Assalamu'alaykum...
"...PENYAKIT ANEH...SELALU PUSING JELANG RAMADHAN..."
Negri kami pusing... pusing setelah kenaikan BBM, kemudian pusing setiap menjelang RAMADHAN tiba.
Kenaikan Bahan Bakar Minyak tidak terjadi setiap tahun, tapi RAMADHAN
yang hadir setiap tahun malah membuat pusing...penyakit aneh....
Tapi hebatnya rakyat Indonesia....
Naik harga karena BBM...naik harga karena RAMADHAN...naik harga karena IEDUL FITRI
Tetap rakyat masih bisa bertahan hidup...karena RIZKI datang dari ALLAH...bukan dari PEMERINTAH...
Saat pemerintah menjamin bahwa harga kebutuhan pangan akan naik
"sedikit" karena dijamin supplai dipenuhi, ternyata dipasar kenaikan ada
yang mencapai hampir 100%....!!!
Kalau kenaikan Bahan Bakar Minyak
akan mendongkrak HARGA KEBUTUHAN HIDUP.......itu wajar karena semua
distribusi ekonomi menggunakan kendaraan berbahan bakar...
Tapi kenaikan harga jelang RAMADHAN adalah TIDAK WAJAR...
RAMADHAN itu latihan....salah satunya menahan diri dari lapar dan haus dari Shubuh hingga Maghrib...
...Berlatih prihatin sebagaimana fakir miskin yang tidak selalu memiliki makanan setiap harinya...
...masih lebih ringan ..karena fakir miskin terkadang TIDAK MAKAN
BEBERAPA HARI...sementara kita hanya TIDAK MAKAN DISIANG HARI...
Kelirunya kita dibulan RAMADHAN.....
....kulkas kita penuh dengan makanan yang lebih lengkap dari hari biasanya...
.....jenis menu makanan lebih lengkap dari menu biasanya...
........Kita berbuka puasa dengan makanan yang super lengkap dan banyak...
PADAHAL...
....melalui bulan RAMADHAN, kita seharusnya berlatih merasakan
bagaimana menjadi FAKIR MISKIN ...bukan orang2 yang serba berlebihan
dengan makanan...
Kalau masyarakat muslim sanggup bersikap seperti ini,...
...bukan belanja stock banyak makanan dikulkas yang diutamakan, tapi bagaimana menambah STOCK ILMU jelang RAMADHAN...
RAMADHAN...
...harusnya kita BANYAK BERSEDEKAH..bukan BANYAK BELANJA...
Sehingga para penjualpun tidak bisa MENAIKAN HARGA BARANG...karena umat muslim banyak yang SIBUK SHAUM... bukan SIBUK MASAK....
Saudaraku...
Sangat disayangkan kalau setiap RAMADHAN, kita tergolong seperti pesan Rasulullah dibawah ini...
"Banyak orang yang puasa dan tidak mendapatkan apa-apa melainkan hanya rasa lapar dan haus saja". [Hadits Riwayat Bukhari]
"...SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH RAMADHAN 1434 H,
...SEMOGA ALLAH KARUNIAKAN KEKUATAN UNTUK MENINGKAT MENJADI PRIBADI TAQWA..."
Semoga bermanfaat..
Wassalamu'alaykum
Kang Dwin
Sabtu, 13 Juli 2013
"...KELIRUNYA KITA DI BULAN RAMADHAN..." - Kang Dwin
Assalamu'alaykum...
"...KELIRUNYA KITA DI BULAN RAMADHAN..."
Kita selalu berfikir bahwa 'ibadah Ramadhan adalah 'ibadah bersama dengan diakhiri saling memaafkan diantara sesama muslim.
Padahal untuk memaafkan sesama, ISLAM sudah menegaskan bukan dikhususkan hanya di bulan Ramadhan/Syawal tetapi SETIAP SAAT seperti diperintahkan dalam Qur'an Surat Ali Imran (3) ayat 134.
Sementara do'a yang benar yang diucapkan pada 1 Syawal (Iedul Fitri) adalah 'TAQOBBALALLAAHU MINNA WA MINKA" yang berarti “Semoga ALLAH menerima amal kami dan amal Anda.” bukan memiliki arti MOHON MAAF LAHIR BATIN...
