Menulis?
Iya.
Menulis itu ternyata mempunya magnet yang misterius lho. Setidaknya itu bagiku.
Dulu,
waktu masih sekolah, bahkan sampai kuliah, meski semua kuliahku berakhir dengan DO. :'(
paling empet alias nggak suka dengan pelajaran Bahasa Indonesia. Apalagi Tata Bahasa. Aiiihhh... Lumayan sih, ada pelajaran Sastra waktu di SMP, jadi agak sedikit membuka minat. Tapi...
Hehehe ada tapinya juga.
Kalau sudah yang namanya mengarang. Temanya ditentukan, jumlah kalimatnya ditentukan, apalagi harus membuat kerangka karangan. Kayanya lebih memilih disuruh nyangkul di kebun deh. Empeeeet bwanget.
Thanks to socmed.
Akhirnya aku jadi suka menulis.
Awalnya hanya chating lewat yahoo messenger, kemudian tergabung dalam berbagi forum. Aku suka banget sama diskusi. Nah! Setelah tergabung dalam berbagai forum itu, mau tak mau aku harus ikut-ikutan menulis kan? Kemudian forum-forum itu menggiringku pada beberapa blog.
Next step! Aku tertarik untuk membuat blog.
Awalnya aku menulis segala keluh kesah dalam pekerjaan di blog-ku. Karena kebetulan aku menjadi satu korban konspirasi di tempatku bekerja dulu. Eh, ternyata berkeluh kesah itu membuatku bosan yang sebosan-bosannya.
Gantoooooos,
Kututup blog itu dan membuat blog baru. Ya blog ini.
Aku jadi suka berbagi apapun yang ada di dalam pikiranku di blog ini.
Nah! Di pesbuk, aku berteman dengan orang yang sosoknya kecil, tapi karyanya bwesaaar. Namanya mas Redy Kuswanto. Ida desainer pakaian batik eksklusif di Yogya, pengelona Museum Anak Kolong Tangga, Redaktur majalah anak Kelereng, penulis Budaya di beberapa media, juga tutor sebuah kelas online penulisan novel. Wow! Dialah yang memprovokasiku untuk menulis, membuat cerpen, sampai akhirnya menerbitkan sebuah buku kumpulan cerpan.
Hahahahahahahahahahahahahaha
Ajaib! Aku jadi suka menulis.
Buntutnya, aku bergabung dengan beberapa group penulis dan menulis di pesbuk itu. Berteman dengan beberapa penulis yang mengagumkan. Iseng-iseng ikut kompetisi menulis. Meski sampai sekarang belum juga ada yang jadi nominator, apalagi menang.
Tapi ada hal lain, yang aku rasakan saat aku menulis. Seperti mengobrak-abrik isi otak sendiri, dan aku sangat menikmatinya.
Beberapa puisi dan cerpenku disambut baik di beberapa group yang kuikuti. Terus ada yang provokasi untuk kirim naskah ke media. Sudah sih, tapi belum ada yang bisa tembus.
Akhirnya, aku keranjingan menulis.
Menulis itu menghilangkan stres lho. Asli! Sumpah! Beneran! Nggak bo'ong!
Menulis lagi aaahhh...
Jumat, 31 Januari 2014
Selasa, 28 Januari 2014
Surat Untuk Stiletto Book
Dear Stiletto
Selamat pagi Stiletto.
Pandanglah di ufuk timur, sobat.
Kau tahu, mentari membias
warna-warna indahknya di tetes embun yang menggayuti ujung daun bambu. Indah
bukan? Seindah harapku saat kueja namamu. Seindah tungkai-tungkai halus yang
tergambar menjulang lewat puncak-puncak pesonamu. Kau telah pesonakanku, sobat.
Stiletto.
Pagi telah beranjak. Sinar mentari
mulai terasa hangat di punggung. Mencairkan beku angin malam yeng mebuatku
enggan beranjak di awal pagi tadi. Dan kubuka lembar demi lembar kekaguman yang
pernah kau semai di pikiranku. Aku ingin mengenalmu. Boleh kan? Karena aku menyukai bias-bias warna
yang sering menghiasi halaman-halaman facebook-mu. Indah sobat. Menarik, sangat
menarik. Sampul-sampul novel itu mengguratkan pesona yang melambungan anganku.
Angan untuk turut mengisi lembar demi lembar yang akan kau balut dengan
warna-warna indah itu.
Mungkinkah?
Karena mataku menatap selarik
kalimat yang membuat leherku tegak, dahiku mengkerut dan memaksa mataku untuk
menyipit. “Penerbit Buku Perempuan.”
Ah, Stiletto.
