JAMBU BIJI....
Pohonnya sih sudah tumbang, tapi dahan dan daunnya tetap rimbun. Bahkan di ujung kemarau panjang ini sekalipun. Inget kan September 2012 ini adalah saat kering-keringnya iklim di negeri tercinta kita. Tapi dia, pohon jambu di sebelah timur rumahku, tetap banyak buahnya, Bahkan masih ada beberapa bunganya yang sedang mekar. Putih, indah, bersihn dan kalau dicium, ah...nggak wangi!
Bulan puasa kemarin, dia menyediakan hidangan buka puasa buatku. Setiap hari lho. Eh ada yang aneh. Siang, kalau aku cari-cari kayanya gak ada buah yag siap santap. Tapi menjelang maghrib, ada aja buah ranum yang mejeng di depan mataku. Alhamdulillah. Sepanjang bulan Ramadhan 1433 H aku selalu membatalkan puasaku dengan buah jambu. Tandas sampe biji-bijinya.
Kalau diinget sih, pohon jambu itu sudah lebih dari enam tahun lho memasok kebutuhan vitamin C keluarga kami. Dulu. Dulu banget, pernah mau ditebang oleh ibu, karena buahnya dikit. Eh,beberapa hari kemudian bakal bunganya pada berebut bermuculan di depan ibuku. Ganjen ya.. Akhirnya gak jadi ditebang.
Pada saat beberapa tetangga terkena DB, dia berjasa lho. Banyak yang meminta buahnya. Konon katanya cepat membantu proses penyembuhan DB. Terus ketika ayam-ayam kami sakit. Entah dapet ide dari mana, adik iparku (suami adikku yang nomor 4) memetik beberapa buah jambu. Dicacahnya, kemudian diberikan kepada ayam-ayam kami. Alhamdulillah, ayam-ayam kami jadi sehat.
Sekarang, buah jambu itu tetep menjadi keuskaannku. Bahkan beberapa tetangga dan teman-teman dari Kampoeng Gembloeng sering meminta buahnya.
Buah jambu kami berbeda dengan buah jambu yang di pasar. Kulitnya keras, isinya merah, bijinya banyak dan keras pula. Tapi rasanya, jauh lebih manis.
Dulu, sebelum aku tinggal di rumah bersama kedua orang tuaku, aku sering sekali sakit sariawan. Ibarat satu sembuh, dua datang, dua sembuh, satu datang. Sampe aku harus menggunakan pasta gigi khusus untuk mencegah sariawan.
Sekarang, sariawan itu udah "say good bay". Mungkin karena supply vitamin C dari si buah jambu itu. Eits...jangan mengira dulunya aku kekurangan Vitamin C ya. Berbagai supplemen Vitamin C dari yang biasa sampai dosis tinggi menjadi daftar belanja wajibku lho. Tapi tetep aja yang namanya sariawan enggan pergi dariku.
Sekarang, dengan bermesraan bersama pohon jambuku, sariawan itu mungkin cemburu ya. Terus dia pergi mencari gebetan baru.
Kendal, October, 02-2012
Selasa, 02 Oktober 2012
Senin, 01 Oktober 2012
BERSAMAMU
**Diadaptasi dari lagu SAHABAT KECIL by Ipang
Dari OST film LASKAR PELANGI**
Baru saja berakhir
bersamamu sore ini
menyisakan keajaiban
indahnya bersamamu
Lembutnya tutur kata
dan aku mengaguminya
Kesempatan seperti ini
Tak akan bisa dibeli
Bersamamu menghabiskan waktu
Senang bisa mengenal dirimu
Rasanya semua begitu sempurna
Sayang untuk mengakhirinya
Melawan keterbatasan
Selalu ada kemungkinan
Bersamamu bagai sore itu
Mewarnai indahnya pelangi
Cirebon, Oktober 1st-2012
**Diadaptasi dari lagu SAHABAT KECIL by Ipang
Dari OST film LASKAR PELANGI**
Baru saja berakhir
bersamamu sore ini
menyisakan keajaiban
indahnya bersamamu
Lembutnya tutur kata
dan aku mengaguminya
Kesempatan seperti ini
Tak akan bisa dibeli
Bersamamu menghabiskan waktu
Senang bisa mengenal dirimu
Rasanya semua begitu sempurna
Sayang untuk mengakhirinya
Melawan keterbatasan
Selalu ada kemungkinan
Bersamamu bagai sore itu
Mewarnai indahnya pelangi
Cirebon, Oktober 1st-2012
Minggu, 30 September 2012
Curhat dikit ya, eh berbagi rasa ding.