Tetapi...banyak dikalangan ummat Islam mengucapkan MINAL AIDIN WAL FAIZIN (artinya "sebagai orang kembali dan beruntung")...tapi mengira artinya adalah "mohon maaf lahir batin"....
Keramas pun menjelang RAMADHAN menjadi ritual wajib yang sebenarnya ritual warisan agama hindu, padahal seharusnya mempersiapkan diri dengan ilmu rukun shaum Ramadhan lebih utama. Dan Shaum sebelum RAMADHAN/bulan Sya'ban merupakan yang dicontohkan Rasulullah.
Jadi 'ibadah Ramadhan bukanlah 'IBADAH JEMAAH untuk saling bermaafan diawalnya, melainkan 'IBADAH PRIBADI mukmin untuk menaikan tingkatan dari MUKMIN menjadi TAQWA...
...Dan hanya ALLAH yang akan memberi penilaian karena 'Ibadah Shaum adalah puasa para mukmin yang dipersembahkan hanya untuk ALLAH semata....
"...MARHABBAN YAA RAMADHAN..."
(...Selamat Datang Bulan Suci Ramadhan...)
...Semoga menggapai derajat TAQWA...
Semoga bermanfaat,
Wassalamu'alaykum
Kang Dwin
"...KELIRUNYA KITA DI BULAN RAMADHAN..."
Kita selalu berfikir bahwa 'ibadah Ramadhan adalah 'ibadah bersama dengan diakhiri saling memaafkan diantara sesama muslim.
Padahal untuk memaafkan sesama, ISLAM sudah menegaskan bukan dikhususkan hanya di bulan Ramadhan/Syawal tetapi SETIAP SAAT seperti diperintahkan dalam Qur'an Surat Ali Imran (3) ayat 134.
Sementara do'a yang benar yang diucapkan pada 1 Syawal (Iedul Fitri) adalah 'TAQOBBALALLAAHU MINNA WA MINKA" yang berarti “Semoga ALLAH menerima amal kami dan amal Anda.” bukan memiliki arti MOHON MAAF LAHIR BATIN...
Tetapi...banyak dikalangan ummat Islam mengucapkan MINAL AIDIN WAL FAIZIN (artinya "sebagai orang kembali dan beruntung")...tapi mengira artinya adalah "mohon maaf lahir batin"....
Keramas pun menjelang RAMADHAN menjadi ritual wajib yang sebenarnya ritual warisan agama hindu, padahal seharusnya mempersiapkan diri dengan ilmu rukun shaum Ramadhan lebih utama. Dan Shaum sebelum RAMADHAN/bulan Sya'ban merupakan yang dicontohkan Rasulullah.
Jadi 'ibadah Ramadhan bukanlah 'IBADAH JEMAAH untuk saling bermaafan diawalnya, melainkan 'IBADAH PRIBADI mukmin untuk menaikan tingkatan dari MUKMIN menjadi TAQWA...
...Dan hanya ALLAH yang akan memberi penilaian karena 'Ibadah Shaum adalah puasa para mukmin yang dipersembahkan hanya untuk ALLAH semata....
"...MARHABBAN YAA RAMADHAN..."
(...Selamat Datang Bulan Suci Ramadhan...)
...Semoga menggapai derajat TAQWA...
Semoga bermanfaat,
Wassalamu'alaykum
Kang Dwin
" ...BUKAN BERDEBAT, TAPI PERBAIKILAH..." - Kang Dwin
Assalamu'alaykum...
" ...BUKAN BERDEBAT, TAPI PERBAIKILAH..."
Walaupun Pemerintah telah mengumumkan keputusan bahwa 1 Ramadhan 1434 Hijriah akan jatuh pada hari Rabu tgl 10 Juli 2013, tapi masih saja media TV mempertontonkan acara PERBEDAAN antar golongan dalam menentukan 1 Ramadhan...
Alangkah indah bila pihak media tidak TERUS MENGULAS TENTANG PERBEDAAN yang dapat membingungkan masayarakat awam..
Bukankah keputusan pemerintah sudah diumumkan....?
Berkerjasamalah mencari solusi agar tercipta kedamaian...