Kalimat itu secara mencabik-cabik
harapku. Kenapa harus perempuan? Huh! Stiletto diskrimitatif, Stiletto
pilih-pilih, Stiletto tidak fair! Maaf ya, sobat. Aku jadi merutuk, aku kecewa,
aku dongkol, aku jengkel. Kau surutkan kembali hasratku merangkai kata tentang
keelokan bidadari. Bidadari perkasa yang telah melahirkanku, bidadari anggun yang
kuharap menjadi permaisuri bagiku, juga bidadari mungil yang kuharap mewarnai
hari-hariku. Bidadari yang tak akan pernah usai kisahnya. Bidadari yang tak akan
pernah lelah menebar pesonanya. Bidadari yang selalu menebar wangi dengan
selendang warna-warninya, dengan tungkai-tungkai indahnya, menghias larik-larik
cakrawala bersama titian indahnya pelangi.
Ah, tidak. Aku harus mengejarmu,
meminta konfirmasi atas kalimatmu itu.
“Kami megutamakan penulis wanita.
Tapi bisa juga penulis pria, asal kontennya sangat perempuan dari sudut pandang kami.”
Betul kan? Aku masih bisa berharap untuk
merangkai kata tentang bidadari itu. Bidadari yang perkasa, bidadari yang
anggun, bidadari yang meliuk-liuk dalam terpaan angin namun tetap kokoh
berdiri, bidadari centil yang yang mudah jatuh dalam bujuk rayu, bidadari yang
sibuk menggali jatidiri. Ah, begitu banyak bidadari yang kukagumi, yang ingin
kulukis dengan kalimatku. Untukmu sobat.
Stiletto. Siang mulai menyengat
sobat.
Mataku menangkap bidadari-bidadari
yang sedang mewarnai hari, melukis keindahan, menorehkan kisah-kisah hidupnya
masing-masing. Biarkan aku mendekat. Boleh kan? Akan kusadur kisah-kisah mereka dalam
benakku. Biarkan kugali sisi-sisi inspiratif dalam jejak-jejak langkah mereka.
Ini bukan dosa, kan?
Stiletto.
Warna malam datang perlahan. Temani
aku terjaga, kawan. Biar kuselesaikan dulu kisah tentang Serenada Dewi yang
sedang mengejar bintangnya. Cerita yang anggun, kawan. Tapi ini ditulis oleh
novelis pria ya? Oke. Aku tahu. Baiklah,
Stillo. Ah, aku jadi ikut-ikutan memanggilmu Stillo. Boleh kan?
Kamu mau kopi? Bisar kuseduh
secangkir untukmu. Sementara biar kuisi pikiranku tentang kiprah bidadari yang
terrekam dalam ingatanku. He he he, kau begitu cantik dengan secangkir kopi di
tanganmu, kawan. Duduklah! Biarkan kuselesaikan rangkaian kalimatku yang
bersajak indah. Tentang bidadari-bidadari yang menyapa di kedalaman sanubariku.
Kuharap, suara jari jemariku yang menari di petak-petak kecil di depan layar
komputerku ini tak mengusikmu. Berisik memang. Tapi bukankah kau sudah terbiasa
dengan itu, kawan? Baiklah, aku lanjutkan sambil menunggu malam mendaki
puncaknya.
Stillo.
Kau mengantuk ya. Baiklah,
beristirahatlah. Aku tahu, malam sudah mulai menuruni puncaknya. Baringkan saja
seluruh penatmu. Kumpulkan kembali staminamu. Esok pagi, masih banyak
kabar-kabar dan cerita-cerita indah tentang bidadari. Kau tahu kan? Bahwa tak hanya
perempuan yang menyukai buku-buku dari dapur publishermu. Ada banyak kaum-kaum perkasa yang juga
menyukai buku-bukumu.
Baiklah Stillo.
Rapatkan selimutmu, kawan. Agar hawa
dingin tak menyusup ke dalam tulangmu. Yang membuatmu enggan beradu dengan sang
fajar. Jari-jariku masih betah bercumbu dengan kotak-kotak mungil di depan
layar komputerku. Kuyakin, suatu saat nanti, akan ada rangkaian kata indahku
tentang bidadari, yang akan kau kemas dengan indah sampul-sampul anggunmu.
Selamat malam kawan. Selamat
merangkai mimpi indah.
Semoga esok hari kita bisa
bergandengan tangan. Pemandangan anggun yang sangat aku harapkan. www.stilettobook.com
With Love
Aang M. M. Syafii
aang.ememes@gmail.com
With Love
Aang M. M. Syafii
aang.ememes@gmail.com
Senin, 20 Januari 2014
Catatan Januari 2014
Januari = Hujan sehari-hari?
Mungkin benar, mungkim juga tidak.
Khusus Januari 2014 ini, jargon itu benar adanya.