SETELAH 25 TAHUN
Pagi yang tak biasa.......
Bangun jam 4 pagi tak lagi diburu berbagai rutinitas baruku
***tapi untuk hari ini saja ya***
1 Oktober 2012
Beberapa hari ini menjadi saat yang kutunggu
Tapi pagi ini
....entah kenapa
rasa was-was, takut, kuatir, minder dan merasa tak pantas
semua sepakat mengadakan musyawarah di ruangan benakku
seperti sepakat untuk memboikot hari ini
Fyuuuuuhhhhhhhhhhhhh.......................
andai bisa ditunda.
Andai benar
Allah mengkaruniakan kembali yang telah diambilnya dariku 25 tahun yang lalu
betapa indahnyaaaa.....
Pasti hatiku akan bernyanyi sepanjang hari ini
juga hari-hari selanjutnya.
Tapi
.....ah....aku tak berani berandai-andai
karena memang (rasanya) tak selayaknya berandai andai
**Indramayu, October-first-2012
Pagi yang tak biasa.......
Bangun jam 4 pagi tak lagi diburu berbagai rutinitas baruku
***tapi untuk hari ini saja ya***
1 Oktober 2012
Beberapa hari ini menjadi saat yang kutunggu
Tapi pagi ini
....entah kenapa
rasa was-was, takut, kuatir, minder dan merasa tak pantas
semua sepakat mengadakan musyawarah di ruangan benakku
seperti sepakat untuk memboikot hari ini
Fyuuuuuhhhhhhhhhhhhh.......................
andai bisa ditunda.
Andai benar
Allah mengkaruniakan kembali yang telah diambilnya dariku 25 tahun yang lalu
betapa indahnyaaaa.....
Pasti hatiku akan bernyanyi sepanjang hari ini
juga hari-hari selanjutnya.
Tapi
.....ah....aku tak berani berandai-andai
karena memang (rasanya) tak selayaknya berandai andai
**Indramayu, October-first-2012
Jumat, 28 September 2012
Cerita Pendek
PEREMPUAN
PENJEMPUT PAGI
Mestinya. Masih
ingin ia mendekap hangat pelukan malam. Ikuti hasrat mata yang masih ingin
memejam. Melanjutkan mimpi yang tak pernah bisa dirangkaikan alurnya. Melupakan
setiap usikan penat dan berbagai beban pikiran. Yang selalu menyeruak, masuk
dengan paksa ke dalam isi kepalanya.
Dentang tiang
listrik memecah sunyi. Ditabuh seorang penjaga malam yang tiap hari bergantian.
Namun selalu setia mengingatkan titik waktu. Tak hirau kepedulian penduduk atas
hadirnya. Dentang itu selalu hadir setiap jam sekali, sejak ia harus melengking
sepuluh kali sampai adzan subuh membahana dari masjid di ujung kampung.
“Teng-teng!”
Dentang berbunyi
dua kali. Merobos gelap. Merobek sunyi. Memaksanya perlahan membuka mata yang
terasa begitu berat. Memaksanya pula melupakan rasa pening yang membuatnya
limbung akibat jam tidur semestinya yang tak terpenuhi.
Langkah kakinya
tak jelas. Kedua kakinya terseret pelan, membuka pintu bilik gelap. Tangannya
menggapai. Klik! Bola lampu 25 watt menerangi ruangan dapur. Terangi tungku tua
di sudut ruangan. Terangi tumpukan ranting kering yang teronggok di samping
tungku. Terangi gentong air yang sebagian badannya tertanam dalam tanah. Terangi
dua ember hitam air pencuci piring. Terangi seluruh ruangan sampai di bawah
kolong meja setinggi pusar.
Beberapa ranting
kayu kering diraihnya. Dimasukkan ke dalam tungku. Disusun rapi, supaya lekas
menyala nantinya. Diletakkannya selembar plastik bekas pembungkus terigu di
tengah-tengah susuan kayu itu. Jres! Batang korek api beradu dengan salah satu sisi
pembungkusnya. Dan terlihat unggunan api kecil dalam tungku.
