Kamis, 05 April 2012

Perempuan Beraroma Ilalang



            Sinar matahari mulai terasa terik. Keringat mulai membasah. Membentuk butiran-butiran mengalir, berhenti di ujung hidung. Untuk kemudian menetes. Punggung baju mulai kuyup. Asap-asap mulai mengepul. Membubung mengejar ketinggian, untuk kemudian menyebar dan menghilang dibawa angin. Asap dari semak-semak kering yang dibakar. Terdengar suara-suara galah bambu dipukuli. Beberapa lelaki dari seberang sungai kecil yang megalir membelah padang semak-semak yang menghampar luas.

Para lelaki dan beberapa perempuan menyusuri jalan setapak. Meniti jembatan kecil yang terbuat dari potongan potongan kayu yang dipasang melintang diatas aliran sungai. Tak seberapa lebar. Hanya bisa dilewati satu orang. Mendaki tanjakan yang hanya beberapa puluh meter panjangnya. Dan melanjutka perjalanan mereka meuju perkampungan. Tempat sebagian dari mereka tinggal dalam rumah-rumah sederhana mereka.

Perempuan itu mulai mengumpulkan tumpukan ilalang yang usai dibabatnya. Dijejer berbaris rapi di atas batang-batang perdu yang juga usai dibabatnya sejak pagi. Terik matahari tak dirasakannya lagi. Aliran keringat yang membasah di dahinya hanya disekanya dengan selendang tuanya. Sejenak ia berdiri tegak. Kapalanya tengadah, beradu pandang dengan siluanya matahari. “Huuuuhhhhh,” suara hembusan napasnya ia tebar ke rimbunnya padang ilalang dan semak-semak yang ada di depannya.

“Pulang mbah”                       
Perempuan itu berbalik badan. Mencari arah datangnya suara. Seorang perempuan dari rombongan orang-orang yang baru saja mendaki tanjakan tersenyum padanya. Tampak sengal-sengal napasnya. Yang lain membuat hembusan napas panjang seakan serempak.
“Iya, sebentar lagi. Kalian jalan saja dulu. Nanti aku menyusul.”
Perempuan itu kembali menghampiri ilalang yang masih teronggok di beberapa tempat. Dikumpulkan jadi satu. Kemudian kembali dijejer di bawah sinar matahari.

            Suara adzan terdengar samar dari kampung yang ada di sebelah utara. Perempuan itu berangsur, menuju perdu yang masih berdiri dan memberikan tempat berteduh di bawah bayang-bayang dedaunannya. Ia menyusun beberapa rumput kering. Dihamparnya untuk tempatnya duduk. Sejenak melepaskan kelelahannya.  Matanya menyapu hamparan perdu yang telah rata dengan tanah. Sejuruh matanya mengamati jajaran ilalang yang dihamparnya. Mulai layu. 

Perempuan itu bangkit dari duduknya. Meraih sabit yang ada di samping kanannya. Dibabatnya sekelompok perdu di sekitar tempatnya duduk. Terhenti di satu perdu yang bercabang banyak. Dipangkasnya beberapa cabang, disisakannya dua cabang yang dirasanya kuat dan mengarah ke atas. Perdu itu jaraknya tak begitu jauh dari perdu tempatnya duduk tadi.

Dipilihnya beberapa batang cabang perdu sepanjang sedepa. Dibersihkan dari beberapa rantingnya. Disusunnya batang-batang perdu itu memanjang. Menghubungkan dua batang perdu tempatnya berteduh tadi dengan pohon perdu yang baru saja dibersihkannya. Jadilah lorong diantara dua batang perdu itu. Beratap ilalang. Perempuan itu memggelar karung rami dibawahnya. Melanjutkan istirahatnya. Menikmati semilir angin yang gemerisik, bermain di sela-sela dedaunan. Sebentar-sebentar matanya menyipit, merasakan hembusan angin yang mengantar kantuknya. Mengusir terik matahari yang menyengat dan membekaskan warna yang menghitam di kulitnya.

Pikirannya menerawang. Merangkai satu impian tentang keindahan di benaknya. Tentang tanaman jagung yang daunnya hijau segar dan berbuah tongkol-tongkol perkasa. Berwarna kuning dan dan berbiji padat. Atau tentang barisan batang-batang singkong di sepanjang batas ladangnya. Yang membatasi ladang miliknya dengan ladang milik orang lain. Atau membatasi tanaman jagung dengan tanaman kacang tanahnya di ladangnya sendiri. Senyum lelah itu merekah karenanya.

Beberapa jengkal, matahari bergeser ke barat. Meninggalkan jejak bayangan yang berubah arah. Dirapatkannya bunguksan nasi yang baru dihabiskan separuhnya. Di bawanya dari rumah, untuk bekal sampai sore nanti. Ia tak mengikuti peladang-peladang lainnya. Pulang menjelang tengah hari dan kembali ke ladang saat terik tak lagi menyengat. Perjalanannya cukup melekahkan. Yang penting telak dimasaknya untuk suami dan empat anaknya.