Hujan yang tak henti-henti hampir di seluruh wilayah tanah air, membuat berita tentang banjir marak menghiasi media. Baik media elektronik, maupun media cetak.
Dalam bahasa Jawa, ada pepatah mengatakan, Kriwikan dadi grojogan. Sedangkan dalam bahasa Indonesia, kita mengenal pepatah, Kecil jadi kawan, besar jadi lawan.
Tapi? Ada tapinya juga lho.
Fenomena sekarang, banyak yang menyalahkan banjir kepada pemimpin daerah? **tepok-tepok jidat deh.
Harusnya, justru melaihat kepada masa kepemimpinan sebelumnya. Bagaimana dia mengelola alam yang akan menolong kita dari bencana?
Kalau di Bali, Umat Hindu mengenal adanya Tri Hita Karana. Jadi, keseimbangan alam masuk dalam tatanan dan ajaran agama yang dipegang teguh umat Hindu. Buktinya? Pernahkah kita mendengar berita bencana terjadi di Bali? Nyaris tak pernah kan? Karena mereka menjadikan alam sebagai partner hidup. Sahabat dan sumber daya yang harus dipelihara. Tapi tidak sekedar slogan, mereka merealisasikannya.
Nggak jauh-jauh deh.
Tak jauh dari kampung halamanku, dulu ada perkebunan karet. Tepatnya di wilayah kecamatan Mijen. Tapi sekarang, perkebunan tersebut sudah menjadi kawasan elit BSB, Bukit Semarang Baru.
Nah! Akibatnya. Hampir mustahil bagi kota-kota di bawahnya - Semarang, Kaliwungu-Kendal- untuk lepas dari cengkeraman banjir saat musim hujan tiba.
Jadi..........................
Bagaimana alam terhadap kita, itu tergantung bagaimana kita terhadap alam bukan?
Kita bersahabat dan menjaga kelestariannya, maka alam akan menjadi sahabat dan melindungi kita.
Kita semene-mena, sombong dan arogan terhadap alam, ya lihat saja pembalasan Sang alam kepada kita.
He.he..he..he..maaf, catatan ini tidak bermaksud menggurui lho. Tapi mengajak kita kembali mengingat pelajaran di Sekolah Dasar dulu. Bahwa, penebangan hutan, hutan gundul dan teman-temannya, bisa menyebabkan banjir, erosi dan tanah longsor. Begitu kan yang kita pelajari dulu?
Ah, tapi itu kan dulu.
Sekarang kita-kita sudah pinter, mahir, dan berkuasa. Jadi boleh dong melupakan pelajaran itu?
Hehehehehehe, memangnya kita lahir langsung berlari ya? Nggak inget kalau kita merangkak, dan belajar tertatih-tatih sampai dengan bisa berlari.
***sayup sayup terdengar lagu lama
" atau alam mulai enggan, bersahabat dengan kita........"
Kita yang yang memusuhi alam atau alam yang memusuhi kita? Hayoooo, jawabnya ada di nurani kita masing-masing kok.
Salaaaaammmm...
"lestari alamku, lestari desaku..........................." semoga.
Mungkin benar, mungkim juga tidak.
Khusus Januari 2014 ini, jargon itu benar adanya.
Hujan yang tak henti-henti hampir di seluruh wilayah tanah air, membuat berita tentang banjir marak menghiasi media. Baik media elektronik, maupun media cetak.
Dalam bahasa Jawa, ada pepatah mengatakan, Kriwikan dadi grojogan. Sedangkan dalam bahasa Indonesia, kita mengenal pepatah, Kecil jadi kawan, besar jadi lawan.
Tapi? Ada tapinya juga lho.
Fenomena sekarang, banyak yang menyalahkan banjir kepada pemimpin daerah? **tepok-tepok jidat deh.
Harusnya, justru melaihat kepada masa kepemimpinan sebelumnya. Bagaimana dia mengelola alam yang akan menolong kita dari bencana?
Kalau di Bali, Umat Hindu mengenal adanya Tri Hita Karana. Jadi, keseimbangan alam masuk dalam tatanan dan ajaran agama yang dipegang teguh umat Hindu. Buktinya? Pernahkah kita mendengar berita bencana terjadi di Bali? Nyaris tak pernah kan? Karena mereka menjadikan alam sebagai partner hidup. Sahabat dan sumber daya yang harus dipelihara. Tapi tidak sekedar slogan, mereka merealisasikannya.
Nggak jauh-jauh deh.
Tak jauh dari kampung halamanku, dulu ada perkebunan karet. Tepatnya di wilayah kecamatan Mijen. Tapi sekarang, perkebunan tersebut sudah menjadi kawasan elit BSB, Bukit Semarang Baru.