Banyak hal aneh pada kesepakatan manusia...salah satunya Singapur yang dapat dilihat jelas dari kota Batam...tapi waktu diantara keduanya memiliki perbedaan 1 jam....tapi mengapa tidak pernah dibahas untuk berdebat..?
Bahkan harusnya MEDIA-PEMERINTAH-MASYARAKAT bekerjasama mencerdaskan dan memperbaiki keadaan masyarakat yang menyambut bulan suci RAMADHAN hanya berfikir seputar mempersiapkan makanan istimewa....
...yang seharusnya mempersiapkan dengan ilmu sehingga RAMADHAN menghasilkan masyarakat yang baik...
“Hai sekalian manusia, makanlah yang HALAL dan BAIK dari apa yang terdapat di bumi.” [Qur'an Al-Baqarah ayat 168]
Tapi bagaimana mungkin menjadi masyarakat yang baik bila...setiap saat yang difikirkan hanya MAKANAN dibandingkan ILMU...
Bahkan berita media malam ini disalah satu stasiun TV...dikarenakan harga cabe merah melonjak lebih dari 100%, maka para pembeli memilih cabe busuk untuk dikonsumsi dan ternyata penjualpun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini hingga memberi harga sangat CABE BUSUK sebesar Rp 20.000/kg... !!!!!
Bagaimana dapat menjadi pribadi sehat bila makanan rusak yang dikonsumsi...
Bagaimana dapat berakhlak baik bila makanan pun tidak baik...
Saudaraku...
Sudah saatnya kita selalu memilih hanya yang TERBAIK yang masuk kedalam perut kita, bukan hanya sekedar KENYANG...
Karena Sayidina Ali bin Abi Thalib berpesan :
"Barangsiapa yang hidupnya hanya memikirkan isi perut, maka derajatnya dihadapan ALLAH seperti apa yang dikeluarkan dari perutnya..."
Semoga bermanfaat.
Wassalamu'alaykum...
Kang Dwin
" ...BUKAN BERDEBAT, TAPI PERBAIKILAH..."
Walaupun Pemerintah telah mengumumkan keputusan bahwa 1 Ramadhan 1434 Hijriah akan jatuh pada hari Rabu tgl 10 Juli 2013, tapi masih saja media TV mempertontonkan acara PERBEDAAN antar golongan dalam menentukan 1 Ramadhan...
Alangkah indah bila pihak media tidak TERUS MENGULAS TENTANG PERBEDAAN yang dapat membingungkan masayarakat awam..
Bukankah keputusan pemerintah sudah diumumkan....?
Berkerjasamalah mencari solusi agar tercipta kedamaian...
Banyak hal aneh pada kesepakatan manusia...salah satunya Singapur yang dapat dilihat jelas dari kota Batam...tapi waktu diantara keduanya memiliki perbedaan 1 jam....tapi mengapa tidak pernah dibahas untuk berdebat..?
Bahkan harusnya MEDIA-PEMERINTAH-MASYARAKAT bekerjasama mencerdaskan dan memperbaiki keadaan masyarakat yang menyambut bulan suci RAMADHAN hanya berfikir seputar mempersiapkan makanan istimewa....
...yang seharusnya mempersiapkan dengan ilmu sehingga RAMADHAN menghasilkan masyarakat yang baik...
“Hai sekalian manusia, makanlah yang HALAL dan BAIK dari apa yang terdapat di bumi.” [Qur'an Al-Baqarah ayat 168]
Tapi bagaimana mungkin menjadi masyarakat yang baik bila...setiap saat yang difikirkan hanya MAKANAN dibandingkan ILMU...
Bahkan berita media malam ini disalah satu stasiun TV...dikarenakan harga cabe merah melonjak lebih dari 100%, maka para pembeli memilih cabe busuk untuk dikonsumsi dan ternyata penjualpun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini hingga memberi harga sangat CABE BUSUK sebesar Rp 20.000/kg... !!!!!
Bagaimana dapat menjadi pribadi sehat bila makanan rusak yang dikonsumsi...
Bagaimana dapat berakhlak baik bila makanan pun tidak baik...
Saudaraku...