Sulungnya, bocah lelaki itu paham betul akan kewajibannya terhadap adik-adiknya. Sedang suaminya, bukanlah golongan priyayi yang mesti dilayani dan disediakan segala keperluannya. Hanya seorang tukang besi yang lebih sering melewatkan waktu makan siangnya. Termos air panas yang penuh, gula pasir dan kopi bubuk cukup menjadi pengisi perunya di siang bolong. Berteman rokok dari tembakau, cengkih dan kertas sigaret yang dilintingnya sendiri.

            “Lho, nggak pulang to mbah?”
Seorang perempuan muda yang berjalan di belakang suaminya berhenti sejenak. Membiarkan suaminya terus berjalan menuruni jalan menuju sungai. Meniti jembatan dan kemudian mendaki tanjakan dan berbelok menuju ladangnya sendiri. Tinggal beberapa rumpun semak-semak yang masih harus dibabat.

“Besok sudah bisa dibakar mbah. Apalagi hari ini panasnya cukup membuatnya layu. Tak usah menunggu kering,”  matanya menyapu tumpukan semak-semak yang telah terbabat.

Perempuan itu hanya tersenyum, sambil tetap mengumpulkan semak-semak dan rerumputan yang telah dibabatnya. Dikumpulkan menjadi beberapa kelompok. Terpisah jauh dari kumpulan ilalang yang telah di susunnya dengan rapi.

Beberapa orang kemudian bermunculan. Mereka kembali ke ladang masing-masing setelah melewatkan waktu istirahat di rumah. Beberapa menyempatkan untuk sekedar bertegur sapa. Beberapa juga terlibat obrolan yang tak begitu lama.

Matahari semakin condong ke barat, membuat bayang-bayang badannya semakin memanjang ke arah timur. Perempuan itu berdiri tegak. Menandang beberapa rumpun ilalang beberapa depa di depannya. Pikirannya mengukur semak-semak yang masih harus dibabatnya.
“Ah sore nanti semua akan terbabat habis,” pikirnya memberi keyakinkan pada dirinya sendiri.
Hari itu adalah hari ke empat sejak ia mengawali perkejaannya sebagai peladang. Mengawali membabat semak-semak dari ujung timur lahan ladangnya. Ia temasuk beruntung, ladangnya  ada di medan tanah yang datar. Sementara banyak peladang lain yang mengeluhkan ladang mereka yang merada di medan tanah yang miring dan bergelombang, naik turun.

Matahari semakin jauh ke barat. Sementara baying-bayang semakin jauh memanjang. Rumpun terakhir terbabat sudah. Tersisa onggokan-onggokan perdu dan semak-semak rerumputan yang lusuh, berserakan di hamparan tanah sedikit lembab. Perempuan itu menghampiri penduh yang dibuatnya sendiri siang tadi. Mengemasi sabit dan keranjang kecil. Kemuian ikut berbaur bersama rombongan peladang lain, kembali ke rumah masing-masing.

            Matahari menyorotkan sinarnya dengan leluasa. Tanpa penghalang yang berarti. Hampir semua semak dan perdu terbabat habis. Berganti dengan kepulan asap asap tebal di sana-sini. Para peladang hampir serempak membakar rerumputan dan perdu-perdu yang mulai mengering.

Terdengar teriakan saling bersahut-sahutan. Begitulah mereka bercakap-cakap dari lahan ladang masing-masing.
“Rampung mbah?” Teriak lelaki dari tetangga ladang sebelah barat. Perempuan itu memandang tegak. Dahinya mengkerut, mencari sumber suara.
“Rampung.” Jawabnya singkat. Tanganya masih sibuk menyimpul tali dari ilalang. Menyambung dua batang kayu untuk tiang dan atap gubuknya. Sebelum tengah hari nanti, ia ingin gubuknya selesai. Bisa dipakainya untuk berteduh. Ilalang-ilalang yang telah layupun selesai dipilihnya, untuk dibuat atap dan sekedar dinding penahan angin. Jika gubuk itu sudah jadi, ia baru mengijinkan anak-anaknya ikut pergi ke ladang. Seperti anak-anak peladang yang lain.