Nah! Akibatnya. Hampir mustahil bagi kota-kota di bawahnya - Semarang, Kaliwungu-Kendal- untuk lepas dari cengkeraman banjir saat musim hujan tiba.
Jadi..........................
Bagaimana alam terhadap kita, itu tergantung bagaimana kita terhadap alam bukan?
Kita bersahabat dan menjaga kelestariannya, maka alam akan menjadi sahabat dan melindungi kita.
Kita semene-mena, sombong dan arogan terhadap alam, ya lihat saja pembalasan Sang alam kepada kita.
He.he..he..he..maaf, catatan ini tidak bermaksud menggurui lho. Tapi mengajak kita kembali mengingat pelajaran di Sekolah Dasar dulu. Bahwa, penebangan hutan, hutan gundul dan teman-temannya, bisa menyebabkan banjir, erosi dan tanah longsor. Begitu kan yang kita pelajari dulu?
Ah, tapi itu kan dulu.
Sekarang kita-kita sudah pinter, mahir, dan berkuasa. Jadi boleh dong melupakan pelajaran itu?
Hehehehehehe, memangnya kita lahir langsung berlari ya? Nggak inget kalau kita merangkak, dan belajar tertatih-tatih sampai dengan bisa berlari.
***sayup sayup terdengar lagu lama
" atau alam mulai enggan, bersahabat dengan kita........"
Kita yang yang memusuhi alam atau alam yang memusuhi kita? Hayoooo, jawabnya ada di nurani kita masing-masing kok.
Salaaaaammmm...
"lestari alamku, lestari desaku..........................." semoga.
Jumat, 13 September 2013
Indonesia Tanah Air Beta
Bukan anti televisi, tapi aku memang kurang suka nonton televisi.
Terlebih program-program televisi yang ada masih belum mengakomodir keinginanku akan program-program televisi yang edukatif dan memacu pola pikir produktif, inovatif dan kreatif.
Yang banyak justru kuis-kuis yang mendorong pola pikir pemalas
Sinetron yang justru memicu pola pikir konsumtif dan apatis
Program program untuk kaum muda yang tidak jelas juntrungannya
Pokoknya televisi itu lebih banyak madharatnya dibanding manfaatnya.
Eh, secara tak sengaja aku nonton tivi yang merupakan akar pertelevisian Indonesia yang justru sudah semakin dilupakan (atau tepatnya memang dibuat terlupakan oleh kaum kapitalis liberalis), yaitu TVRI.
Secara kebetulan juga aku melihat ada sosok yang menjadi idolaku sejak dulu, Slamet Rahardjo dan Arswendo Atmowiloto di program "Tanah Air Beta"
Satu yang aku garis bawahi dari program tersebut adalah bahwa, secara format Rakyat Indonesia sudah merdeka. Merdeka dari penjajahan Belanda.
Tetapi justru masuk ke dalam cengkeraman penjajahan bangsa sendiri.
Pada satu moment peringatan Hari Kemerdekaan RI (entah tahunnya berapa) hadirlah tamu kehormatan pengukir sejarah dunia, yaitu Mahatma Gandhi.
Gandhi mengatakan sesuatu kepada Soekarno, ada penjajahan yang harus lebih diwaspadai, yaitu penjajahan dari dalam bangsa sendiri. Sekarang. nyata nggak apa yang dibilang Gandhi?
Topik melebar menjadi wacana tentang pemimpin bangsa yang ideal.
Sebenarnya sederhana saja. Peminpin bangsa adalah peminpin yang bisa mewujudkan cita-cita bangsa ini untuk merdeka, yaitu merdeka dari ketakutan alias mendapat jaminan rasa aman. Merdeka dari kesengsaraan alias sejahtera, merdeka dari kebodohan alias semua mendapatkan kemudahan akses atas pendidikan, barulah kita turut berperan dalam percaturan dunia. Ah, bukakah cita-cita itu sudah kita pelajari sejak SD karena ada di Pembukaan UUD 45. Mungkin karena rentang waktu yang panjang sehingga para pemimpin kita banyak yang sudah lupa.
Logikanya, konon katanya, bumi Pertiwi ini kaya raya, sumber alamnya melimpah ruah yang tak akan habis dipakai untuk kesejahteraan putra putri pertiwi. Tapi nyatanya?
Satu lagi. Kita, bangsa ini, atau entah siapa yang mempelopori, sudah lupa akan jati diri kita sendiri.
Ingat kah bahwa kita adalah negara agraris, negara maritim? Tapi justru tulang punggung dan ujung tombaknya terabaikan. Hidup dalam kemelaratan. Siapa? Ya petani dan nelayan kita? Lupa ya?
Nah, secara spiritual, akan jadi apa manusia yang melupakan jati dirinya?
