Suara adzan berkumandang
beberapa teman kerja bergegas mengambil gelas dan menuang teh manis
yang selama bulan puasa ini memang selalu tersedia di gudang
Teh manispun menghuni perut
Alhamdulillah, puasa hari ini tunai sudah
soal pahala dan bobotnya?
hanya Dia yang berhak menilai
Tukang tahu gejrot mangkal di depan toko
beberapa teman memesan
termasuk aku
tanpa bawang merah, banyakin bawang putih,
cabe sebiji, garam seujung sendok teh
Alhamdulillah lagi
Seporsi tahu gejrot menghuni perut
Mengembalikan cobek kecil
pak tahu gejrot sedang makan nasi bungkus di pojokan toko
"Pak boleh kok ambil tempat yang terang dan bersih"
"Terima kasih, disini saja" jawabnya.
"Jualan sampai jam berapa pak"
"Sampai habisnya tahu?"
"Kan masih segitu banyak"
"Biasa, kalau puasa menjelang maghrib baru jalan
jadi pas sama waktu buka puasa
kalau siang, takut banyak yang pengin,
nanti saya dosa, membuat batal puasa orang"
Deg.......
Bertolak belakang
dengan realita kebanyakan orang kita
bekerja di tempat sejuk, mondar mandir naik mobil,
meskipun itu angkutan umum
atau setidaknya motor
kerja tak begitu mengerahkan tenaga
tapi begitu mudahnya meninggalkan kewajiban puasa
kewajiban yang hanya datang setahun sekali
Masih mungkir?
Coba lihat warteg, warung tenda, warung makan,
rumah makan, cafe, resto, fastfood dan sejenisnya.
Tetap ramai pengunjung pada waktu makan siang.
Dan tak sedikit dari mereka adalah kaum muslim
"Pak titip gerobak sebentar
saya numpang sholat dulu di masjid sebelah"
Pak tahu gejrot membuyarkan lamunanku.
Selesai dia sholat maghrib
"Ramai pembeli nggak pak selama puasa"
"Alhamdulillah, tetep ada yang beli
lumayan, buat beli bahan baju untuk kedua anak perempuan saya
biasanya emaknya yang menjahit sendiri dengan tangan"
Pak tahu gejrotpun berlalu
Dan bermacam rasa simpang siur melewati pikiranku
Tuhan, hinanya aku yang sering lupa bersyukur.
Minggu, 14 Agustus 2011
Selasa, 09 Agustus 2011
Catatan Ramadhan 2011 - Puasa Bersama Televisi Kita
Ramadhan demi ramadhan.........
Kegaluan demi kegaluan..........
Tahun demi tahun..............
Tahun ini entah yang keberapa.......
Personal opinion :
Setiap Ramadhan tiba
(maaf mau memebetulkan...lafadnya adalah diucapkan "ROMADHON"
itu kalau kita bisa baca Al Qur'an atau setidaknya pernah ngaji
jadi bukan diucapkan RAMADHAN .............)
Televisi kita
Berlomba-lomba menayangkan yang disebut sinetron religi
Di mana letak religinya?
Yaitu pada busana para pelakonnya yang berubah total menjadi busana muslim
Ucapan-ucapannya berusaha untuk memperbanyak kalimah toyibah
meski pelafalannya masih banyak yang keliru dan justru banyak ditiru masyarakat
Isinya?
Masih dengan problema dan intrik klasik persinetronan yang masih jauh diatas awan
jauh dari keseharian masyarakat yang masih memerlukan banyak pencerahan
agar masyarakat kita mampu berpikir secara analitis, produktif dan kritis
supaya bisa bersama-sama bangkit dari keterpurukan bangsa ini yang masih terus berlanjut
Kenapa?
Karena Televisi adalah satu-satunya media informasi dan sarana hiburan,
yang dapat diakses secara masal dengan mudah dan murah.
Justru sebagian besar hanya menyajikan tayangan-tayangan yang semakin melenakan
masyarakat kita dengan dunia khayalnya.....semakin jauh dari dunia nyatanya.
Kembali ke Laptop !!!!
Eh kembali ke Ramadhan
(maaf ya kang Tukul......trade marknya aku pinjam)
Televisi kita dipenuhi dengan yang disebut sinetron religi
yang menemani sebagian besar masyarakat negeri ini menjelang atau selepas buka puasa.