Sejengkal lagi matahari tepat berada di atas bumi. Ikatan terakhir diselesaikannya. Menandai rampungnya pemasangan atap ilalang di atas gubuknya. Disusunnya ilalang-ilalang yang tersisa sebagai lantai. Iapun terduduk dibawah gubuk yang baru saja diselesaikannya. Menarik napas panjang. Matanya berkeliling memandangi tumpukan perdu yang perlahan habis terbakar. Menyisakan abu yang beterbangan mengikuti gejolak angin.
Samar-samar dari balik asap yang meliuk-liuk dimainkan angin, dua sosok kecil berlarian sambil berteriak memanggil namanya.
“Maaaakkkkkk” suaranya samar. Beradu dengan gemeretak kayu-kayu perdu yang terbakar.
“Tadi aku nanya orang yang yang disana, letak ladangnya emak” si sulung menjelaskan. Sambil tangannya menunjuk ke sosok yang lelaki yang tampak sedang bersiap untuk pulang.
“Mak tidak pulang? Itu orang-orang pada pulang mak” tanya adik perempuan si suung. Ia tak menjawab, hanya mendorong punggung anaknya untuk segera masuk ke gubuk. Dibukanya selendang yang menutup keranjangnya. Bekal nasi, tumis kangkung dan ikan asin bakar disodorkannya kepada kedua anaknya yang duduk bersila di lantai gubuk.

Dipandanginya kedua anaknya yang lahap makan. Dibiarkannya pikirannya mengembara dengan berbagai pertanyaan yang ia coba cari sendiri jawabnya. Hari ini semua perdu telah terbabat dan terbakar habis. Besok harus mulai mencangkul. Kemudian menanam benih, memupuk, menyiangi gulma. Ah, mampukan ia kerjakan sendiri? Bahkan benih apa yang akan ditanampun, dia belum tahu.

Ia tak pernah iri dengan peladang lain yang bisa mengerjakan ladangnya bersama. Suami dan istri. Suaminya bukan tak mau diajaknya berladang. Tapi lebih mencintai pekerjaannya sebagai tukang besi. Di musim ladang seperti sekarang ini, pekerjaannya hampir tak pernah sepi. Entah petani yang memperbaiki cangkul, sabit atau apapun peralatan mereka. Meski pekerjaannya dihargai sangat murah.

Ia juga yang awalnya bersikeras ingin berladang. Seperti orang-orang lain di kampungnya. Punya hasil panen. Ia juga yang bertekat untuk bisa menyelesaikan semuanya sendiri. Dan sore ini, seperti juga peladang yang lain. Ia telah selesai membabat seluruh semak-semak menjadi lahan yang siap untuk dicangkul. Besok pagi, ia harus menyiapkan raganya untuk mencangkul tanah yang masih setengah lembab itu.

            “Tanami jagung saja mbah. Bibit tak usah dipikir, nanti bisa ngutang di kelompok tani. Dibayar setelah panen. Pupuk juga begitu” kata lelaki yang ladangnya bersebelahan. Sore itu, mereka bersiap pulang meninggalkan ladang. Kedua anaknya sudah berjalan di depan. Sambil berlari-lari kecil dan bersendau gurau dengan teman sebayanya. Anak-anak peladang lain yang juga menyusul orang tua mereka selepas sekolah.

Senja mulai menapak. Perempuan itu memasuki pekarangan rumahnya. Ada warna cerah di rona wajahnya. Setidaknya satu permasalahan teratasi. Tinggal menyiapkan segenap raganya, sampai masa itu datang. Masa tanam.


Indramayu, 01 April 2012

Senin, 05 Desember 2011

POHON RANDU


Entah sudah berapa belas atau bahkan dua puluhan tahun lebih pohon randu itu berdiri tegar di sudut pekarangan bapakku. Yang aku ingat sejak aku masih SD buahnya sering dijual oleh bapak kepada tengkulak, sebagai tambahan biaya sekolahku dan adik-adikku. Cabangnya yang banyak, meski tak bisa dibilang rimbun sering dimanfaatkan oleh penjaja keliling atau siapapun yang lewat untuk berteduh.
Bapakku sendiri tidak pernah tahu, siapa penanam pohon randu itu, entah kakek,  entah tumbuh dengan sendirinya. Yang diingatnya, waktu aku kelas 2 Sekolah Dasar, pernah aku terjatuh sehingga cedera tulang tangan kiriku dan menjadi bengkok. Setelah dibawa ke sangkal putung, selain terapi urut bapak disarankan untuk membebat tanganku dengan kulit kayu randu yang besarnya sebanding dengan lenganku. Hal itu pula untuk pertama kalinya aku tersadar bahwa di sudut pekarangan bapak telah tumbuh sebatang pohon randu. Waktu itu tingginya hampir sama dengan tinggi wuwungan atap rumah, dengan beberapa cabang yang tumbuh ke segala arah mata angin dan dihiasi dengan beberapa bunga dan bakal buah yang mengering. Bapak memotong salah satu cabangnya untuk dijadikan bebat tanganku.
Entah berapa belas kali atau lebih dari dua puluhan kali, setiap aku pulang ke kampung halaman, pohon randu itu selalu menjadi titik perhatianku. Karena begitu banyak arti pohon itu pada masa kecilku. Entah untuk bapakku, apakah pohon randu itu juga berarti untuknya. Yang aku tahu, meski sudah tua dan beberapa cabangnya mulai lapuk, pohon randu itu masih kokoh di sudut pekarangan.
Masih sering kulihat juga, penjaja keliling atau orang lewat yang sekedar berteduh di bawahnya. Bahkan tak jarang beberapa anak-anak muda dengan motor mereka berkumpul di bawah pohon randu tua itu, entah apa yang mereka percakapkan di sana, yang jelas pohon randu itu membuat mereka betah berlama-lama bercanda dan tertawa-tawa di bawahnya. Meski terkadang mereka harus merasakan sakitnya tertimpa bakal buah randu yang berjatuhan
...
................
..............................
.......................................