Lalu akan jadi apa pula bangsa yang lupa akan jati dirinya?
Maaf, saya hanya bisa prihatin dan mengelus dada.
Terima kasih TVRI, Slamet Rahardjo, Arswendo Atmowiloto yang sudah memberikan siraman sejuk dalam wacana pikiranku.
Terlebih program-program televisi yang ada masih belum mengakomodir keinginanku akan program-program televisi yang edukatif dan memacu pola pikir produktif, inovatif dan kreatif.
Yang banyak justru kuis-kuis yang mendorong pola pikir pemalas
Sinetron yang justru memicu pola pikir konsumtif dan apatis
Program program untuk kaum muda yang tidak jelas juntrungannya
Pokoknya televisi itu lebih banyak madharatnya dibanding manfaatnya.
Eh, secara tak sengaja aku nonton tivi yang merupakan akar pertelevisian Indonesia yang justru sudah semakin dilupakan (atau tepatnya memang dibuat terlupakan oleh kaum kapitalis liberalis), yaitu TVRI.
Secara kebetulan juga aku melihat ada sosok yang menjadi idolaku sejak dulu, Slamet Rahardjo dan Arswendo Atmowiloto di program "Tanah Air Beta"
Satu yang aku garis bawahi dari program tersebut adalah bahwa, secara format Rakyat Indonesia sudah merdeka. Merdeka dari penjajahan Belanda.
Tetapi justru masuk ke dalam cengkeraman penjajahan bangsa sendiri.
Pada satu moment peringatan Hari Kemerdekaan RI (entah tahunnya berapa) hadirlah tamu kehormatan pengukir sejarah dunia, yaitu Mahatma Gandhi.
Gandhi mengatakan sesuatu kepada Soekarno, ada penjajahan yang harus lebih diwaspadai, yaitu penjajahan dari dalam bangsa sendiri. Sekarang. nyata nggak apa yang dibilang Gandhi?
Topik melebar menjadi wacana tentang pemimpin bangsa yang ideal.
Sebenarnya sederhana saja. Peminpin bangsa adalah peminpin yang bisa mewujudkan cita-cita bangsa ini untuk merdeka, yaitu merdeka dari ketakutan alias mendapat jaminan rasa aman. Merdeka dari kesengsaraan alias sejahtera, merdeka dari kebodohan alias semua mendapatkan kemudahan akses atas pendidikan, barulah kita turut berperan dalam percaturan dunia. Ah, bukakah cita-cita itu sudah kita pelajari sejak SD karena ada di Pembukaan UUD 45. Mungkin karena rentang waktu yang panjang sehingga para pemimpin kita banyak yang sudah lupa.
Logikanya, konon katanya, bumi Pertiwi ini kaya raya, sumber alamnya melimpah ruah yang tak akan habis dipakai untuk kesejahteraan putra putri pertiwi. Tapi nyatanya?
Satu lagi. Kita, bangsa ini, atau entah siapa yang mempelopori, sudah lupa akan jati diri kita sendiri.
Ingat kah bahwa kita adalah negara agraris, negara maritim? Tapi justru tulang punggung dan ujung tombaknya terabaikan. Hidup dalam kemelaratan. Siapa? Ya petani dan nelayan kita? Lupa ya?
Nah, secara spiritual, akan jadi apa manusia yang melupakan jati dirinya?
Lalu akan jadi apa pula bangsa yang lupa akan jati dirinya?
Maaf, saya hanya bisa prihatin dan mengelus dada.
Terima kasih TVRI, Slamet Rahardjo, Arswendo Atmowiloto yang sudah memberikan siraman sejuk dalam wacana pikiranku.
Kamis, 05 September 2013
Indonesia Mengajar. Haaaaaa????................
Tahu kan, tentang program Indonesia Mengajar?
Itu lho sekumpulan orang-orang hebat negeri ini yang bersuka rela keluar masuk pelosok negeri untuk membantu mencerdaskan generasi yang menjadi embrio negeri tercinta -konon katanya-.
Nah, suatu malem nih, aku disemes oleh orang yang sudah menjadi bagian dari inspirasi dan motivasiku begini : "Alhamdulillah, hebatnya mas Aang ikut dalam Indonesia Mengajar, tadi saya ngajar anak-anak PKL SMK bikin Cerpen"
Haaaaaaaa? Guweeeeeh? Ikutan dalam Indonesia mengajar? Bersama-sama orang-orang hebat itu?
Aaaahhhh, mimpi kaleeeeeeeeeeeeee..............
(-Alhamdulillah nih jari ngga kepleset ngetik Endonesa, apalagi Endonenong....maap...maap....maap Ibu Pertiwiku, itu bukan tentangmu kok, kalau aku menulis itu tentu tentang para pembesar negeri yang harusnya membahagiakanmu, tapi nyatanya mereka malah membuatmu nelangsa.)