Sudah saatnya kita selalu memilih hanya yang TERBAIK yang masuk kedalam perut kita, bukan hanya sekedar KENYANG...
Karena Sayidina Ali bin Abi Thalib berpesan :
"Barangsiapa yang hidupnya hanya memikirkan isi perut, maka derajatnya dihadapan ALLAH seperti apa yang dikeluarkan dari perutnya..."
Semoga bermanfaat.
Wassalamu'alaykum...
Kang Dwin
Ramadhan Bulan Penuh Berkah. Untuk Siapa?
Kita semua tahu, bahwa bulan
Ramadhan (dibaca Romadhon ya, bukan Ramadan) adalah bulan yang penuh
berkah. Kenapa? Karena di bulan Ramadhan ini...
1. Bulan obral di mana Allah akan mengijabah doa-doa kita
2. Bulan obral di mana Allah mengampuni dosa-dosa kita
3. Bulan obral di mana Allah melipat gandakan pahala ibadah kita
Obral untuk siapa?
Masih inget kan, pelajaran yang kita terima dari ustadz kita (itu buat yang pernah ngaji lho)
Bahwa...
1. Waktu antara Maghrib dan Isya adalah waktu yang mustajabah untuk memanjatkan doa
2. Rasulullah melarang orang banyak bicara setelah sholat Isya
3. Sepertiga malam terkahir adalah waktu terbaik untuk mohon ampunan dan bermunajah kepadaNya.
Lalu kenapa?
Setelah berbuka (bahkan sambil berbuka) kita masih terpesona oleh layar televisi yang menebar mudzarat dengan cerita-cerita yang penuh dengan intrik dan kemaksiatan. Cerita-cerita yang mengajarkan kedengkian dan nafsu keduniawian.Atau asyik bercekakak cekikik dengan banyolan-banyolan vulgar yang menyajikan ketololan dan kenaifan yang justru tak seharusnya dilakukan umat muslim. Bukannya segera ambil air wudhu, dirikan sholat maghrib dan perbanyak doa.
Selepas Isya, masih penasaran dengan cerita-cerita sinetron (yang konon kabarnya sinetron religi) yang masih dengan cerita yang itu-itu saja. Kedengkian, permusuhan, keserakahan, muslihat yang sedang diajarkan oleh entah siapa melalui layar televisi. (Lagi-lagi televisi). Bukannya shalat tarwih, tadarus dan telaah Al Qur'an yang kita yakini sebagai pedoman hidup. Yang kelak akan memberi syafaat dengan menaungi pembacanya di Padang Makhsyar
Waktu sahur, sambil menikmati hidangan sahur, kita terlena dengan hiburan yang dipenuhi dengan canda tawa vulgar, konyol tanpa manfaat. Bukankah kesempatan untuk melengkapi ibadah sahur dengan Qiyamullail, sholat malam, dan perbanyak istighfar memohon ampunannya. Astaghfirullah.
Ingat!! Rasulullah yang sudah memegang kunci surga, dan Allah menjaminnya untuk masuk surga saja masih beristighfar ratusan kali dalam sehari semalam. Kita? Istighfarnya masih darling. Kalau sadar dan eling. Astaghfirullah.
Kok lagi-agi televisi?
Iya, karena televisi adalah media dan sarana hiburan yang paling mudah diakses oleh seluruh bangsa, murah tanpa keluar biaya dan bisa dinikmati di mana saja. Tapi justru televisi sudah menjadi perpanjangan tangan syetan di bulan Ramdhan ini.
Lho, katanya syetan sudah dibelenggu?
Betul, Syetan memang sudah dibelenggu. Tapi ternyata nafsu manusia itu sudah lebih berbahaya daripada syetan. Karena syetan hanya sebagai penggoda, sedangkan nafsu dan diri manusialah yang menjadi eksekutornya.
Jadi?
Ramadhan itu bulan yang penuh berkah, untuk siapa?
Pertanyaan yang hanya bisa dijawah dengan nurani kita. Bukan dengan lisan kita. Apalgi diperdebatkan.
Dan, berodalah, semoga bulan ini bukan Ramadhan terakhir dalam hidup kita.
Agar bisa memperbaiki amalan Ramadhan kita di tahun depan. Insya Allah.