Sebelum adzan
subuh, dia harus menyelesaikan sepanci besar bubur putih. Merebus setidaknya
tiga macam sayuran untuk dijadikannya pecel. Tiga baskom tanggung berisi tahu,
adonan tepung, dan tempe
yang sudah dibelah-belah tipis terjejer rapi di atas meja. Dia harus menggoreng
semua itu menjadi aneka jajanan untuk mengisi warungnya. Sesaat setelah adzan
subuh berkumandang, beberapa pembeli akan berjejer menunggunya membuka pintu
warungnya.
“Ah…”, dengusnya
hampir tak terdengar.
Mengimbangi
persendiannya yang meregang. Setengah badannya terjulur ke kolong meja. Meraih
sebutir kelapa. Dibacoknya dengan sabit
dan ditariknya keluar. Dikulitinya. Dikupasnya. Hingga daging kelapa terangkat
dari tempurungnya. Tanpa suara. Hening. Hanya terdengan suara sabit yang beradu
dengan tempurung kelapa.
Gelap masih
bertahta. Bermahkota sunyi. Bersinggasana pekat. Hitam. Hening. Hanya
suara-suara binatang malam, menyanyikan tembang-tembang yang dicipta Sang
Pemilik Alam.
Dentang tiang
listrik terdengar lagi. Ditabuh tiga kali. Perempuan itu beranjak. Sandal jepit
yang beradu dengan tanah merangkai suara yang
berirama. Pelan, tapi jelas terdengar. Menuju ruang depan.
Klik. Tangan
rentanya menggapai saklar. Dan pendar lampu TL menerangi sosok renta yang
meringuk di atas tikar. Suaminya.
“Pak, sudah jam
tiga. Kelapanya belum diparut.”
Perempuan itu
melihatnya bangkit. Menatap pada jam dinding tua, memastikan kebenaran yang terucap
dari lisanya. Dia tahu betapa berat membuka matanya. Dia juga tahu, belum
begitu lama lelaki itu terlelap. Biasanya, lewat tengah malam lelaki itu baru
saja selesai merajang singkong rebus menjadi potongan-potongan kecil. Untuk
digiling dan kemudian ditumbuk menjadi getuk.
Sudah belasan
tahun, getuk bikinan suaminya dikenal enak oleh orang-orang kampungnya. Bahkan
tak jarang orang-orang dari kampung lain berdatangan untuk membeli getuknya.
Lembut, gurih dan halus.
Tapi itu dulu.
Sekarang ada yang berkurang dari getuknya. Badan suaminya yang sudah membungkuk
tak lagi kuat menumbuk getuk. Tugas itu sudah diambil alihnya. Setelah singkong
rebus itu dicincang kecil-kecil, kemudian digiling untuk mengurangi beban pekerjaan
menumbuknya.
Perempuan itu kembali
ke dapur, diikuti suaminya yang berjalan pelan dengan badan bungkuknya.
Memandang sebentar pada tampah yang terdiam di tengah hamparan tikar tipis.
Lengkap dengan parutan dan kelapa yang sudah dipotong-potong. Menunggu jamaha
tangan suaminya untuk kemudian pasrah menjadi serbuk-serbuk lembut. Untuk
dibuatnya menjadi santan.
Suara jangkrik
terdengar nyaring. Ditingkah satu-satu kokokan ayam jantan mulai terdengar. Suami
istri itu saling diam. Tanpa suara. Mereka tenggelam dalam kesibukan
masing-masing. Kesibukan yang sudah mereka jalani setiap pagi.
Suara kelapa
beradu dengan parutannya. Disela-sela gemeretak kayu bakar yang dilahap api.
Asap mengepul memenuhi ruangan dapur. Memimbulkan rasa sesak yang membuat perih
hidung. Menghambat helaan napas.
“Mbok pintunya
dibuka, biarkan asapnya keluar.”
Perempuan itu
membuka pintu, menuruti permintaan suaminya. Yang mulai terbatuk-batuk.
Asap mulai
menipis, meski tak hilang sama sekali. Cukup untuk mengurangi perih pada helaan
napas.
Kembali
tenggelam dalam kesibukan masing masing. Dalam diam. Tanpa banyak kata, dalam
satu tekat yang sama. Sebelum subuh semuanya harus usai. Bisa msenyajikan
hasilnya kepada para pelanggannya.
Kokok ayam
menguak pagi. Semburat merah telihat bagai helaian benang di ufuk timur. Mulai
terdengar langkah-langkah kaki. Suara sandal yang beradu dengan aspal.