Tapi ternyata beliau menyambung semesannya, : " oh, bukan itu.maksud saya mas Aang juga mengajar anak-anak penerus bangsa kok, gak kalah hebat dengan mereka."
Wow......tersandung deh, ups, salah! Tersanjung maksudnya....
Gimana tidak? Aku, yang mengajar di sekolah kecil, di tempat terpencil, di kampung terkucil, dan muridnya juga rakyat kecil, dinilainya sudah berperan dalam memajukan generasi? Alhamdulillah.
Hmmm, aku adalah guru hononer di sebuah MTs Swasta, mengajar TIK, Tehnologi Informasi dan Komunikasi. Satu mata pelajaran yang konon katanya dihilangkan dari Kurikulum SMP tahun 2013. Alamaaaaakkkk.........
TIK diajarkan sejak dini aja kita masih ketinggalan jauh di bidang IT kok, dari India misalnya, Vietnam, bahkan Si Jiran. gimana kalau dihilangkan. Generasi kita harus kembali ke jaman Singosari? Weleh weleeeeehhhh...
Ah tapi tak akan menyurutkanku untuk mengajar anak-anak di kampung terpencilku ini. Alhamdulillah, meski di dusun, tempatku mengajar sudah punya Lab. Komputer, jadi aku masih tetep bisa mengenalkan IT kepada mereka.
Semangat ya caaaaaaaahhhhhhhhhhhhhh....
Ayoooo ke Labkom!
Yang main game ntar tak jewer sampe kupingnya panjang kaya kelinci ya.
Itu lho sekumpulan orang-orang hebat negeri ini yang bersuka rela keluar masuk pelosok negeri untuk membantu mencerdaskan generasi yang menjadi embrio negeri tercinta -konon katanya-.
Nah, suatu malem nih, aku disemes oleh orang yang sudah menjadi bagian dari inspirasi dan motivasiku begini : "Alhamdulillah, hebatnya mas Aang ikut dalam Indonesia Mengajar, tadi saya ngajar anak-anak PKL SMK bikin Cerpen"
Haaaaaaaa? Guweeeeeh? Ikutan dalam Indonesia mengajar? Bersama-sama orang-orang hebat itu?
Aaaahhhh, mimpi kaleeeeeeeeeeeeee..............
(-Alhamdulillah nih jari ngga kepleset ngetik Endonesa, apalagi Endonenong....maap...maap....maap Ibu Pertiwiku, itu bukan tentangmu kok, kalau aku menulis itu tentu tentang para pembesar negeri yang harusnya membahagiakanmu, tapi nyatanya mereka malah membuatmu nelangsa.)
Tapi ternyata beliau menyambung semesannya, : " oh, bukan itu.maksud saya mas Aang juga mengajar anak-anak penerus bangsa kok, gak kalah hebat dengan mereka."
Wow......tersandung deh, ups, salah! Tersanjung maksudnya....
Gimana tidak? Aku, yang mengajar di sekolah kecil, di tempat terpencil, di kampung terkucil, dan muridnya juga rakyat kecil, dinilainya sudah berperan dalam memajukan generasi? Alhamdulillah.
Hmmm, aku adalah guru hononer di sebuah MTs Swasta, mengajar TIK, Tehnologi Informasi dan Komunikasi. Satu mata pelajaran yang konon katanya dihilangkan dari Kurikulum SMP tahun 2013. Alamaaaaakkkk.........
TIK diajarkan sejak dini aja kita masih ketinggalan jauh di bidang IT kok, dari India misalnya, Vietnam, bahkan Si Jiran. gimana kalau dihilangkan. Generasi kita harus kembali ke jaman Singosari? Weleh weleeeeehhhh...
Ah tapi tak akan menyurutkanku untuk mengajar anak-anak di kampung terpencilku ini. Alhamdulillah, meski di dusun, tempatku mengajar sudah punya Lab. Komputer, jadi aku masih tetep bisa mengenalkan IT kepada mereka.
Semangat ya caaaaaaaahhhhhhhhhhhhhh....
Ayoooo ke Labkom!
Yang main game ntar tak jewer sampe kupingnya panjang kaya kelinci ya.
Sabtu, 13 Juli 2013
Siapakah Kita?
Satu per satu mereka pergi meninggalkanmu,
Tinggal aku, dengan langkah berat akupun harus tinggalkanmu.
Bapak, mohon pamit, semoga engkau damai bersamaNya....
Aku beranjank setelah selesai Al Mulk terbaca lirih dari lisanku.
Langkahku perlahan.
Bapak...
Kau ingatkan aku akan sesuatu atas apa yang telah kulihat pada jasadmu hari ini.