1. Bulan obral di mana Allah akan mengijabah doa-doa kita
2. Bulan obral di mana Allah mengampuni dosa-dosa kita
3. Bulan obral di mana Allah melipat gandakan pahala ibadah kita
Obral untuk siapa?
Masih inget kan, pelajaran yang kita terima dari ustadz kita (itu buat yang pernah ngaji lho)
Bahwa...
1. Waktu antara Maghrib dan Isya adalah waktu yang mustajabah untuk memanjatkan doa
2. Rasulullah melarang orang banyak bicara setelah sholat Isya
3. Sepertiga malam terkahir adalah waktu terbaik untuk mohon ampunan dan bermunajah kepadaNya.
Lalu kenapa?
Setelah berbuka (bahkan sambil berbuka) kita masih terpesona oleh layar televisi yang menebar mudzarat dengan cerita-cerita yang penuh dengan intrik dan kemaksiatan. Cerita-cerita yang mengajarkan kedengkian dan nafsu keduniawian.Atau asyik bercekakak cekikik dengan banyolan-banyolan vulgar yang menyajikan ketololan dan kenaifan yang justru tak seharusnya dilakukan umat muslim. Bukannya segera ambil air wudhu, dirikan sholat maghrib dan perbanyak doa.
Selepas Isya, masih penasaran dengan cerita-cerita sinetron (yang konon kabarnya sinetron religi) yang masih dengan cerita yang itu-itu saja. Kedengkian, permusuhan, keserakahan, muslihat yang sedang diajarkan oleh entah siapa melalui layar televisi. (Lagi-lagi televisi). Bukannya shalat tarwih, tadarus dan telaah Al Qur'an yang kita yakini sebagai pedoman hidup. Yang kelak akan memberi syafaat dengan menaungi pembacanya di Padang Makhsyar
Waktu sahur, sambil menikmati hidangan sahur, kita terlena dengan hiburan yang dipenuhi dengan canda tawa vulgar, konyol tanpa manfaat. Bukankah kesempatan untuk melengkapi ibadah sahur dengan Qiyamullail, sholat malam, dan perbanyak istighfar memohon ampunannya. Astaghfirullah.
Ingat!! Rasulullah yang sudah memegang kunci surga, dan Allah menjaminnya untuk masuk surga saja masih beristighfar ratusan kali dalam sehari semalam. Kita? Istighfarnya masih darling. Kalau sadar dan eling. Astaghfirullah.
Kok lagi-agi televisi?
Iya, karena televisi adalah media dan sarana hiburan yang paling mudah diakses oleh seluruh bangsa, murah tanpa keluar biaya dan bisa dinikmati di mana saja. Tapi justru televisi sudah menjadi perpanjangan tangan syetan di bulan Ramdhan ini.
Lho, katanya syetan sudah dibelenggu?
Betul, Syetan memang sudah dibelenggu. Tapi ternyata nafsu manusia itu sudah lebih berbahaya daripada syetan. Karena syetan hanya sebagai penggoda, sedangkan nafsu dan diri manusialah yang menjadi eksekutornya.
Jadi?
Ramadhan itu bulan yang penuh berkah, untuk siapa?
Pertanyaan yang hanya bisa dijawah dengan nurani kita. Bukan dengan lisan kita. Apalgi diperdebatkan.
Dan, berodalah, semoga bulan ini bukan Ramadhan terakhir dalam hidup kita.
Agar bisa memperbaiki amalan Ramadhan kita di tahun depan. Insya Allah.
Senin, 08 Juli 2013
Catatan Jelang Romadhon
Jelang Romadhon setahun yang lalu.
Bapak, aku kembali ke hadapanmu.
Kembali memohon kau turut pikulkan beban yang terasa begitu berat di
sanubariku. Memohon kau usap luka yang kembali tergores. Karna kutahu, di renta
usiamu, kau tetap kokoh buatku. Entahlah Pak, Nurani ini begitu kaku. Tak bisa
menerima apapun yang tak bisa kutempatkan di sana.
Bapak.
Aku kembali ke pelukanmu. Sebagai lilin yang tinggal pangkal tak lagi utuh.