Selasa, 29 November 2011

PELET

P E L E T

          Seperti malam sebelumnya, terdengar perlahan dia terbangun dari tidurnya. Suara berikutnya adalah suara gemerincing kunci motor yang tergantung di paku yang terrtancap di kusen pintu, diambilnya dengan perlahan, seoalah tak ingin suaranya terdengar oleh siapapun. Dengan mengendap endap ia menuju kamar mandi, mencuci muka untuk menghilangkan sembab dan bangun dari rasa kantuk. Sejurus kemudian kudengar pintu terbuka dan samara-samar dapat kulihat dia mengeluarkan motornya. Dijalankannya tanpa menghidupkan mesinya. Setelah lepas di jarak tertentu, baru terdengar suara motor dihidupkan.

Sudah tiga hari ini, tiga dini hari ini, dia pergi secara sembunyi sembunyi. Ke mana tujuannya, aku belum tahu. Tapi aku berniat, setelah pagi ini akan kucari tahu. Ke mana perginya, untuk apa dan dengan siapa. Hal yang aneh, sangat jauh dari perangainya yang kutahu. Mungkin teman-teman dekatnya ada yang tahu, persoalan apa yang sedang dihadapinya. Pelikkah, atau justru memalukan jika ia harus menceritakannya kepadaku, bapaknya.


          Kegelisahannya jelas terlihat sebelum daia beranjak ke kamarnya. Entah apa yang sedang mengganggu pikirnanya. Tidak biasanya pula ia memendam persoalannya sendiri. Atau mungkin dia sedang mencari jalan keluarnya sendiri. Bisa jadi, mengingat usianya yang tengah menginjak dewasa, sehingga merasa gengsi atau terusik jika harus meminta saran orang lain untuk mencari jalan keluarnya.

Kucoba bertanya kepada beberapa orang yang mengenalnya secara dekat. Merekapun tak tahu kemana perginya, anak lelakiku pergi menjelang pagi-pagi buta. Dan itu sudah tiga hari berturut-turut dia lakukan. Yang membuatku herasn kembalinya tak penah sendiri, selalu bersama salah seorang temannya. Itupun tak pernah sempat aku bertanya apapun. Karena begitu sampai dirumah, dia kembali melanjutkan tidurnya dan temannya bergegas pergi dengan membawa motornya.

Berbagai pikiran hilir mudik dalam benakku, hanya bisa menerka-nerka. Yang ada hanya beberapa pikiran-pikiran buruk silih berganti. Jangan-jangan dia mulai menjadi pemakai obat-obatan terlarang, atau malah lebih parah lagi dia ikut dalam sindikat pengedarnya. Ah, pikiran itu yang selalu menghantui pikiranku. Apakah sebagai wujud pemberontakannya waktu tak kuijinkan pergi ke Jakarta bersama teman-temannya untuk mencari pekrjaan? Mungkin saja. Tapi laranganku bukan tak beralasan, sudah kujelaskan secara gamblang padanya dan dia mau mengerti.

          Kutelusur kembali masa-masa yang telah lewat, mencari kesalahan-kesalahanku dalam memperlakukan anak lelakiku itu. Yang kudapati, selalu buntu. Yang kutahu, kami selalu terbuka membicarakan berbagai masalah. Aku mengenal semua teman-temannya, teman dilingkungan rumah , teman-teman sekolahnya dulu, bahkan kini akupun berusaha untuk bisa mengenal dekat teman-teman kuliahnya. Ah, anak lelakiku. Aku berusaha untuk bisa menjadi teman, guru dan penasehat baginya. Aku berusaha untuk bisa ikut mengerti jalan pikiran anak-anak seusianya, kebiasaan-kebiasaan mereka, bahkan hal-hal yang sedang menjadi trend bagi anak-anak seusianya. Aku lebih memilih rumahku menjadi markas bagi kelompoknya daripada dia pergi ke tempat lain yang tak bisa kulihat dan kutahu apa saja yang diperbuatnya.

Dengan berkumpulnya teman-temannya di rumah, aku bisa mengontrol pergaulan anak lelakiku. Apa saja yang mereka lakukan, mereka sukai dan menjadi keingian mereka. Pernah aku dimarahi habis-habisan oleh ibunya saat tahu anak lelakiku mulai merokok waktu kelas dua SMA, itu dia lakukan bersama-teman-temanya pula saat berkumpul di rumah. Entah mengerjakan tugas sekolah, entah berbincang tentang teman-teman gadis mereka, atau entah hanya sekedar nongkrong dan ngobrol yang tidak jelas arah tujuannya.