Perempuan itu
bangkit dari duduknya. Di bangku kecil pendek yang disebutnya dingklik. Tegak,
meluruskan ruas-ruas tulang punggungnya. Menghela napas memenuhi rongga paru-parunya.
Dan mengeluarkannya kembali menjadi hembusan panjang.
Suaminya telah
beranjak beberapa saat. Menyusul jejak langkah kaki pemecah kesunyian pagi
lainnya. Sejurus terdengan percakapan mereka, dalam satu tujuan yang sama.
Musholla. Sebentar lagi muadzin akan mengumandangkan adzan subuh. Menyerukan
bahwa sholat itu lebih baik daripada tidur.
Perempuan itu
menebar pandanganya ke seantero meja dan balai balai yang ada di dekatnya.
Sepanci bubur putih, sebaskom pecel dari tiga macam sayuran, tempe goreng, tahu goreng isi, getuk, bakwan.
Semua tersusun rapi dalam baskom-baskom dan nampan-nampan yang sudah dia
siapkan. Semua dihapalnya dengan baik. Bagaimana tidak, menjemput pagi dengan
pekerjaan yang begitu banyak macamnya, telah dia lakukan setiap hari selama
belasan tahun.
Seiring suara
adzan yang membangunkan orang-orang yang sebagian besar tetap ndableg. Yang
justru semakin merapatkan selimutnya. Perempuan itu bergegas mengambil air
wudlu. Dia harus memanjatkan doa, agar tak ada sisa dari apa yang dimasaknya
bersamaan menjemput pagi. Terjual habis. Menjadi uang. Untuk kembali belanja
keperluan warungnya lagi esok hari. Dan sedikit sisa yang bisa dinikmatinya.
Semburat jingga
mewarnai langit timur pagi itu. Seperti pagi-pagi sebelumnya. Beberapa tampak orang-orang
berjalan kaki. Sebagian mereka bersepatu, sebagian lagi tanpa alas kaki.
“Buka warung
mbah!” sapa seseorang, yang hanya disambut anggukan kepala dan senyuman
khasnya. Memperlihatkan barisan gigi-gigi yang masih kokoh. Tak lagi putih
seperti iklan-iklan di televise. Tapi gading.
Sesaat kemudian,
orang-orang berdatangan mengerumuni warung kecilnya.
“Bubur pecel
pakai gorengan dua bungkus, mbah”, kata perempuan muda sambil menggendong
anaknya.
“Aku minta
dibungkusin gorengan sepuluh biji. Campur ya mbah”, kata perempuan lainnya.
“Mbah, getuk
kinca empat bungkus. Nanti saya ambil arah pulangnya ya”, seorang perempuan
yang tidak mau turun dari motornya berteriak. Kemudian melanjutkan
perjalanannya.
Perempuan
penjemput pagi itu sibuk dalam diam. Tak banyak bicara. Sesekali saja menyahuti
atau mengomentari cerita-cerita dari para pembelinya. Perempuan-perempuan yang
mencoba memenuhi kebutuhan sarapan keluarganya.
Warung kecil itu
jadi riuh rendah. Warung milik perempun penjemput pagi. Sebentar lagi motor
tukang sayur akan datang. Mangkal. Dan menjadi kerumunan berikutnya.
Kendal,
September, 04-2012
Catatan kecil ...... (beberapa tahun lalu - jilid 02)
INDAHNYA P E L A N G I
02062008
“Kulihat pelangi, dipagi hari ........
........ “
Ingat kan penggalan lagunya Koes Plus?
Tapi sore ini kulihat pelangi indah sekali.
Mungkin kamu akan berkata dalam hati
“ Ah, pelangi. Paling juga begitu saja”
Tapi pelangi yang terlihat sore ini benar-benar luar biasa.
Tidak hanya terhenti dicakrawala.
Tapi dia terus ke bawah melewati perbukitan yang hijau indah.
Pelangi tak berlatar belakang langit, tapi berlatar belakang hijaunya bukit.
Indahhhhhhhhhhh buwanget.
Dan ternyata ujung kaki pelangi itu ada di kali.
Mungkinkah ada bidadari yang sedang mandi?
Ngintip yuuuuuuuuuuk.......