Tlah habis memberi terang bagi gelap sekelilingnya. Kerna itulah yang pernah kau
ajarkan padaku. Kerna tempat bersandar hanya padaNya yang hakiki. Hingga aku
terhanyut dalam arus hidup yang tak pernah kutahu arahnya. Hidup memang misteri
bukan? Kerna tak pernah kutahu dari mana
awal, dan di mana akhir, dari sebuah episode cerita hidup yang harus
kulakonkan.
Bapak.
Aku kembali membawakanmu sejumput harap. Tentang Romadhon yang ingin kujalani
sebulan penuh bersamamu. Setelah belasan tahun Romadhonku kujalani dalam
pengambaran panjangku. Hanya itu yang kumau. Karena tak mampu kuberikan duniawi
untuk Romadon dan Lebaranmu, Bapak.
Bapak.
Aku gembira, aku bahagia, entah bagaimana aku harus mensyukurinya. Allah
mengabulkan harapku kan?
Hingga Romadhon tahun kemarin bisa kujalani bersamamu. Utuh, sebulan penuh. Dan
menjadi Romadhon yang paling istimewa untukku. Romadhon terindah dan Romadhon paling berharga seumur hidupku.
Romadhon paling cemerlang dalam sejarah yang tertulis tentangku.
Bapak.
Kutahu kau letih. Tak seharusnya kupinta kau pikulkan bebanku di pundakmu.
Maafkan anakmu yang tak tahu diri ya. Sebenarnya, aku masih berharap bisa
kembali menjalani Romadhon ini bersamamu. Sampai Idul Fitri nanti, juga
hari-hari sesudahnya. Karena masih banyak yang ingin kutahu darimu, Guru
Hebatku.
Bapak,
ternyata Allah lebih menginginkanmu daripada kami. Sudah waktunya kau kembali
ke haribaanNya. Kami ikhlas Bapak, saat dalam teduh, hening dan damai kau pamit
kepada kami. Halus, hening, dan teduh. Tanpa sedu sedan dan isak dari kami. Kami
ikhlas. Kami ridho. Terlebih setelah kami diberikan kesempatan olehNya untuk
mengantarmu dengan Tahlil yang kami bisikkan di telingamu (dan kami yakin kau
ucap pula di batinmu). Juga Yaasin, Ar-Roman, Al-Mulk, Al-Waqi’ah dan Ar-Ro’du
yang mengalun merdu dari lisan-lisan kami. Ibuku yang juga istri terkasihmu.
Anak-anak dan menantumu. Juga cucumu.
Bapak,
Allah telah memilihkan waktu yang terbaik untukmu. Selepas pertengahan bulan
Sya’ban. Dia memanggilmu sebagaimana Dia memanggil para Syuhada. Saat
puasa-puasa sunnah tak lagi diperkenankan. Dia memanggilmu denga penuh
kehormatan.
Bapak,
meski Romadhon ini tak lagi bisa kujalani bersamamu. Ada rasa bahagia yang membuncah dari
sanubariku yang tak bisa kuceritakan. DIAlah yang bisa mengerti arti
kebahagiaan itu. Salam bakti dari kami.
Sabtu, 22 Desember 2012
WIJAYA KUSUMA
Malam itu ada yang agak ganjil di halaman rumahku.
Di sudut halaman, perbatasan pekarangan dengan tetangga, kulihat ada warna putih yang sangat mencolok.
Terbawa oleh rasa penasaran, aku mendekat.
Subhanallah, ternyata kembang Wijaya Kusuma sedang mekar.
Kembang Wijaya kusuma hanya mekar sekali, dan waktunya tengah malam.
Ini bukan mitos lho, but the fact.
Mitosnya adalah, siapa saja yang melihat kembang tersebut mekar dengan sempurna
Insya Allah segala keinginannya bakal kesampaian.
Nah, terbawa oleh mitos tersebut aku sengaja menunggu,
pengin lihat kembang itu mekar secara sempurna, yang katanya bisa selebar piring makan.
Sambil menunggu, kadang aku masuk rumah, kadang ngobrol ama tetangga.
Tapi....ada tapinya lho. Lihat arloji ternyata masih jam 21:00 malam
Waaaahhhh masih lama dong.