“Biarlah bu, selama tidak minta uang ke kamu untuk memberli rokok. Mungkin dia sisihkan dari uang jajannya. Lebih baik dia merokok di rumah bersama teman-temannya, dari pada entah dimana yang kita sendiri tidak tahu. Nanti tahu-tahu malah melakukkan hal-hal yang tidak diinginkan, mencuri, madat, mabuk, atau malah menjadi pengganggu wanita dalam arti yang lebih ekstrem. Biara dia lakukan itu, toh hanya merokok dan itu di rumah, dalam wilayah pengawasan kita”

Berali kali aku berikan penjelasan yang serupa, sampai akhirnya istriku bisa mengerti. Bahkan aku relakan membiayai teras rumah untuk dibuat sedemikian nyaman buat anak lelakiku dan teman-temannya berkumpul. Tak jarang mereka sampai tertidur dan terbangun pagi harinya untuk kembali ke rumah masing-masing. Mereka menjuluki rumah kami sebagai ‘base came’. Kadang sampai tengah malam mereka masih ngobrol dan memutar musik yang mereka sukai, yang aku sendiri kadang gak habis piker. Musik Cuma genjrang genjreng dan gedebag gedebug tak karuan. Sebagai imbasnya kami harus mengalah dan memindahkan kamar kami ke belakang supaya bisa bebas dari suara berisik mereka.
“Tapi iangat, jangan sampai tetangga merasa terganggu dengan kegiatan kalian di sini.” Hanya itu saja pesan yang kusampaikan pada mereka

*****

          Kembali terdengar suaranya terbangun dari tidurnya, terdengar pula suara gemerincing kunci motor yang beradu dengan gantunganannya, juga paku yang menancap di dinding. Kuperhatikan dengan seksama, pelan pelan pintunya terbuka. Kulihat langkahnya yang seakan mengendap-endap, sejurus terdengar pekik tertahan. Ah, usahaku membawa hasil.  Sengaja aku letakkan keset basah di depan pintu kamarnya. Supaya setelah menginjaknya membuatnya terkejut dan membuatnya tersadar sepenuhnya.

Selepas tengah malam, sengaja aku pindah tidur di karpet ruang tengah, di depan kamarnya, tempat biasa kami berkumpul untuk sekedar ngobrol dan nonton televisi, dimana bisa kuperhatikan dengan jelas pintu kamarnya dan seluruh ruangan belakang. Dengan berpura-pura terlelap, kuperhatikan semua gerak geriknya. Bagaimana dia membawa keset basah itu ke belakang, meletakkanya di depan pintu kamar mandi. Keluar dari kamar mandi dan menyeka wajahnya, aku yakin ia selesai mencuci mukanya. Tergambar dia akan kesulitan membuka pintu karena kuncinya memang sengaja aku bawa, tak lagi melekat di tempatnya.

Yang kulihat berikutnya, sama sekali tak pernah terlintas dalam pikiranku. Dia berusaha membuka pintu bagai orang kesetanan, ditarik-tairknya gagang pintu dengan paksa hingga menimbulkan suara berisik, membuat ibunya terbangun dan terkaget kaget melihat perbuatan anaknya. Secara naluriah lampu dinyalakanya dan anak lelakiku terkejut bukan kepalang.

Kegusaranya semakin menjadi, melihat kami berdua memperhatikan tingkah polahnya. Dia berlari kembali masuk ke kamar mandi, beberapa saat kemudian keluar dengan keadaan basah kuyup. Dia mandi dengan tanpa melapas pakaiannya. Dengan tergesa-gesa ia kembali masuk ke kamarnya, tanpa menghiraukan kami yang sedang terheran-heran dengan kelakuannya. Selang beberapa saat ia keluar lagi dari kamarnya, masih dengan pakaian yang basah kuyup. Napasnya tersengal-sengal dan matanya memerah.

“Pak, dia kenapa? Kenapa bapak diam saja melihat dia berlaku aneh speperti itu”
“Ibu tenang saja, besok bapak jelaskan semuanya. Sementara ini ibu ikuti saja apa yang bapak lakukan. Duduk tenang dan perhatikan apa yang dia lakukan”

Selesa memberi penjelasan itu kepada istriku, aku tarik anak lelakiku kembali masuk ke kamar mandi. Aku guyuri dia dengan air bertubi-tubi hingga napasnya tersengal-sengal, megap-megap, hingga entah berapa lama aku mengguyuri dia dengan air, sampai dia benar-bener lemas, terduduk di lantai kamar mandi. Aku bangunkan dan kupapah masuk kembali ke kamarnya.

