilangan mesin pompa air
habis cerita dan ngobrol sana sini, kami sepakat untuk berkeliling bersama.
Kembali ke pos
sambil menunggu waktu berakhirnya ronda
beraneka ragam cerita dituturkan para peronda
dan anehnya, seperti sudahdisepakati
cerita yang kudengar adalah cerita-cerita serem
yang konon merupakan pengalaman mereka sendiri lho
Ah aku jadi inget cerita serem waktu kecilku
melihat hantu kepala, dan tidur dipeluk makhluk aneh.
Mau diceritai nggak?
Lain kali aja ya
Menjelang tengah malam
gerimis datang
obrolan masih berlanjut sampai akhir ronda
kamipun pulang
dan aku dipercaya membawa uang jimpitan
untuk diserahkan ke bendahara RT esok harinya
Hmmm..... pengalaman pertama ronda yang excited.
Kamu punya pengalaman ronda juga?
Ceritain dong
Langganan:
Postingan (Atom)





