Tiba-tiba gerimis datang. Tapi tak apa
Tak menyurutkan semangatku untuk menunggu.
Setiap perkembangan dari mekarnya sang kembang aku ambil gambarnya
Hinga akhirnya sampai jam 23:30.
Hampir tengah malam
Tetangga kanan kiri udah sepi. Apalgi gerimis
Akupun duduk-duduk di warungku sambul menunggu setengah jaman.
Daaaaaannnnn....
Aku terhenyak. Bangun dan segera menuju kembang tersebut.
Wow....baunya semerbak wangi sekali.
Teng.......
Teringat, bahwa kembang wijaya kusuma akan mengeluarkan bau wangi setelah mekar.
Lhaaahhhhh.....segera kulihat arlojiku.
Jam 01:20
Astaghfirullah, ternyata aku tadi ketiduran.
Yahhhh....nggak lihat mekar sempurnanya wijaya kusuma deh.
Paginya, kembang itu sudah kuncup lagi, menunggu watu untuk kering.
Nggak papa, masih ada kesempatan lain
Di sudut halaman, perbatasan pekarangan dengan tetangga, kulihat ada warna putih yang sangat mencolok.
Terbawa oleh rasa penasaran, aku mendekat.
Subhanallah, ternyata kembang Wijaya Kusuma sedang mekar.
Kembang Wijaya kusuma hanya mekar sekali, dan waktunya tengah malam.
Ini bukan mitos lho, but the fact.
Mitosnya adalah, siapa saja yang melihat kembang tersebut mekar dengan sempurna
Insya Allah segala keinginannya bakal kesampaian.
Nah, terbawa oleh mitos tersebut aku sengaja menunggu,
pengin lihat kembang itu mekar secara sempurna, yang katanya bisa selebar piring makan.
Sambil menunggu, kadang aku masuk rumah, kadang ngobrol ama tetangga.
Tapi....ada tapinya lho. Lihat arloji ternyata masih jam 21:00 malam
Waaaahhhh masih lama dong.
Tiba-tiba gerimis datang. Tapi tak apa
Tak menyurutkan semangatku untuk menunggu.
Setiap perkembangan dari mekarnya sang kembang aku ambil gambarnya
Hinga akhirnya sampai jam 23:30.
Hampir tengah malam
Tetangga kanan kiri udah sepi. Apalgi gerimis
Akupun duduk-duduk di warungku sambul menunggu setengah jaman.
Daaaaaannnnn....
Aku terhenyak. Bangun dan segera menuju kembang tersebut.
Wow....baunya semerbak wangi sekali.
Teng.......
Teringat, bahwa kembang wijaya kusuma akan mengeluarkan bau wangi setelah mekar.
Lhaaahhhhh.....segera kulihat arlojiku.
Jam 01:20
Astaghfirullah, ternyata aku tadi ketiduran.
Yahhhh....nggak lihat mekar sempurnanya wijaya kusuma deh.
Paginya, kembang itu sudah kuncup lagi, menunggu watu untuk kering.
Nggak papa, masih ada kesempatan lain
TAHUN BARU
Hmmmmm....mendekati penghujung bulan Desember 2012.
Wah...tentu udah mateng ya persiapan tahun baruannya.
Semoga tahun depan benar-benar lebih baik kualitasnya daripada tahun ini ya
Bicara soal tahun baru,
belum lama ini kita juga merayakan tahun baru Hijriyah kan?
Atau yang lebih banyak dikenal dengan sebutan 1 Suro.
Hmmmmm.....inget kan?
Di berbagai daerah memiliki tradisi dan ritual yang unik dan berbeda-beda.
Di kampungku ada tradisi yang terpelihara sejak aku kecil hingga saat ini
Yaitu BARIDAN
Baridan adalah kendurian yang unik dan menarik dibanding kenduri-kenduri lainnya.
Karena ada beberapa aturan tak tertulis yang harus ditaati warga.
Warga yang rumahnya menghadap ke utara dan selatan, wajib menyediakan ketupat dan lepet.
Sedangkan rumah yang menghadap ke timur dan barat wajib membuat nasi liwet dengan perlengkapannya.