Kutelanjangi anak lekaki ku dan kutidurkan kembali di kasurnya, aku selimuti dan kutunggui disampingnya. Jelas terlihat napasnya tersengal dengan lemah. Biadab, mungkin saat itu aku akan disebut bapak yang biadab bagi orang yang tidak tahu permasalahan yang sedang aku hadapi. Kubiarkan anak lelakiku tertidur dalam kelelahan dan kelaparan. Ibunya masih dengan wajah kebingungan memperhatikan apa yang aku lakukan dari pintu kamar.

          Menjelang tengah hari anak lelakiku terbangun, dengan sempoyongan dia berjalan keluar dari kamarnya. Kupanggil dia ke meja makan dan kami makan bersama. Aku, istriku, anak lelakiku dan kedua orang adiknya, meski waktu belum menunjukkan jam makan siang. Hari itu aku minta istriku untuk masak belut panggang dibumbu santan kesukaan anak lelakiku dan sayur bening daun kelor, sebagaimana dipesankan oleh kyai yang kutemui kemarin.

“Apa besok-besok sudah tidak ada waktu lagi untuk bertemu perempuan itu?”
“Perempuan, ini ada apa sih pak?” Ibunya tiba-tiba menyela. Kupandang matanya sekilas dan aku mengangguk, memberi isyarat untuk diam dan mendengarkan dulu sampai aku selesai bicara. Aku cukup memaklumi kebingungan istriku. Tiga hari ini tak pernah kuberitahu kelakuakn aneh anaknya, juga upayaku untuk mendatangi kyai yang dianggap orang pintar

“Kalau masih juga kamu lakukan yang seperti itu lagi, pergi tengah malam diam-diam untuk perempuan itu. Maka bapak tidak akan segan-segan memandikanmu tengah malam seperti tadi, sampai kamu lemas, tak mampu berjalan. Perempuan itu siapa? Jauh-jauh kamu temui. Kamu sadar tidak, kalau kamu itu sedang dipelet perempuan itu? Kamu lakukan hal-hal yang diluar nalar. Orang yang sedang dimabuk kasmaranpun tak akan melakukan hal gila seperti kamu. Setiap dini hari pergi diam-diam hanya untuk menemui dia. Kamu harus bisa lupakan perempuan itu. Kalau memang dia suka sama kamu, tentunya tak akan membuatmu bertindak gila”

Anak lelakiku terdiam, aku yakin secara sadar dia bisa mengerti apa yang aku jelaskan. Dia sudah tidak lagi dipengaruhi sihir pelet yang ditujukan padanya. Setidaknya begitulah yang dijelaskan kyai itu. Ibunya juga baru menyadari kalau anaknya dipelet oleh perempuan yang menyukainya. Ku katakan padanya untuk mendukung apapun yang kulakukan untuk membebaskan anak lelakiku dari pengaruh pelet itu.

          Malam berikutnya terulang lagi hal yang sama, dan kuulangi hal yang sama pula terhadap anakku.
“Kamu tahu tidak kalau kamu itu sdang sakit. Sakit jiwa, memang bukan gila, tapi segala tindakan yang kamu lakukan semuanya diluar nalar sehat.” Kucoba memberi penjelasan yang berbeda dengan hari sebelumnya. Keinginanku hanya supaya dia paham, dia sadar, dia ngerti, bahwa dia sedang dipelet orang dan aku, bapaknya, sedang berusaha keras untuk membebaskannya. Dia hanya terdiam.

Sampai pada hari keenam, anak lelakiku sudah mulai terlihat kelelahan. Kelelahan jiwa dan raganya. Jiwanya lelah diserang oleh sihir yang dikirm orang lain untuk mempengaruhi jiwanya dan lelah mencerna setiap penjelasan yang aku coba sampaikan kepadanya. Raganya lelah harus selalu terbangun saat harus beristirahat dan kemudian menerima perlakuan tak sewajarnya, kumandikan sampai lemas tak berdaya. Wajahnya nampak semakin pucat, badannya terlihat semakin kurus.

“Apa tak ada cara lain pak.” Begitu ibunya pernah bertanya.
“Kita coba dulu bu, terlalu dini untuk menilai cara ini berhasil atau gagal.”

          Malam ketujuh. Masih kuperhatikan pintu kamar anakku. Tak ada suara apapun. Malam-malam kemarin saat-saat menjelang dinihari seperti ini dia mulai terbangun. Satengah jam berlalu, tak ada kejadian apapun. Satu jam berlalu, semua masih terdiam. Kudekati kamarnya, kubuka pintunya, tak terkunci. Terlihat dia terbaring diam, dari mulutnya kudengar suara tak jelas. Kudekati dan kupegang tangannya. Astaga, kenapa jadi panas begini. Kupegang dahinya, panas. Kubangunkan ibunya.