Waktu sahurpun ditemani dengan berbagai macam kuis dengan hadiah yang menggiurkan
ditemani beberapa komedian untuk bersama-sama berhaha..hihi.....
Lalu dimana upaya pencerahan umat?
Bukan tidak ada, kalaupun ada, prosentasenya sangat minim.
Bertolak belakang dengan moment bulan yang teramat suci itu sendiri.
Realita yang terlihat
Tak jauh-jauh, ada disekitar tempat tinggalku sendiri...
Jarang ada suara tadarusan (hanya satu dua rumah saja)
karena waktu tadarusannya dihabiskan untuk melihat sinetron
dan masih penasaran dengan kelanjutan cerita hari kemarin.
Saat waktu sholat tarwih tiba........
Ha..! Masih sama.
Sayang untuk melewatkan waktu untuk sejenak tertawa-tawa bersama tayangan komedi.
Sebagian juga masih melanjutkan sinetronnya dengan cerita yang berbeda.
Akhirnya............
Demi tayangan televisi yang sangat menarik.......
Tak ada tadarus dan tarawih untuk malam ini, sama dengan malam kemarin, entah untuk esok malam...
Hmmmm............
Rasanya juga tak sampai hati untuk menggugat para Pemuka Muslim maupun Para Ulama
untuk meluangkan waktunya memberi sedikit perhatian atas upaya pencerahan umat.
Paling hanya bisa kusimpan sebagai keprihatinanku sebagai bagian umat
yang terus berusaha mencari pencerahan sendiri.
Hanya bisa memohon, agar jalan yang tertempuh bukanlah jalan yang terlalu jauh sesatnya.
Itu sebabnya....
Di tempat tinggalku aku lebih suka tiviku membisu, diam dan tidur di sudut ruangan.
Mengingat televisi yang harusnya memberi manfaat kok malah lebih banyak mudharatnya ya.....
Hmmmm......................
(Berpikir dan bertanya dalam hati?)
"Salahkah aku menilai jika kualitas bangsa ini sedang mengalami penurunan?"
Kegaluan demi kegaluan..........
Tahun demi tahun..............
Tahun ini entah yang keberapa.......
Personal opinion :
Setiap Ramadhan tiba
(maaf mau memebetulkan...lafadnya adalah diucapkan "ROMADHON"
itu kalau kita bisa baca Al Qur'an atau setidaknya pernah ngaji
jadi bukan diucapkan RAMADHAN .............)
Televisi kita
Berlomba-lomba menayangkan yang disebut sinetron religi
Di mana letak religinya?
Yaitu pada busana para pelakonnya yang berubah total menjadi busana muslim
Ucapan-ucapannya berusaha untuk memperbanyak kalimah toyibah
meski pelafalannya masih banyak yang keliru dan justru banyak ditiru masyarakat
Isinya?
Masih dengan problema dan intrik klasik persinetronan yang masih jauh diatas awan
jauh dari keseharian masyarakat yang masih memerlukan banyak pencerahan
agar masyarakat kita mampu berpikir secara analitis, produktif dan kritis
supaya bisa bersama-sama bangkit dari keterpurukan bangsa ini yang masih terus berlanjut
Kenapa?
Karena Televisi adalah satu-satunya media informasi dan sarana hiburan,
yang dapat diakses secara masal dengan mudah dan murah.
Justru sebagian besar hanya menyajikan tayangan-tayangan yang semakin melenakan
masyarakat kita dengan dunia khayalnya.....semakin jauh dari dunia nyatanya.
Kembali ke Laptop !!!!
Eh kembali ke Ramadhan
(maaf ya kang Tukul......trade marknya aku pinjam)
Televisi kita dipenuhi dengan yang disebut sinetron religi
yang menemani sebagian besar masyarakat negeri ini menjelang atau selepas buka puasa.
Waktu sahurpun ditemani dengan berbagai macam kuis dengan hadiah yang menggiurkan
ditemani beberapa komedian untuk bersama-sama berhaha..hihi.....
Lalu dimana upaya pencerahan umat?
Bukan tidak ada, kalaupun ada, prosentasenya sangat minim.
Bertolak belakang dengan moment bulan yang teramat suci itu sendiri.
Realita yang terlihat
Tak jauh-jauh, ada disekitar tempat tinggalku sendiri...