Ketika ruh terlepas dari raga
Melepas bajupun kita tak mampu, sehingga orang lain yang harus melepasnya
Mandipun kita tak mampu, sehingga orang lain yang harus memandikannya
Berwudlupun kita tak mampu, sehaingga orang lain yang harus mewudlukannya
Berpakaianpun (meski hanya berkain kafan) kita tak mampu, sehingga orang lain harus melakukannya untuk ita.
Berdoapun ita tak mampu, sehingga orang lainlah yang berdoa untuk kita.
Berjalan apalagi, sehingga orang lain harus menggotong kita menuju peristirahatan terakhir.
Bahkan! Menguburkan diri sendiripun kita tak mampu pula.
Sehingga!! Orang lain yang harus menguburkan kita.
Jadi, panstaskan kita semena-mena terhadap orang lain?
Pantaskah kita merasa berkuasa atas orang lain?
Pantaskah kita angkuh dan sombong pada orang lain?
Pantaskah kita menaruh benci pada orang lain?
Sedangkan
Kita tak pernah tahu, siapa yag akan melakukan itu semua untuk kita
memandikan, mengkafani, mengantar, menguburkan dan berdoa untuk kita.
Bisa jadi ia adalah orang yang paling kita benci
Orang yang pernah kita aniaya atau bahkan orang yang kita hinakan.
Saat itu
Sudah tak bisa lagi sesal dan maaf kita ucapkan.
Astaghfirullah
Tinggal aku, dengan langkah berat akupun harus tinggalkanmu.
Bapak, mohon pamit, semoga engkau damai bersamaNya....
Aku beranjank setelah selesai Al Mulk terbaca lirih dari lisanku.
Langkahku perlahan.
Bapak...
Kau ingatkan aku akan sesuatu atas apa yang telah kulihat pada jasadmu hari ini.
Ketika ruh terlepas dari raga
Melepas bajupun kita tak mampu, sehingga orang lain yang harus melepasnya
Mandipun kita tak mampu, sehingga orang lain yang harus memandikannya
Berwudlupun kita tak mampu, sehaingga orang lain yang harus mewudlukannya
Berpakaianpun (meski hanya berkain kafan) kita tak mampu, sehingga orang lain harus melakukannya untuk ita.
Berdoapun ita tak mampu, sehingga orang lainlah yang berdoa untuk kita.
Berjalan apalagi, sehingga orang lain harus menggotong kita menuju peristirahatan terakhir.
Bahkan! Menguburkan diri sendiripun kita tak mampu pula.
Sehingga!! Orang lain yang harus menguburkan kita.
Jadi, panstaskan kita semena-mena terhadap orang lain?
Pantaskah kita merasa berkuasa atas orang lain?
Pantaskah kita angkuh dan sombong pada orang lain?
Pantaskah kita menaruh benci pada orang lain?
Sedangkan
Kita tak pernah tahu, siapa yag akan melakukan itu semua untuk kita
memandikan, mengkafani, mengantar, menguburkan dan berdoa untuk kita.
Bisa jadi ia adalah orang yang paling kita benci
Orang yang pernah kita aniaya atau bahkan orang yang kita hinakan.
Saat itu
Sudah tak bisa lagi sesal dan maaf kita ucapkan.
Astaghfirullah
"...AJARI KAMI..." --- Kang Dwin
Assalamu'alaykum...
"...AJARI KAMI..."
Malam ini, menyaksikan sebuah acara di stasiun TV dengan tema KONTROVERSI RUU ORMAS.
Didalam acara debat ini...3 orang tua berdebat sengit dengan emosi tinggi dengan 3 orang tua lainnya dan para penontonnya adalah para mahasiswa....ya para pemuda.
Disaat para orang tua berdebat dan berbicara bersamaan dengan emosi sehingga tidak ada satupun yg mau saling mendengar karena kedua telinga mereka tertutup oleh nafsunya lisan untuk mengalahkan lawannya. Dan disaat itu............terdengar tepuk tangan yang meriah dari para mahasiswa/wi atas pertunjukan yang hanya akan MENGERASKAN HATI...
Perbedaan pendapat merupakan hal yg wajar karena memang ALLAH telah berikan otak bagi diri setiap manusia....terdapat milyaran otak didunia ini yang masih hidup dan lebih dari trilyunan jumlah otak yang telah ALLAH ciptakan...
" Jikalau Tuhan-mu menghendaki, tentu DIA menjadikan manusia umat yang satu, tetapi manusia senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu..."
[Qur'an Surat. Hûd (11) ayat 118-119]
Tidak heran karena masing2 memiliki otak atau CPU (istilah ilmu komputer) sehingga setiap diri manusia akan memiliki pendapat masing2 yang berbeda.