“Dia demam, bapak sih keterlaluan memperlakukan dia.” Aku terdiam, ada sedikit rasa sesal jika memang dia demam akibat dari perlakuanku. 
“Tidak bu, bapak benar. Beberapa hari kemarin aku seperti mendengar panggilanya dan tak bisa kutunda lagi untuk memenuhi panggilan itu “ suaranya lemah, hampur tak terdengat.
“Malam ini aku benar-benar lelah, tak lagi mampu memenuhi panggilan itu. Apa benar aku kena pelet pak? Kalau benar, aku ingin tak mendengar panggilannya lagi untuk menjemputnya”

Aku tersenyum. Kata orang pintar yang kutemui, jika anakku sudah menyadari pengaruh pelet itu di pikirannya, pertanda ia mulai terlepas dari pengaruh pelet yang dikirim kepadanya. Kupeluk erat anak lelakiku, dan berharap tak ada lagi kejadian seperti beberapa malam terakhir yang menguras tenaga dan pikiranku.

***
Denpasar, Juli 2005

Minggu, 14 Agustus 2011

Saat buka puasa

Suara adzan berkumandang
beberapa teman kerja bergegas mengambil gelas dan menuang teh manis
yang selama bulan puasa ini memang selalu tersedia di gudang

Teh manispun menghuni perut
Alhamdulillah, puasa hari ini tunai sudah
soal pahala dan bobotnya?
hanya Dia yang berhak menilai

Tukang tahu gejrot mangkal di depan toko
beberapa teman memesan
termasuk aku
tanpa bawang merah, banyakin bawang putih,
cabe sebiji, garam seujung sendok teh
Alhamdulillah lagi
Seporsi tahu gejrot menghuni perut

Mengembalikan cobek kecil
pak tahu gejrot sedang makan nasi bungkus di pojokan toko
"Pak boleh kok ambil tempat yang terang dan bersih"
"Terima kasih, disini saja" jawabnya.
"Jualan sampai jam berapa pak"
"Sampai habisnya tahu?"
"Kan masih segitu banyak"
"Biasa, kalau puasa menjelang maghrib baru jalan
 jadi pas sama waktu buka puasa
 kalau siang, takut banyak yang pengin,
 nanti saya dosa, membuat batal puasa orang"

Deg.......
Bertolak belakang
dengan realita kebanyakan orang kita
bekerja di tempat sejuk, mondar mandir naik mobil,
meskipun itu angkutan umum
atau setidaknya motor
kerja tak begitu mengerahkan tenaga
tapi begitu mudahnya meninggalkan kewajiban puasa
kewajiban yang hanya  datang setahun sekali

Masih mungkir?
Coba lihat warteg, warung tenda, warung makan,
rumah makan, cafe, resto, fastfood dan sejenisnya.
Tetap ramai pengunjung pada waktu makan siang.
Dan tak sedikit dari mereka adalah kaum muslim

"Pak titip gerobak sebentar
 saya numpang sholat dulu di masjid sebelah"
Pak tahu gejrot membuyarkan lamunanku.

Selesai dia sholat maghrib
"Ramai pembeli nggak pak selama puasa"
"Alhamdulillah, tetep ada yang beli
 lumayan, buat beli bahan baju untuk kedua anak perempuan saya
 biasanya emaknya yang menjahit sendiri dengan tangan"

Pak tahu gejrotpun berlalu
Dan bermacam rasa simpang siur melewati pikiranku
Tuhan, hinanya aku yang sering lupa bersyukur.


Selasa, 09 Agustus 2011

Catatan Ramadhan 2011 - Puasa Bersama Televisi Kita

Ramadhan demi ramadhan.........
Kegaluan demi kegaluan..........
Tahun demi tahun..............
Tahun ini entah yang keberapa.......

Personal opinion :
Setiap Ramadhan tiba
(maaf mau memebetulkan...lafadnya adalah diucapkan "ROMADHON" 
itu kalau kita bisa baca Al Qur'an atau setidaknya pernah ngaji
jadi bukan diucapkan RAMADHAN .............)
Televisi kita 
Berlomba-lomba menayangkan yang disebut sinetron religi

Di mana letak religinya?
Yaitu pada busana para pelakonnya yang berubah total menjadi busana muslim
Ucapan-ucapannya berusaha untuk memperbanyak kalimah toyibah
meski pelafalannya masih banyak yang keliru dan justru banyak ditiru masyarakat

Isinya?
Masih dengan problema dan intrik klasik persinetronan yang masih jauh diatas awan
jauh dari keseharian masyarakat yang masih memerlukan banyak pencerahan
agar masyarakat kita mampu berpikir secara analitis, produktif dan kritis
supaya bisa bersama-sama bangkit dari keterpurukan bangsa ini yang masih terus berlanjut

Kenapa?
Karena Televisi adalah satu-satunya media informasi dan sarana hiburan,
yang dapat diakses secara masal dengan mudah dan murah.
Justru sebagian besar hanya menyajikan tayangan-tayangan yang semakin melenakan
masyarakat kita dengan dunia khayalnya.....semakin jauh dari dunia nyatanya.