KELANA
KELANA
Aku kehilanganmu
antara puing-puing kenangan waktu
terjajar rapi di sudut sudut benakku
warna warni
indah
bak pelangi penyambut jingga senja hari
Aku mencarimu
saat basah menutup hamparan rerumputan
dan desau angin menebar aroma kembang kembang liar
ku sendiri
susuri jalanan sepi bersemak mimpi
antara rimbun tak lagi teduh
kala surya membakar atas kepala
........................aku gelisah
Kelanaku tak pernah berujung
mencari tangis tengah malam
dan ceracau indah penghias mayapada
Aku sendiri
menyusur jalan tak bertepi
menggamitmu
adalah menunggu waktu yang terus melaju
Kendal, September, 28-2012
Kamis, 05 April 2012
Perempuan Beraroma Ilalang
Sinar matahari mulai terasa terik. Keringat mulai membasah. Membentuk butiran-butiran mengalir, berhenti di ujung hidung. Untuk kemudian menetes. Punggung baju mulai kuyup. Asap-asap mulai mengepul. Membubung mengejar ketinggian, untuk kemudian menyebar dan menghilang dibawa angin. Asap dari semak-semak kering yang dibakar. Terdengar suara-suara galah bambu dipukuli. Beberapa lelaki dari seberang sungai kecil yang megalir membelah padang semak-semak yang menghampar luas.
Para lelaki dan beberapa perempuan menyusuri jalan setapak. Meniti jembatan kecil yang terbuat dari potongan potongan kayu yang dipasang melintang diatas aliran sungai. Tak seberapa lebar. Hanya bisa dilewati satu orang. Mendaki tanjakan yang hanya beberapa puluh meter panjangnya. Dan melanjutka perjalanan mereka meuju perkampungan. Tempat sebagian dari mereka tinggal dalam rumah-rumah sederhana mereka.
Perempuan itu mulai mengumpulkan tumpukan ilalang yang usai dibabatnya. Dijejer berbaris rapi di atas batang-batang perdu yang juga usai dibabatnya sejak pagi. Terik matahari tak dirasakannya lagi. Aliran keringat yang membasah di dahinya hanya disekanya dengan selendang tuanya. Sejenak ia berdiri tegak. Kapalanya tengadah, beradu pandang dengan siluanya matahari. “Huuuuhhhhh,” suara hembusan napasnya ia tebar ke rimbunnya padang ilalang dan semak-semak yang ada di depannya.
“Pulang mbah”
Perempuan itu berbalik badan. Mencari arah datangnya suara. Seorang perempuan dari rombongan orang-orang yang baru saja mendaki tanjakan tersenyum padanya. Tampak sengal-sengal napasnya. Yang lain membuat hembusan napas panjang seakan serempak.
“Iya, sebentar lagi. Kalian jalan saja dulu. Nanti aku menyusul.”
Perempuan itu kembali menghampiri ilalang yang masih teronggok di beberapa tempat. Dikumpulkan jadi satu. Kemudian kembali dijejer di bawah sinar matahari.
Suara adzan terdengar samar dari kampung yang ada di sebelah utara. Perempuan itu berangsur, menuju perdu yang masih berdiri dan memberikan tempat berteduh di bawah bayang-bayang dedaunannya. Ia menyusun beberapa rumput kering. Dihamparnya untuk tempatnya duduk. Sejenak melepaskan kelelahannya. Matanya menyapu hamparan perdu yang telah rata dengan tanah. Sejuruh matanya mengamati jajaran ilalang yang dihamparnya. Mulai layu.
Perempuan itu bangkit dari duduknya. Meraih sabit yang ada di samping kanannya. Dibabatnya sekelompok perdu di sekitar tempatnya duduk. Terhenti di satu perdu yang bercabang banyak. Dipangkasnya beberapa cabang, disisakannya dua cabang yang dirasanya kuat dan mengarah ke atas. Perdu itu jaraknya tak begitu jauh dari perdu tempatnya duduk tadi.
Dipilihnya beberapa batang cabang perdu sepanjang sedepa. Dibersihkan dari beberapa rantingnya. Disusunnya batang-batang perdu itu memanjang. Menghubungkan dua batang perdu tempatnya berteduh tadi dengan pohon perdu yang baru saja dibersihkannya. Jadilah lorong diantara dua batang perdu itu. Beratap ilalang. Perempuan itu memggelar karung rami dibawahnya. Melanjutkan istirahatnya. Menikmati semilir angin yang gemerisik, bermain di sela-sela dedaunan. Sebentar-sebentar matanya menyipit, merasakan hembusan angin yang mengantar kantuknya. Mengusir terik matahari yang menyengat dan membekaskan warna yang menghitam di kulitnya.