Jarang ada suara tadarusan (hanya satu dua rumah saja)
karena waktu tadarusannya dihabiskan untuk melihat sinetron
dan masih penasaran dengan kelanjutan cerita hari kemarin.
Saat waktu sholat tarwih tiba........
Ha..! Masih sama.
Sayang untuk melewatkan waktu untuk sejenak tertawa-tawa bersama tayangan komedi.
Sebagian juga masih melanjutkan sinetronnya dengan cerita yang berbeda.
Akhirnya............
Demi tayangan televisi yang sangat menarik.......
Tak ada tadarus dan tarawih untuk malam ini, sama dengan malam kemarin, entah untuk esok malam...
Hmmmm............
Rasanya juga tak sampai hati untuk menggugat para Pemuka Muslim maupun Para Ulama
untuk meluangkan waktunya memberi sedikit perhatian atas upaya pencerahan umat.
Paling hanya bisa kusimpan sebagai keprihatinanku sebagai bagian umat
yang terus berusaha mencari pencerahan sendiri.
Hanya bisa memohon, agar jalan yang tertempuh bukanlah jalan yang terlalu jauh sesatnya.
Itu sebabnya....
Di tempat tinggalku aku lebih suka tiviku membisu, diam dan tidur di sudut ruangan.
Mengingat televisi yang harusnya memberi manfaat kok malah lebih banyak mudharatnya ya.....
Hmmmm......................
(Berpikir dan bertanya dalam hati?)
"Salahkah aku menilai jika kualitas bangsa ini sedang mengalami penurunan?"
Sabtu, 23 Juli 2011
kata sahabat
Seorang sahabat, seorang programmer, pernah bilang padaku..
"Sebenarnya hampir semua program kamu ngerti.
diajak diskusi selalu nyambung, tapi semuanya masih overall
coba kamu kuasai salah satunya dengan secara detail
suatu saat kamu pasti bisa menciptakan satu program sendiri"
Degh!!!!.....
Aku setuju dengan pendapatnya
Terlalu banyak buku yang telah kulahap
tapi semuanya masih mengupas kulitnya
belum sampai pada isinya
Sekarang, aku sedang gandrung dengan dunia menulis..
kembali pesan seorang sahabat mengingatkanku
untuk mengambil salah satu dari sekian banyak yang ada
karena aku ingin ada hasilnya
***mas Fathur........pesanmu sudah menjadi bagian dari prinsip hidupku
terima kasih telah mengingatkanku
"Sebenarnya hampir semua program kamu ngerti.
diajak diskusi selalu nyambung, tapi semuanya masih overall
coba kamu kuasai salah satunya dengan secara detail
suatu saat kamu pasti bisa menciptakan satu program sendiri"
Degh!!!!.....
Aku setuju dengan pendapatnya
Terlalu banyak buku yang telah kulahap
tapi semuanya masih mengupas kulitnya
belum sampai pada isinya
Sekarang, aku sedang gandrung dengan dunia menulis..
kembali pesan seorang sahabat mengingatkanku
untuk mengambil salah satu dari sekian banyak yang ada
karena aku ingin ada hasilnya
***mas Fathur........pesanmu sudah menjadi bagian dari prinsip hidupku
terima kasih telah mengingatkanku
Rabu, 29 Juni 2011
Renungan Diri
Hari ini, Rabu 29 Juni 2011
Melayat seorang kenalan, hampir tiap hari kami bertemu
istrinya pernah bekerja dalam satu atap denganku.
Dia meninggal dini hari tadi
kira-kira jam 2, korban tabrak lari
Meninggalkan seorang istri dan seorang anak balita
Berduyun-duyun kami mengantar sampai pemakaman
riuh rendah suara pelayat
sebagian menceritakan kejadian semalam
yang berujung pada ajal yang menjemputnya
Aku melongok ke liang lahat
warna merah darah masih membekas di kafannya
bagian kepala
sesaat kemudian,
ramai-ramai lahat ditimbun
dua tonggak kayu ditanam
salah satu bertulisan namanya dan tanggal hari ini.