Kembali ke Laptop !!!!
Eh kembali ke Ramadhan
(maaf ya kang Tukul......trade marknya aku pinjam)
Televisi kita dipenuhi dengan yang disebut sinetron religi
 yang menemani sebagian besar masyarakat negeri ini menjelang atau selepas buka puasa.
Waktu sahurpun ditemani dengan berbagai macam kuis dengan hadiah yang menggiurkan
ditemani beberapa komedian untuk bersama-sama berhaha..hihi.....

Lalu dimana upaya pencerahan umat?
Bukan tidak ada, kalaupun ada, prosentasenya sangat minim.
Bertolak belakang dengan moment bulan yang teramat suci itu sendiri.

Realita yang terlihat
Tak jauh-jauh, ada disekitar tempat tinggalku sendiri...
Jarang ada suara tadarusan (hanya satu dua rumah saja)
karena waktu tadarusannya dihabiskan untuk melihat sinetron
dan masih penasaran dengan kelanjutan cerita hari kemarin.
Saat waktu sholat tarwih tiba........
Ha..! Masih sama.
Sayang untuk melewatkan waktu untuk sejenak tertawa-tawa bersama tayangan komedi.
Sebagian juga masih melanjutkan sinetronnya dengan cerita yang berbeda.
Akhirnya............
Demi tayangan televisi yang sangat menarik.......
Tak ada tadarus dan tarawih untuk malam ini, sama dengan malam kemarin, entah untuk esok malam...

Hmmmm............
Rasanya juga tak sampai hati untuk menggugat para Pemuka Muslim maupun Para Ulama
untuk meluangkan waktunya memberi sedikit perhatian atas upaya pencerahan umat.
Paling hanya bisa kusimpan sebagai  keprihatinanku sebagai bagian umat
yang terus berusaha mencari pencerahan sendiri.

Hanya bisa memohon, agar jalan yang tertempuh bukanlah jalan yang terlalu jauh sesatnya.


Itu sebabnya....
Di tempat tinggalku aku lebih suka tiviku membisu, diam dan tidur di sudut ruangan.
Mengingat televisi yang harusnya memberi manfaat kok malah lebih banyak mudharatnya ya.....

Hmmmm......................
(Berpikir dan bertanya dalam hati?)
"Salahkah aku menilai jika kualitas bangsa ini sedang mengalami penurunan?"


Sabtu, 23 Juli 2011

kata sahabat

Seorang sahabat, seorang programmer, pernah bilang padaku..
"Sebenarnya hampir semua program kamu ngerti.
  diajak diskusi selalu nyambung, tapi semuanya masih overall
  coba kamu kuasai salah satunya dengan secara detail
  suatu saat kamu pasti bisa menciptakan satu program sendiri"

Degh!!!!.....
Aku setuju dengan pendapatnya
Terlalu banyak buku yang telah kulahap
tapi semuanya masih mengupas kulitnya
belum sampai pada isinya

Sekarang, aku sedang gandrung dengan dunia menulis..
kembali pesan seorang sahabat mengingatkanku
untuk mengambil salah satu dari sekian banyak yang ada
karena aku ingin ada hasilnya

***mas Fathur........pesanmu sudah menjadi bagian dari prinsip hidupku
      terima kasih telah mengingatkanku

Rabu, 29 Juni 2011

Renungan Diri

Hari ini, Rabu 29 Juni 2011
Melayat seorang kenalan, hampir tiap hari kami bertemu
istrinya pernah bekerja dalam satu atap denganku.
Dia meninggal dini hari tadi
kira-kira jam 2, korban tabrak lari
Meninggalkan seorang istri dan seorang anak balita

Berduyun-duyun kami mengantar sampai pemakaman
riuh rendah suara pelayat
sebagian menceritakan kejadian semalam
yang berujung pada ajal yang menjemputnya

Aku melongok ke liang lahat
warna merah darah masih membekas di kafannya
bagian kepala
sesaat kemudian,
ramai-ramai lahat ditimbun
dua tonggak kayu ditanam
salah satu bertulisan namanya dan tanggal hari ini.

Doa-doa kami panjatkan
dan pembacaan talqin mengingatkanku tentang kematian
untuk kemudian kami pulang,
meninggalkan dia sendiri
terbaring di liang lahatnya

Cerita demi cerita tentang almarhum mengalir
tentang tabrak larinya
tentang sehari sebelumnya
tentang firasat firasat keluarganya

Dan......
tentang keadaannya yang sedang mabuk
menjadi penyebab kecelakaan itu
Astaghfirullah
Na'udzubillahi min dzalik
kemungkaran telah mengantarnya menghadap sang khalik
(mungkin) belum sempat istighfar terucap
(mungkin pula) belum sempat taubat

Merinding,
miris
Ya Rabbunallah
Mohon jalan dan kemudahan bagi taubatku
diantara timbunan dosa-dosa yang telah menenggelamkanku dalamnya
sebelum malaikatMu tertitah mengambil titipanmu
hidupku
nyawaku...........
Amin