Pikirannya menerawang. Merangkai satu impian tentang keindahan di benaknya. Tentang tanaman jagung yang daunnya hijau segar dan berbuah tongkol-tongkol perkasa. Berwarna kuning dan dan berbiji padat. Atau tentang barisan batang-batang singkong di sepanjang batas ladangnya. Yang membatasi ladang miliknya dengan ladang milik orang lain. Atau membatasi tanaman jagung dengan tanaman kacang tanahnya di ladangnya sendiri. Senyum lelah itu merekah karenanya.
Beberapa jengkal, matahari bergeser ke barat. Meninggalkan jejak bayangan yang berubah arah. Dirapatkannya bunguksan nasi yang baru dihabiskan separuhnya. Di bawanya dari rumah, untuk bekal sampai sore nanti. Ia tak mengikuti peladang-peladang lainnya. Pulang menjelang tengah hari dan kembali ke ladang saat terik tak lagi menyengat. Perjalanannya cukup melekahkan. Yang penting telak dimasaknya untuk suami dan empat anaknya.
Sulungnya, bocah lelaki itu paham betul akan kewajibannya terhadap adik-adiknya. Sedang suaminya, bukanlah golongan priyayi yang mesti dilayani dan disediakan segala keperluannya. Hanya seorang tukang besi yang lebih sering melewatkan waktu makan siangnya. Termos air panas yang penuh, gula pasir dan kopi bubuk cukup menjadi pengisi perunya di siang bolong. Berteman rokok dari tembakau, cengkih dan kertas sigaret yang dilintingnya sendiri.
“Lho, nggak pulang to mbah?”
Seorang perempuan muda yang berjalan di belakang suaminya berhenti sejenak. Membiarkan suaminya terus berjalan menuruni jalan menuju sungai. Meniti jembatan dan kemudian mendaki tanjakan dan berbelok menuju ladangnya sendiri. Tinggal beberapa rumpun semak-semak yang masih harus dibabat.
“Besok sudah bisa dibakar mbah. Apalagi hari ini panasnya cukup membuatnya layu. Tak usah menunggu kering,” matanya menyapu tumpukan semak-semak yang telah terbabat.
Perempuan itu hanya tersenyum, sambil tetap mengumpulkan semak-semak dan rerumputan yang telah dibabatnya. Dikumpulkan menjadi beberapa kelompok. Terpisah jauh dari kumpulan ilalang yang telah di susunnya dengan rapi.
Beberapa orang kemudian bermunculan. Mereka kembali ke ladang masing-masing setelah melewatkan waktu istirahat di rumah. Beberapa menyempatkan untuk sekedar bertegur sapa. Beberapa juga terlibat obrolan yang tak begitu lama.
Matahari semakin condong ke barat, membuat bayang-bayang badannya semakin memanjang ke arah timur. Perempuan itu berdiri tegak. Menandang beberapa rumpun ilalang beberapa depa di depannya. Pikirannya mengukur semak-semak yang masih harus dibabatnya.
“Ah sore nanti semua akan terbabat habis,” pikirnya memberi keyakinkan pada dirinya sendiri.
Hari itu adalah hari ke empat sejak ia mengawali perkejaannya sebagai peladang. Mengawali membabat semak-semak dari ujung timur lahan ladangnya. Ia temasuk beruntung, ladangnya ada di medan tanah yang datar. Sementara banyak peladang lain yang mengeluhkan ladang mereka yang merada di medan tanah yang miring dan bergelombang, naik turun.
Matahari semakin jauh ke barat. Sementara baying-bayang semakin jauh memanjang. Rumpun terakhir terbabat sudah. Tersisa onggokan-onggokan perdu dan semak-semak rerumputan yang lusuh, berserakan di hamparan tanah sedikit lembab. Perempuan itu menghampiri penduh yang dibuatnya sendiri siang tadi. Mengemasi sabit dan keranjang kecil. Kemuian ikut berbaur bersama rombongan peladang lain, kembali ke rumah masing-masing.
Matahari menyorotkan sinarnya dengan leluasa. Tanpa penghalang yang berarti. Hampir semua semak dan perdu terbabat habis. Berganti dengan kepulan asap asap tebal di sana-sini. Para peladang hampir serempak membakar rerumputan dan perdu-perdu yang mulai mengering.
Terdengar teriakan saling bersahut-sahutan. Begitulah mereka bercakap-cakap dari lahan ladang masing-masing.