Bayangkan bila ALLAH ciptakan hanya satu otak untuk digunakan bersama oleh seluruh manusia dimuka bumi...
Sungguh acara debat yang diselenggarakan tidak akan mendapatkan SOLUSI TERBAIK kecuali rasa benci diantara saudara akibat perdebatan. Apalagi pihak media yang harusnya menjadi penyelaras bahkan malah memberi semangat agar perdebatan makin meriah...
Wahai orang tua...
...kami masih muda dan butuh ilmu bijak darimu...
......ajari kami kebijakan...
..........ajari kami persaudaraan dan kasih sayang...
......sebagaimana orang tua terdahulu mengajari beliau-beliau saat menjadi anak-anak...
.....Sehingga kami dapat membangun peradaban negri yang baik, yang akan kami wariskan kepada anak-cucu kami...
....Karena negri ini tidak akan maju diatas keahlian berdebat melainkan diatas kerjasama untuk kerja keras...
... kami tidak butuh ilmu BERDEBAT...
......kami butuh ilmu cara BERBAGI NASIHAT...
.........Karena BERDEBAT MEMATIKAN HATI KAMI...
.............Karena BERDEBAT adalah cara orang yang memiliki NAFSU YANG LEBIH BESAR daripada ILMUNYA...
Wahai orang tua...
...ajari kami.....sebuah KASIH SAYANG....
sebagaimana ALLAH telah mengajari...
"Dan orang-orang yang BERIMAN adalah yang saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk BERKASIH SAYANG" [Qur'an Surat Al Balad (90) ayat 17]
Semoga bermanfaat...
Wassalamu'alaykum...
Kang Dwin
"...AJARI KAMI..."
Malam ini, menyaksikan sebuah acara di stasiun TV dengan tema KONTROVERSI RUU ORMAS.
Didalam acara debat ini...3 orang tua berdebat sengit dengan emosi tinggi dengan 3 orang tua lainnya dan para penontonnya adalah para mahasiswa....ya para pemuda.
Disaat para orang tua berdebat dan berbicara bersamaan dengan emosi sehingga tidak ada satupun yg mau saling mendengar karena kedua telinga mereka tertutup oleh nafsunya lisan untuk mengalahkan lawannya. Dan disaat itu............terdengar tepuk tangan yang meriah dari para mahasiswa/wi atas pertunjukan yang hanya akan MENGERASKAN HATI...
Perbedaan pendapat merupakan hal yg wajar karena memang ALLAH telah berikan otak bagi diri setiap manusia....terdapat milyaran otak didunia ini yang masih hidup dan lebih dari trilyunan jumlah otak yang telah ALLAH ciptakan...
" Jikalau Tuhan-mu menghendaki, tentu DIA menjadikan manusia umat yang satu, tetapi manusia senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu..."
[Qur'an Surat. Hûd (11) ayat 118-119]
Tidak heran karena masing2 memiliki otak atau CPU (istilah ilmu komputer) sehingga setiap diri manusia akan memiliki pendapat masing2 yang berbeda.
Bayangkan bila ALLAH ciptakan hanya satu otak untuk digunakan bersama oleh seluruh manusia dimuka bumi...
Sungguh acara debat yang diselenggarakan tidak akan mendapatkan SOLUSI TERBAIK kecuali rasa benci diantara saudara akibat perdebatan. Apalagi pihak media yang harusnya menjadi penyelaras bahkan malah memberi semangat agar perdebatan makin meriah...
Wahai orang tua...
...kami masih muda dan butuh ilmu bijak darimu...
......ajari kami kebijakan...
..........ajari kami persaudaraan dan kasih sayang...
......sebagaimana orang tua terdahulu mengajari beliau-beliau saat menjadi anak-anak...
.....Sehingga kami dapat membangun peradaban negri yang baik, yang akan kami wariskan kepada anak-cucu kami...
....Karena negri ini tidak akan maju diatas keahlian berdebat melainkan diatas kerjasama untuk kerja keras...
... kami tidak butuh ilmu BERDEBAT...
......kami butuh ilmu cara BERBAGI NASIHAT...
.........Karena BERDEBAT MEMATIKAN HATI KAMI...
.............Karena BERDEBAT adalah cara orang yang memiliki NAFSU YANG LEBIH BESAR daripada ILMUNYA...
Wahai orang tua...
...ajari kami.....sebuah KASIH SAYANG....
sebagaimana ALLAH telah mengajari...
"Dan orang-orang yang BERIMAN adalah yang saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk BERKASIH SAYANG" [Qur'an Surat Al Balad (90) ayat 17]
Semoga bermanfaat...
Wassalamu'alaykum...
Kang Dwin
Langganan:
Postingan (Atom)