Doa-doa kami panjatkan
dan pembacaan talqin mengingatkanku tentang kematian
untuk kemudian kami pulang,
meninggalkan dia sendiri
terbaring di liang lahatnya
Cerita demi cerita tentang almarhum mengalir
tentang tabrak larinya
tentang sehari sebelumnya
tentang firasat firasat keluarganya
Dan......
tentang keadaannya yang sedang mabuk
menjadi penyebab kecelakaan itu
Astaghfirullah
Na'udzubillahi min dzalik
kemungkaran telah mengantarnya menghadap sang khalik
(mungkin) belum sempat istighfar terucap
(mungkin pula) belum sempat taubat
Merinding,
miris
Ya Rabbunallah
Mohon jalan dan kemudahan bagi taubatku
diantara timbunan dosa-dosa yang telah menenggelamkanku dalamnya
sebelum malaikatMu tertitah mengambil titipanmu
hidupku
nyawaku...........
Amin
Melayat seorang kenalan, hampir tiap hari kami bertemu
istrinya pernah bekerja dalam satu atap denganku.
Dia meninggal dini hari tadi
kira-kira jam 2, korban tabrak lari
Meninggalkan seorang istri dan seorang anak balita
Berduyun-duyun kami mengantar sampai pemakaman
riuh rendah suara pelayat
sebagian menceritakan kejadian semalam
yang berujung pada ajal yang menjemputnya
Aku melongok ke liang lahat
warna merah darah masih membekas di kafannya
bagian kepala
sesaat kemudian,
ramai-ramai lahat ditimbun
dua tonggak kayu ditanam
salah satu bertulisan namanya dan tanggal hari ini.
Doa-doa kami panjatkan
dan pembacaan talqin mengingatkanku tentang kematian
untuk kemudian kami pulang,
meninggalkan dia sendiri
terbaring di liang lahatnya
Cerita demi cerita tentang almarhum mengalir
tentang tabrak larinya
tentang sehari sebelumnya
tentang firasat firasat keluarganya
Dan......
tentang keadaannya yang sedang mabuk
menjadi penyebab kecelakaan itu
Astaghfirullah
Na'udzubillahi min dzalik
kemungkaran telah mengantarnya menghadap sang khalik
(mungkin) belum sempat istighfar terucap
(mungkin pula) belum sempat taubat
Merinding,
miris
Ya Rabbunallah
Mohon jalan dan kemudahan bagi taubatku
diantara timbunan dosa-dosa yang telah menenggelamkanku dalamnya
sebelum malaikatMu tertitah mengambil titipanmu
hidupku
nyawaku...........
Amin
Senin, 27 Juni 2011
bidadari
anggun
meniti pelangi ke cakrawala
menari gemulai
tentang seulas senyum penawar rindu
indahnya negeri damai
berhampar cinta kasih
bernaung saling perduli
cantik
berbaju jingga
tersenyum di puncak lengkung pelangi
membawa seribu mimpi
tentang negeri damai
semakin samar di garis cakrawala
meniti pelangi ke cakrawala
menari gemulai
tentang seulas senyum penawar rindu
indahnya negeri damai
berhampar cinta kasih
bernaung saling perduli
cantik
berbaju jingga
tersenyum di puncak lengkung pelangi
membawa seribu mimpi
tentang negeri damai
semakin samar di garis cakrawala
Pagi
Pagi.....
hadir memupus mimpi
melayang
berduyun-duyun bersama embun
entah kemana perginya
Sendiri
termangu
mengurai hari terlewati
merangkai asa
meniti hari tanpa tepi
menabuh suara jiwa
..........hidup masih ada
Sabtu, 25 Juni 2011
Bayu, kutitip rinduku untuknya
Kuukir senyummu di batas awan...
menjelma mendung...
berduyun-duyun menyapa sukma
diantara menara rindu
Samar...
menyusup cahaya letih
bercerita seutas kelelahan
sepanjang usiaku
Senyum itu indah
menebar sejuk merasuk sukma
semaikan damai dalam jiwa
menjalari denyut nadi
mewarnai hayat yang masih berlari
.................................bayu
kutitip rinduku untuknya
Ibuku.................
menjelma mendung...
berduyun-duyun menyapa sukma
diantara menara rindu
Samar...
menyusup cahaya letih
bercerita seutas kelelahan
sepanjang usiaku
Senyum itu indah
menebar sejuk merasuk sukma
semaikan damai dalam jiwa
menjalari denyut nadi
mewarnai hayat yang masih berlari
.................................bayu
kutitip rinduku untuknya
Ibuku.................
Langganan:
Postingan (Atom)