“Rampung mbah?” Teriak lelaki dari tetangga ladang sebelah barat. Perempuan itu memandang tegak. Dahinya mengkerut, mencari sumber suara.
“Rampung.” Jawabnya singkat. Tanganya masih sibuk menyimpul tali dari ilalang. Menyambung dua batang kayu untuk tiang dan atap gubuknya. Sebelum tengah hari nanti, ia ingin gubuknya selesai. Bisa dipakainya untuk berteduh. Ilalang-ilalang yang telah layupun selesai dipilihnya, untuk dibuat atap dan sekedar dinding penahan angin. Jika gubuk itu sudah jadi, ia baru mengijinkan anak-anaknya ikut pergi ke ladang. Seperti anak-anak peladang yang lain.
Sejengkal lagi matahari tepat berada di atas bumi. Ikatan terakhir diselesaikannya. Menandai rampungnya pemasangan atap ilalang di atas gubuknya. Disusunnya ilalang-ilalang yang tersisa sebagai lantai. Iapun terduduk dibawah gubuk yang baru saja diselesaikannya. Menarik napas panjang. Matanya berkeliling memandangi tumpukan perdu yang perlahan habis terbakar. Menyisakan abu yang beterbangan mengikuti gejolak angin.
Samar-samar dari balik asap yang meliuk-liuk dimainkan angin, dua sosok kecil berlarian sambil berteriak memanggil namanya.
“Maaaakkkkkk” suaranya samar. Beradu dengan gemeretak kayu-kayu perdu yang terbakar.
“Tadi aku nanya orang yang yang disana, letak ladangnya emak” si sulung menjelaskan. Sambil tangannya menunjuk ke sosok yang lelaki yang tampak sedang bersiap untuk pulang.
“Mak tidak pulang? Itu orang-orang pada pulang mak” tanya adik perempuan si suung. Ia tak menjawab, hanya mendorong punggung anaknya untuk segera masuk ke gubuk. Dibukanya selendang yang menutup keranjangnya. Bekal nasi, tumis kangkung dan ikan asin bakar disodorkannya kepada kedua anaknya yang duduk bersila di lantai gubuk.
Dipandanginya kedua anaknya yang lahap makan. Dibiarkannya pikirannya mengembara dengan berbagai pertanyaan yang ia coba cari sendiri jawabnya. Hari ini semua perdu telah terbabat dan terbakar habis. Besok harus mulai mencangkul. Kemudian menanam benih, memupuk, menyiangi gulma. Ah, mampukan ia kerjakan sendiri? Bahkan benih apa yang akan ditanampun, dia belum tahu.
Ia tak pernah iri dengan peladang lain yang bisa mengerjakan ladangnya bersama. Suami dan istri. Suaminya bukan tak mau diajaknya berladang. Tapi lebih mencintai pekerjaannya sebagai tukang besi. Di musim ladang seperti sekarang ini, pekerjaannya hampir tak pernah sepi. Entah petani yang memperbaiki cangkul, sabit atau apapun peralatan mereka. Meski pekerjaannya dihargai sangat murah.
Ia juga yang awalnya bersikeras ingin berladang. Seperti orang-orang lain di kampungnya. Punya hasil panen. Ia juga yang bertekat untuk bisa menyelesaikan semuanya sendiri. Dan sore ini, seperti juga peladang yang lain. Ia telah selesai membabat seluruh semak-semak menjadi lahan yang siap untuk dicangkul. Besok pagi, ia harus menyiapkan raganya untuk mencangkul tanah yang masih setengah lembab itu.
“Tanami jagung saja mbah. Bibit tak usah dipikir, nanti bisa ngutang di kelompok tani. Dibayar setelah panen. Pupuk juga begitu” kata lelaki yang ladangnya bersebelahan. Sore itu, mereka bersiap pulang meninggalkan ladang. Kedua anaknya sudah berjalan di depan. Sambil berlari-lari kecil dan bersendau gurau dengan teman sebayanya. Anak-anak peladang lain yang juga menyusul orang tua mereka selepas sekolah.
Senja mulai menapak. Perempuan itu memasuki pekarangan rumahnya. Ada warna cerah di rona wajahnya. Setidaknya satu permasalahan teratasi. Tinggal menyiapkan segenap raganya, sampai masa itu datang. Masa tanam.
Indramayu, 01 April 2012
Langganan:
Postingan (Atom)