Nasi liwet itu harus ditanak di KENDIL, berhubung jaman sekarang sudah jarang kendil, akhirnya pancipun diperbolehkan.
Nasi liwet itu harus dibawa ke tempat kendurian bersama dengan kendil atau pancinya.
Biasanya di atas nasi sudah dilengkapi dengan urap, bacem tempe, tahu, goreng ikan asin, atau telur dadar.
Tempat kendurinya juga unik. Bukan di musholla atau rumah kepala kampung.
Tapi dipilih di persimpangan jalan. Diutamakan di perempatan jalan.
Kalau tak ada perempaatan, di pertigaan juga bisa.
Di situ akan digelar memanjang susunan daun pisang.
Segala macam makanan akan dituang di atas daun pisang tersebut.
Nasi liwet yang dibawa dengan kendil juga akan dituang di atas daun pisang tersebut.
Peserta Baridan adalah seluruh keluarga dari warga kampung.
Bapak, Ibu, Kakek, Nenek, dan Anak-anak semua berkumpul jadi satu.
Setelah doa-doa dari pak Kyai selesai, tibalah acara makan malam bersama.
Kita bebas mengambil makanan apa saja yang kita suka.
Acara akan ditutup dengan Sholawat Nabi sambil membungkus makanan-makanan yang tersisa
dengan daun pisang untuk dibawa pulang warga.
Pada acara Baridan tahun ini, aku duduk manis tanpa banyak gerak karena sudah mendapatkan menu spesial yang sudah aku incar dari rumah. Nasi liwet, urap daun pepaya dan goreng ikan asin.
Wah...tentu udah mateng ya persiapan tahun baruannya.
Semoga tahun depan benar-benar lebih baik kualitasnya daripada tahun ini ya
Bicara soal tahun baru,
belum lama ini kita juga merayakan tahun baru Hijriyah kan?
Atau yang lebih banyak dikenal dengan sebutan 1 Suro.
Hmmmmm.....inget kan?
Di berbagai daerah memiliki tradisi dan ritual yang unik dan berbeda-beda.
Di kampungku ada tradisi yang terpelihara sejak aku kecil hingga saat ini
Yaitu BARIDAN
Baridan adalah kendurian yang unik dan menarik dibanding kenduri-kenduri lainnya.
Karena ada beberapa aturan tak tertulis yang harus ditaati warga.
Warga yang rumahnya menghadap ke utara dan selatan, wajib menyediakan ketupat dan lepet.
Sedangkan rumah yang menghadap ke timur dan barat wajib membuat nasi liwet dengan perlengkapannya.
Nasi liwet itu harus ditanak di KENDIL, berhubung jaman sekarang sudah jarang kendil, akhirnya pancipun diperbolehkan.
Nasi liwet itu harus dibawa ke tempat kendurian bersama dengan kendil atau pancinya.
Biasanya di atas nasi sudah dilengkapi dengan urap, bacem tempe, tahu, goreng ikan asin, atau telur dadar.
Tempat kendurinya juga unik. Bukan di musholla atau rumah kepala kampung.
Tapi dipilih di persimpangan jalan. Diutamakan di perempatan jalan.
Kalau tak ada perempaatan, di pertigaan juga bisa.
Di situ akan digelar memanjang susunan daun pisang.
Segala macam makanan akan dituang di atas daun pisang tersebut.
Nasi liwet yang dibawa dengan kendil juga akan dituang di atas daun pisang tersebut.
Peserta Baridan adalah seluruh keluarga dari warga kampung.
Bapak, Ibu, Kakek, Nenek, dan Anak-anak semua berkumpul jadi satu.
Setelah doa-doa dari pak Kyai selesai, tibalah acara makan malam bersama.
Kita bebas mengambil makanan apa saja yang kita suka.
Acara akan ditutup dengan Sholawat Nabi sambil membungkus makanan-makanan yang tersisa
dengan daun pisang untuk dibawa pulang warga.
Pada acara Baridan tahun ini, aku duduk manis tanpa banyak gerak karena sudah mendapatkan menu spesial yang sudah aku incar dari rumah. Nasi liwet, urap daun pepaya dan goreng ikan asin.
Langganan:
Postingan (Atom)
















